Showing posts with label tentang anak. Show all posts
Showing posts with label tentang anak. Show all posts

Wednesday, April 19, 2017

Tips Memilih Sekolah Terbaik Buat Anak


Banyak pilihan sekolah yang ada saat ini mulai dari sekolah milik negeri, sekolah berbasis agama, sekolah internasional atau sekolah dengan pola khusus seperti sekolah alam.Tapi Anda harus cermat untuk memilih sekolah mana yang bagus untuk si kecil, karena sekolah juga menentukan masa depan dan perilakunya.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih sekolah TK dan SD yang baik untuk anak. Yang terpenting kata pakar dan praktisi pendidikan anak Arif Rachman, dalam sekolah tersebut terdapat sentral bermain anak untuk mengembangkan 5 hal penting, yaitu spiritual, emosional, jasmani, intelektual, dan sosialnya, yang dikemas dalam kegiatan belajar mengajarnya.

Dalam memilih sekolah sebaiknya pilihlah sekolah yang tertib, teratur dan bersih, karena lingkungan sekitar sekolah juga mempengaruhi proses belajar mengajar anak-anak. 

Lingkungan yang tidak kondusif bisa merusak konsentrasi anak ketika sedang belajar. Serta pastikan bahwa sekolah tersebut mempunyai visi dan misi yang tidak melanggar Undang-Undang Pendidikan.

Selain lingkungan serta visi dan misi sekolah tersebut, hal yang penting untuk diperhatikan adalah guru-guru dari sekolah tersebut.

"Untuk guru TK sebaiknya telah mendapatkan pendidikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sedangkan untuk sekolah dasar sebaiknya memiliki pendidikan minimal S1 dan untuk guru kelas 1,2, dan 3 yang mengajar semua mata pelajaran sebaiknya juga mendapatkan pendidikan PAUD," ujar Arif .

Beberapa tips memilih sekolah yang baik untuk anak: 
  • Untuk memilih sekolah dasar bisa dilihat dari output yang dihasilkan. Seperti berapa banyak lulusan sekolah dasar tersebut yang bisa masuk ke SMP unggulan. Karena banyaknya lulusan yang bisa masuk sekolah unggulan berarti sekolah tersebut mempunyai sistem pembelajaran yang bagus. 
  • Untuk memilih taman kanak-kanak pilihlah TK yang mempunyai sistem belajar yang baik dalam hal belajar menulis, membaca dan sosial. 
  • Sebelum masuk taman kanak-kanak tidak ada salahnya memasukkan anak anda ke PAUD. Karena di PAUD anak Anda bisa belajar bersosialisasi dengan teman-temannya, diajarkan bernyanyi, menulis dan membaca. Dan PAUD memberikan kegiatan yang positif untuk anak. 
  • Anak-anak SD sebaiknya diberikan kegiatan intra, ekstra dan co-kurikuler yang seimbang, sehingga didapatkan kemampuan intelektual dan sosial yang seimbang. 
  • Sedangkan untuk TK pilihlah TK dengan metode bermain sambil belajar dibandingkan dengan program belajar secara klasik. 

"Untuk memilih sekolah TK dan SD, pilihlah sekolah yang memiliki jarak tidak terlalu jauh dengan rumah, sehingga anak masih mempunyai waktu yang cukup untuk berkumpul dengan keluarga, dan bermain dengan orang tua, untuk orang tua yang sibuk pastikan bahwa pengasuh anak kita mempunyai pendidikan yang baik," jelas Arif.

Yang tak kalah penting dibutuhkan kerjasama yang baik antara guru di sekolah dengan orang tua dirumah dan juga dengan pengasuhnya. Tujuannya agar apa yang sudah diajarkan di sekolah bisa tetap dilanjutkan dirumah, sehingga anak bisa memiliki intelektual, emosional, spiritual, jasmani dan sosial yang bagus.


Thank you for reading Tips Memilih Sekolah Terbaik Buat Anak

Jauhkan Junk Food Dari Anak Anda!!




Tak hanya kesehatan anak yang dapat terganggu karena terlalu banyak memakan makanan cepat saji atau junk food. Prestasi anak di sekolah juga dapat menurun. Sebuah penelitian membuktikannya.

Penelitian itu dilakukan dengan melakukan survei terhadap 5.000 siswa dan siswi sekolah dasar di Amerika Serikat. Penelitian yang dikutip dari Telegraph, itu membuktikan bahwa adanya hubungan pola makan yang tidak sehat dengan menurunnya kemampuan akademik siswa dan siswi tersebut.

Digambarkan bahwa rata-rata anak makan di restoran cepat saji tiga kali dalam seminggu. Saat diteliti lebih jauh, kemampuan membaca dan matematika mereka rata-rata bernilai 141.5 poin. 

Sedangkan para siswa yang makan di restoran cepat saji empat sampai lima kali, mendapat nilah lebih rendah 7 poin.

Yang paling parah, anak-anak yang menyantap makanan cepat saji satu kali sehari bisa mengalami kemerosotan nilai hingga 16 poin dan yang tiga kali sehari sebanyak 19 poin.

Para ahli menemukan bahwa makanan-makanan yang ada di restoran cepat saji, jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak akan menimbulkan gangguan kognitif pada anak. 

Gangguan itulah kemudian mempengaruhi kemampuannya dalam menyerap ilmu di sekolah. 

Thank you for reading Jauhkan Junk Food Dari Anak Anda!!

Hari Pertama Sekolah : Persiapan Mental Anak


Tak terasa si buah hati sudah tumbuh besar dan tiba waktunya untuk belajar di sekolah demi masa depannya. Padahal rasanya baru kemarin ia belajar merangkak dan berbicara. 

Perilaku anak menyambut hari pertamanya di sekolah memang berbeda-beda. Ada yang semangat dan girang, namun ada juga yang takut, rewel, malas atau malu. Sikap tersebut sangatlah wajar, terutama karena mereka dihadapkan dengan dunia baru yang masih asing bagi mereka.

Disinilah peran Anda sebagai orang tua diperlukan. Charles E. Schaefer, Ph.D. dari Pusat Pelayanan Psikologi Farleigh Dickinson University pun memberikan beberapa tips yang akan membantu Anda menyemangati si buah hati dalam melawan rasa khawatir dan cemasnya, seperti dikutip dari mykidsbookbee.

1. Beri penjelasan tentang sekolah

Beberapa anak sering merasa cemas dan takut yang berlebihan menjelang hari pertamanya di sekolah. Sebenarnya mereka hanya butuh penjelasan dan pengertian. Ceritakanlah hal-hal yang akan dia temui di sekolah. Katakan padanya bahwa belajar itu menyenangkan, guru-gurunya baik, ruangan kelasnya nyaman, dan banyak teman baru yang akan ia dapatkan.

2. Ceritakan kegiatan seru di sekolah

Sekolah baru sama artinya dengan planet asing bagi anak-anak. Mereka hanya belum mencobanya, yang harus Anda lakukan adalah menceritakan dengan spesifik betapa serunya kegiatan di sekolah. Usahakan mengatakan kalimat semenarik mungkin, jangan katakan kalimat umum seperti "Kamu akan belajar dan banyak main di sekolah".

Jelaskanlah lebih rinci seperti, "Sekolah sangat seru dan menyenangkan. Semua anak akan masuk kelas, meletakkan tasnya di tempatnya masing-masing, lalu guru akan menjelaskan pelajaran seperti membaca, berhitung, bernyanyi dan kamu juga akan bermain bersama teman-teman".

3. Jangan katakan waktu padanya

Anak-anak belum bisa mengerti pentingnya belajar, yang mereka tahu hanyalah bermain. Ketika mulai masuk kelas, mereka pun menanyakan kapan dijemput atau kapan sekolah akan berakhir.

Untuk menjawabnya, sebaiknya hindari mengatakan waktu yang harus dia tempuh untuk belajar di kelas, seperti "Ibu akan menjemputmu 3 jam lagi", atau bahkan "Kamu akan berada di sini sebentar saja". Perkataan seperti itu cukup menakutkan bagi mereka.

Lebih baik katakan yang sebenarnya tanpa menyebutkan berapa lama waktunya di kelas, seperti "Kamu akan senang bersama teman-temanmu sampai-sampai tak terasa ibu datang untuk menjemputmu lagi".

4. Informasikan keberadaan Anda

Saat memasuki kelas dan berpisah dengan orang tua yang mengantar adalah saat yang sulit bagi anak-anak. Mereka sering cemas dan membayangkan dirinya dalam bahaya karena ayah-ibunya tak ada.

Sebagian anak lainnya justru mencemaskan keselamatan orangtuanya. Untuk itu orangtua perlu menjelaskan keberadaan dirinya setelah selesai mengantar anak. Beri dia informasi yang detail seperti, "Ayah akan pergi ke kantor setelah mengantarkanmu ke sekolah" atau "Ibu akan pergi ke pasar untuk belanja".

5. Berikan dorongan positif

Seorang anak yang ketakutan akan mengekspresikan ketakutannya dengan berbagai perilaku, seperti mengisap jempol, ngompol, merengek-rengek, cemberut, marah tanpa sebab, atau mungkin menarik diri dari lingkungan.

Menyikapi perilaku seperti itu, sebaiknya tahan emosi Anda. Jangan mengatakan, "Kamu tidak boleh ngompol lagi, gurumu dan teman-temanmu pasti tidak suka dengan kebiasanmu itu".

Yang ia butuhkan hanyalah dorongan positif dan kata-kata yang menenteramkan, seperti "Ibu tahu kalau kamu tidak akan mengisap jempolmu lagi, kamu kan sudah besar."

Nah, sudah siap kan mengantarnya sekolah?


Thank you for reading Hari Pertama Sekolah : Persiapan Mental Anak

Monday, April 17, 2017

Menghentikan Kebiasaan Anak Minum Dari Botol

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.


Membiasakan bayi minum dari botol ternyata berakibat buruk bagi kesehatannya. Ketergantungan pada botol akan membuat bayi minum susu lebih banyak ketimbang yang tidak minum dari botol.

Sebuah studi terhadap hampir 7.000 anak-anak, menyatakan 30 persen dari mereka yang masih ditidurkan dengan botol susu pada usia dua tahun cenderung menjadi gemuk saat berusia lima tahun. Akademisi percaya bahwa bayi tersebut meminum susu tinggi kalori yang setara dengan makanan yang menggemukkan.

Para akademisi pun mengatakan bahwa dokter dan orang tua harus menghentikan bayi yang ketergantungan pada botol susu sejak mereka berusia satu tahun. Kenapa?

"Anak perempuan berusia 24 bulan dengan tinggi dan berat badan normal, yang diberi susu sebelum tidur sebanyak 250 ml akan mendapatkan kurang lebih 12 persen kalori yang dibutuhkan per harinya," ujar Rachel Gooze dari Pusat Penelitian dan Pendidikan Obesitas, Temple University, Philadelphia.

Memang tidak mudah untuk membuat bayi lepas dari botol susunya dan minum langsung dari gelas. Proses ini bisa memakan waktu lama dan membutuhkan kesabaran Anda. Para ahli menyarankan, pengenalan pada gelas ini sebaiknya dilakukan saat bayi berusia enam bulan. Sebagai langkah awal, cobalah untuk memberikan minum dengan gelas sehabis makan, tapi jangan terlalu memaksa bayi untuk menggunakannya.

Gelas yang dipakai pun bertahap, mulai dari gelas dengan corong pada bagian mulut, baru ke gelas tanpa corong (gelas biasa). Akan lebih mudah jika Anda duduk di samping bayi agar dapat membersihkan susu yang tumpah dari gelas secepatnya.

Gelas dengan dua gagang dan memiliki corong pada bagian mulut akan mempermudah bayi belajar menggunakan gelas. Corong pada gelas tersebut dapat meminimalisir air yang tumpah saat bayi sedang minum.

Sayangnya terdapat kontradiksi yang diungkapkan dokter gigi terkait penggunaan gelas dengan corong. Mereka menganggap gelas dengan corong tersebut dapat merusak pertumbuhan gigi pada bayi. Jadi disarankan, langsung saja ajari bayi minum dari gelas yang terbuka. Ada juga gelas terbuka dengan ujung yang bisa memudahkan bayi minum.

Wassalam
Thank you for reading Menghentikan Kebiasaan Anak Minum Dari Botol

Balita Juga Bisa Disiplin Lo, Ini Tipsnya?

Assalamualikum wr wb, salam cerdas kreatif.


Saat si kecil memasuki usia balita, dia bisa menjadi sangat sulit untuk ditangani. Anak mulai susah diajak mandi atau makan. Dia bisa tiba-tiba marah dan menangis kencang saat keinginannya tidak dituruti, dan masih banyak masalah lainnya.

Masa balita bisa jadi saat yang sulit sekaligus menyenangkan untuk orangtua. Di usia ini, anak mulai menunjukkan berbagai kepintarannya. Namun di sisi lain, dia juga mulai terlihat mandiri. Hambatannya adalah, mereka masih memiliki kemampuan terbatas dalam berkomunikasi dan memahami sesuatu.

"Mereka (anak-anak berusia balita) mengerti kalau mereka bisa melakukan sesuatu," ujar Spesialis Perkembangan Anak, Claire Lerner.

"Hal ini pun membuat mereka ingin menunjukkan pada dunia dan menegaskan pada diri mereka sendiri dengan cara yang baru, bukan bayi lagi. Namun masalahnya mereka memiliki kontrol diri yang kurang dan belum berpikir rasional," urai Lerner.

Dengan segala kombinasi cara berpikir dan tingkah laku itu, bukan tidak mungkin Anda kerap merasa hilang akal menghadapi si kecil. Apalagi jika kata-kata yang sering diucapkannya adalah 'tidak'.

Jadi, adakah solusi agar mengurus si balita menjadi lebih mudah? Berikut ini beberapa cara mudah mendisiplinkan si kecil:

1. Konsisten

Perintah dan rutinitas membuat si kecil merasa memiliki tempat perlindungan dari dunia yang mereka lihat tidak dapat diprediksi," ujar Lerner. "Saat ada sesuatu yang sudah bisa diprediksi dan dilakukan dengan rutin, ini membuat anak merasa lebih nyaman dan aman. Mereka pun jadi lebih bersikap manis dan tenang karena tahu apa yang akan terjadi," tambahnya.

Sesuai dengan saran Lerner tersebut, cobalah untuk melakukan segala kegiatan si kecil sesuai jadwal, setiap hari. Artinya Anda harus memiliki waktu tidur siang, makan dan tidur malam yang konsisten. Begitu juga konsisten kapan waktu dia bisa bermain.

Jika Anda hendak membuat perubahan, misalnya saat Anda harus pergi ke luar kota, katakan padanya sejak jauh-jauh hari. Persiapkan anak menghadapi hal ini agar mereka tidak terlalu kaget pada perubahan tersebut.

Konsistensi juga penting dalam hal disiplin. Contohnya saat Anda mengatakan 'tidak boleh memukul', saat si kecil untuk pertama kalinya memukul anak lain di taman bermain, Anda harus terus mengatakan hal yang sama, jika ia melakukannya untuk kedua atau ketiga kalinya.

2. Hindari Situasi yang Membuat Stres atau Marah

Saat si kecil mulai menginjak usia balita, Anda sebaiknya meluangkan waktu untuk memahami apa saja yang membuatnya marah. Biasanya adalah karena mereka lapar, mengantuk dan perubahan mendadak.

Dengan melakukan perencanaan, Anda sebenarnya bisa menghindari kemarahannya ini dan membuatnya tetap tenang. "Misalnya saja, Anda jangan pergi ke supermarket di waktu anak seharusnya tidur siang, jika tidak mau anak tiba-tiba marah-marah," ujar dr. Lisa Asta, dokter anak di California yang juga asisten professor di Universitas California.

3. Berpikirlah Seperti Anak Balita

Anak balita belum bisa memahami segala sesuatunya apa adanya. Misalnya saja soal bagaimana harus bersikap dengan benar dan sesuai aturan. Jadi saat menghadapi si kecil, cobalah melihat dari perspektif anak untuk mencegah dia tantrum.

"Anda bisa bilang, ibu tahu, kamu tidak suka mandi, tapi kamu harus melakukannya," ujar Lerner. "Ucapan itu membuatnya tidak terintimidasi. Kita seolah memahami perasaannya," tambahnya.

Memberikan anak pilihan juga bisa Anda lakukan untuk menunjukkan kalau Anda menghargainya dan memahami perasaannya. Misalnya saja, saat anak tidak mau memakai sepatu, tanyakan saja padanya sepatu warna apa yang mau ia pakai, merah atau biru. Dengan memiliki pilihan, anak merasa mereka memiliki kontrol terhadap situasi yang sedang dialami.

4. Belajar Bagaimana Mengalihkan Perhatian

Saat si kecil sudah lebih dari 10 kali melempar bola ke dinding ruang tamu dan dia tidak berhenti meskipun Anda sudah menyuruhnya, inilah saatnya Anda mengalihkan perhatiannya ke hal lain. Anda juga bisa mencoba mengajaknya bermain di luar.

"Orangtua sebaiknya menciptakan lingkungan yang bisa kondusif untuk perilaku balita," saran Rex Forehand, PhD, Professor Psikologi di University of Vermont dan penulis buku 'Parenting the Strong-Willed Child'.

"Jika mereka melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan (seperti bermain bola di ruang tamu), Anda seharusnya bukan melarangnya, tapi coba cari aktivitas lain," tambah Rex.

5. Berikan Anak Time Out

Time out merupakan salah satu fondasi untuk membangun disiplin anak. Meskipun cara ini sebenarnya belum bisa benar-benar diterapkan saat anak berusia balita. Akan ada implikasi negatif jika Anda memberikan anak balita time out terlalu lama. Anak akan merasa mereka nakal. Padahal sebenarnya Anda ingin mengajarkannya bersikap yang baik.

Jika Anda memberikan si kecil time out, batasi waktunya hanya 1-2 menit. Jangan juga katakan pada anak kalau itu adalah time out karena anak di bawah tiga tahun belum memahaminya. Gunakan kalimat yang lebih positif untuk menyebut time out.

Lerner menyarankan buat tempat yang nyaman untuk anak sehingga dia bisa tenang. Perbaiki sikapnya yang tidak baik, namun jangan lupa juga untuk memberikan pujian atas sikap baiknya.

"Jika Anda tidak memberikan pujian saat anak bersikap baik, terkadang mereka akan melakukan hal buruk hanya untuk mendapatkan perhatian," tambah Asta. Kalau Anda memuji anak atas perbuatan baiknya, kemungkinan besar anak mau melakukannya lagi.

6. Tetap Tenang

Saat si kecil mengalami tantrum di mall, Anda sudah pasti berusaha menghindari tatapan orang yang lewat. Saat itu Anda pasti akan dengan mudah tersulut emosi dan memarahinya. Merasa tetap tenang memang sulit, namun dengan kehilangan kontrol diri, bisa membuat situasi semakin panas dan Anda pun stres.

Coba tarik napas sejenak dan dinginkan kepala. "Kemarahan malah akan membuat Anda lebih buruk dan merasa bersalah. Hal itu juga tidak akan berdampak baik pada anak," saran Forehand.

Sedangkan Lerner menyarankan, jangan tunjukkan emosi Anda saat si kecil mengamuk. Bersikaplah seperti tidak ada yang terjadi. "Diamkan saja sikap anak. Saat anak tahu kalau teriakannya tidak menarik perhatian Anda, dia akhirnya akan lelah berteriak," tuturnya.

Semoga bermanfaat, wassalam.
Thank you for reading Balita Juga Bisa Disiplin Lo, Ini Tipsnya?

Sunday, April 16, 2017

Yuk, Ajak Agar Si Kecil Suka Menabung Dan Berbagi

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.


Mengajarkan anak untuk menabung dan berbagi tentu tidak mudah. Apalagi jika anak merasa uang (saku, pemberian atau angpau) yang didapatnya itu adalah haknya. Ia tentu ingin menggunakan uang tersebut sesuai keinginannya seperti membeli mainan favoritnya.

Namun bukan berarti tidak ada solusi untuk mulai mengajarkan si kecil menabung. Anak akan paham kegunaan menabung jika Anda bisa memberitahukannya bahwa aktivitas itu punya manfaat besar.

Berikut ini beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengajarkannya menabung dan berbagi:

1. Kenalkan Uang secara Bijak

Begitu anak sudah bisa menghitung, perkenalkan mereka pada uang. Beri anak sebanyak mungkin informasi yang ingin diketahuinya. Perhatikan dan ulangi, itulah cara terbaik untuk membuat anak belajar.

2. Belikan anak celengan atau buatkan mereka rekening di tabungan. 

Cara kedua ini sepertinya berlaku jika anak sudah berusia cukup besar. Untuk anak-anak yang masih berusia pra sekolah dan taman kanak-kanak, Anda bisa mulai mengajarinya menaruh uang di celengan.

3. Minta Anak Membuat Daftar Keinginan

Dengan adanya daftar keinginannya itu anak bisa lebih termotivasi untuk menabung. Buat anak paham ada cara yang menyenangkan untuk menghabiskan uangnya itu dengan daftar keinginan tersebut.

4. Buat Gambar

Kalau anak menabung untuk membeli suatu benda yang spesial, tidak ada salahnya Anda memintanya menaruh gambar benda tersebut di kamarnya. Gantung gambar benda itu agar dia selalu ingat dari tujuannya menabung.

5. Beri Contoh

Tentu saja sebagai orangtua Anda pun harus memberinya contoh soal aktivitas menabung ini. Anda perlu punya celengan sendiri, dan mengajak anak ke bank saat Anda akan menabung. Ketika melakukannya, jelaskan pada anak tujuan Anda menabung. Dengan memberikan contoh ini, anak pun bisa belajar dari orangtuanya.

6. Ingatkan Anak

Pada beberapa anak, mereka bisa jadi terlalu fokus menabung, hingga tidak mau mengeluarkan uangnya untuk apapun. Jika hal itu terjadi, ingatkan dan bantu mereka untuk kembali menikmati uangnya misalnya membeli benda-benda kecil. Anda juga bisa mengejutkannya dengan membelikannya sesuatu yang ia suka.

7. Ajarkan Berbagi

Selain menabung, jangan lupa juga untuk mengajarkan anak berbagi sejak kecil. Saat Anda memberikan zakat atau menyumbangkan uang ke panti asuhan misalnya, Anda bisa mengajaknya. Dari uangnya itu, minta anak menyisihkannya untuk diberikan pada mereka yang kurang beruntung.

Semoga bermanfaat, wassalam.
Thank you for reading Yuk, Ajak Agar Si Kecil Suka Menabung Dan Berbagi

Dampak Positif Dan Negatif TV Pada Anak

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.


Tidak bisa dipungkiri televisi saat ini jadi bagian hidup sehari-hari anak. Bahkan ada orangtua yang sampai menjadikan televisi sebagai baby sitter anak.

Kalau hal di atas Anda lakukan, tentu akan membahayakan untuk anak. Menurut psikolog anak Vera Itabiliana, terlalu banyak menonton televisi bisa mempengaruhi daya konsentrasi anak. Menonton televisi lebih dari empat jam sehari juga cenderung membuat anak mengalami obesitas. Gara-gara televisi, anak juga bisa menjadi konsumtif.

"Malah sebuah penelitian di Indonesia membuktikan, 54% anak lebih suka nonton TV daripada main sama ayahnya," ujar Vera dalam talkshow 'Memanfaatkan Program Televisi untuk Kegiatan Home Schooling' yang digelar oleh KidZania dan Indovision di KidZania Pacific Place, Jakarta Selatan, Jumat (7/10/11).

Terlepas dari dampak buruknya, tetap saja televisi tidak bisa dilepaskan dari keseharian anak dan orangtuanya. Televisi pun tak melulu berefek buruk pada anak asalkan orangtua bisa bersikap bijak.

Vera menjelaskan beberapa manfaat dari menonton televisi di antaranya:
  • Meningkatkan kosakata anak
  • Anak bisa belajar banyak hal baru
  • Meningkatkan minat anak pada hal baru
  • Memiliki ikatan dengan tokoh atau acara yang ditonton
  • Menciptakan momen kebersamaan keluarga.

Melihat manfaat di atas, tidak ada salahnya jika orangtua menjadikan televisi sebagai sahabat untuk anak. Namun ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi dampak buruk televisi dan memaksimalkan manfaatnya, seperti dijelaskan oleh Vera:
  1. Perhatikan penempatan televisi. Jangan berikan anak televisi khusus di kamarnya. Taruh televisi di tempat yang anak tetap bisa diawasi dan didampingi saat menonton.
  2. Batasi waktu anak menonton televisi, cukup 1-2 jam sehari.
  3. Dampingi anak saat menonton televisi
  4. Seleksi acara yang ditontonnya
  5. Seleksi perannya. Jangan sampai Anda malah menjadikan televisi sebagai babysitter.
  6. Pastikan selalu ada alternatif kegiatan selain menonton televisi. Misalnya saja, bermain sepeda, puzzle, berkebun, dan lain-lain.
  7. Orangtua harus memberi contoh pada anak. Contohnya, ketika baru pulang kerja, jangan langsung duduk di depan televisi berjam-jam.

Thank you for reading Dampak Positif Dan Negatif TV Pada Anak

6 Hal Penting, Sebelum Membeli Kereta Dorong Bayi

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.


Kereta dorong bayi atau stroller bisa memberi Anda kemudahan saat berjalan-jalan bersama si buah hati. Selain tidak perlu kesulitan untuk selalu menggendong bayi, perjalanan juga akan lebih santai dan menyenangkan.

Manfaat lain menggunakan stroller adalah bayi Anda tidak akan lelah akibat terlalu sering digendong. Ketika ia mengantuk pun, ia bisa dengan tertidur pulas di bantalan kereta dorong tersebut. Namun Anda harus cermat memilih stroller demi kenyamanan Anda maupun si bayi. Sebelum membelinya, perhatikan dulu tips memilih stroller, seperti yang dikutip dari All Women Stalk.

1. Prioritaskan Keamanan

Utamakan keamanan saat membeli stroller bayi. Sebaik apa stroller tersebut dirancang untuk kemanan dan kenyamanan bayi saat berada di atasnya. Stroller yang aman, biasanya memiliki tiga tali harness, namun sebaiknya pilih dengan lima harness untuk menjamin keamanannya.

Pastikan kursi kereta dorongnya pas dengan tubuh bayi Anda, jangan pilih yang terlalu rendah, untuk menghindari terkena debu dan kotoran dari permukaan lantai. Cek juga kelengkapan rem pada bagian roda, agar tidak membahayakan si kecil ketika hendak berhenti di satu tempat.

2. Cari Informasi Selengkap Mungkin

Selalu teliti sebelum membeli, salah satu caranya dengan mencari informasi selengkapnya tenang stroller. Internet biasanya memuat banyak informasi tentang review produk, baik itu lewat situs parenting atau forum keluarga. Pastikan bahwa stroller yang akan Anda beli sesuai dengan usia, tinggi juga berat bayi. Beberapa perusahaan peralatan bayi ternama, biasanya memiliki website yang menampilkan produk-produk mereka dan informasi detail seperti berat, ukuran dan tingkat keamanan.

3. Coba Dulu Sebelum Membeli

Anda pastinya ingin mendapatkan stroller yang terbaik untuk bayi tersayang. Untuk itu, jangan pernah membeli stroller tanpa mencobanya terlebih dulu. Lakukan 'test drive', tempatkan bayi pada stroller dan ajak berjalan-jalan di sekeliling toko. Pastikan pegangan kereta dorong tidak terlalu rendah, sehingga Anda atau suami tidak cepat lelah saat mendorongnya. Hal ini juga menghindari Anda dari sakit pinggang.

Cek juga apakah ukuran dan beratnya sesuai untuk Anda bawa-bawa. Beberapa stroller memiliki pegangan yang bisa disesuaikan tingginya dengan Anda, untuk lebih memudahkan ketika mendorongnya. Pilihlah yang rodanya dapat berputar ke segala arah dan mudah digerakkan.

4. Perhatikan Panjang, Lebar dan Tinggi Stroller

Pilihlah yang mudah dilipat dan beratnya berkisar antara 7-9 kg agar praktis disimpan dimanapun. Termasuk mudah dibawa saat Anda bepergian dengan mobil pribadi.

5. Hindari Membeli Stroller yang Banyak Material Plastiknya

Hindari stroller dengan banyak material plastik, terutama di bagian roda. Plastik cenderung lebih cepat rusak, sementara material besi atau stainless bisa digunakan hingga bertahun-tahun, bahkan bisa diturunkan untuk adik baru si kecil nantinya.

6. Beli yang Diperlukan Saja

Banyak perusahaan yang menawarkan produk stroller yang dilengkapi tempat menaruh air minum, payung, tudung hujan atau kantung penyimpan peralatan bayi. Fitur-fitur tambahan tersebut tentu akan membuat stroller lebih berat dan harganya juga lebih mahal. Jadi belilah hanya yang sesuai dengan kebutuhan Anda dan si kecil.

Semoga bermanfaat, wassalam.
Thank you for reading 6 Hal Penting, Sebelum Membeli Kereta Dorong Bayi

Bagaimana Memilih Babysitter yang Tepat?

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.


Bagi ibu bekerja yang tinggal berjauhan dengan orangtua atau saudara, pilihan satu-satunya untuk mengurus anak adalah dengan bantuan babysitter. Bagaimana memilih babysitter yang tepat?

Dikutip dari Baby Center, carilah babysitter yang punya usia cukup dewasa, namun masih bisa berinteraksi dengan menyenangkan saat bersama anak-anak. Berapa usia yang tepat untuk si babysitter? Anda sendirilah yang bisa menentukannya dilihat dari kemampuan babysitter tersebut.

Saat memilih babysitter, pastikan Anda juga punya referensi. Kalau memang tidak ada, ibu bisa mengetes kemampuannya. Paling utama dia harus tahu bagaimana melakukan pertolongan pertama saat anak terluka.

Babysitter yang Anda pilih haruslah orang yang memang Anda percaya untuk menangani situasi darurat. Dia akan tahu bagaimana harus bertindak saat situasi itu terjadi dan siapa yang harus dihubunginya.

Saat memilih babysitter, ada beberapa pertanyaan yang bisa Anda tanyakan padanya. Jawaban dari pertanyaan yang Anda berikan itu bisa menjadi referensi apakah dia memang layak atau tidak Anda pekerjakan.

Pertanyan-pertanyaan itu di antaranya:

- Apakah dia punya pengalaman mengurus anak-anak?

- Kenapa dia suka atau senang mengurus anak-anak?

- Aktivitas apa saja yang bisa dia lakukan bersama anak?

- Punyakah dia pengalaman darurat saat bersama anak-anak?

- Bagaimana cara dia menenangkan anak yang menangis?


Selain pertanyaan-pertanyaan di atas, tentu Anda bisa menambahkan pertanyaan sendiri. Perlu diingat, tidak ada pertanyaan yang Anda rasa tidak relefan apabila terkait keselamatan dan kesehatan anak.

Setelah tahu bagaimana cara memilih babysitter, yang terkadang terlintas di pikiran ibu bekerja adalah berapa bayaran pengasuh anak tersebut? Gaji babysitter berbeda-beda tentunya, tergantung pada beberapa faktor, apakah dia tinggal bersama Anda, seberapa banyak tanggungjawabnya, berapa usianya, dan lain-lain.

Sebagai referensi soal gaji ini Anda bisa bertanya pada teman atau tetangga yang juga mempergunakan jasa babysitter. Bisa jadi babysitter yang Anda pilih juga telah memiliki standar gaji sendiri. Standar tersebut biasanya sudah ditetapkan oleh yayasan tempatnya bernaung, jika memang Anda mendapatkan si babysitter dari yayasan.

Gaji sudah sepakat dan babysitter siap bekerja, tentu Anda harus memberinya banyak instruksi sebelum Anda tinggal bekerja. Beri dia waktu beberapa hari untuk mengenal anak, rumah, dan Anda serta suami. Anda pastinya juga harus memperhatikan dulu bagaimana dia menghabiskan waktu dengan anak. Saat si babysitter bermain atau mengurus si kecil, Anda bisa menggunakan waktu tersebut untuk mengurus pekerjaan rumah lainnya.

Sejak jauh-jauh hari, Anda juga harus memberitahu padanya semua informasi yang penting, seperti nomer telepon darurat (nomer Anda, kantor dokter atau orangtua). Pastikan babysitter tahu kapan biasanya Anda mengajak si kecil tidur, makan, mandi dan semua aktivitas lainnya. Informasikan apa saja yang anak Anda bisa dan tidak bisa lakukan di kesehariannya.

Setelah dia bekerja dan Anda melihat pekerjaannya memuaskan, tentu Anda harus menjaga hubungan baik dengan babysitter tersebut. Pastikan Anda memang memperlakukan babysitter itu dengan baik. Jangan minta dia melakukan hal-hal yang memang menjadi tanggungjawabnya, seperti mencuci pakaian Anda. Kecuali Anda memang memberinya tambahan uang atas pekerjaan tersebut.

Kalau Anda merasa si babysitter cukup bertanggungjawab dan sayang pada anak, tidak ada salahnya mendengar pendapatnya jika memang dia mengucapkan hal itu. Misalnya saja ketika anak tidak mau makan sayur, dia memberi saran bagaimana agar anak mau. Meskipun Anda juga sudah paham, jangan tunjukkan kalau Anda tidak memerlukan sarannya tersebut.

Semoga bermanfaat, wassalam
Thank you for reading Bagaimana Memilih Babysitter yang Tepat?

5 Penyebab Anak Menjadi Pemalu

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.


Anak yang suka menyendiri dan lebih suka melakukan sesuatu di dalam kamar sendiri.Perasaan malu adalah perasaan gelisah yang dialami seseorang terhadap pandangan orang lain atas dirinya. Ada yang mengartikannya sebagai sesuatu yang “aneh”, “hati-hati”, “curiga” dan sebagainya.

Pada umumnya sejak lahir manusia telah memiliki sedikit perasaan malu, namun bila perasaan itu telah berubah menjadi semacam rasa takut yang berlebihan, maka hal itu akan menjadi suatu fobia, yaitu takut mengalami tekanan dari orang lain atau takut menghadapi masyarakat.

Anak yang pemalu selalu menghindar dari keramaian dan tidak dapat secara aktif bergaul dengan temannya yang lain.

Sifat pemalu dapat menjadi masalah yang cukup serius sebab akan menghambat kehidupan anak, misalnya dalam pergaulan, pertumbuhan harga diri, belajar, dan penyesuaian diri.

Umumnya ciri anak pemalu ialah terlalu sensitif, ragu-ragu, terisolir, murung, dan juga sulit bergaul. Jadi mereka perlu diberi bantuan.

Penyebab masalah seorang anak menjadi pemalu

1. Unsur Keturunan

Hal ini merupakan faktor yang tidak langsung dan belum pasti. Sejak lahir anak tersebut terlihat agak sensitif dan kemungkinan hal itu terjadi karena pembawaan saat ibu yang ketika sedang mengandung mengalami tekanan jiwa maupun fisik. Namun ini juga belum dapat menjadi suatu bukti yang kuat apakah kelak anak yang sensitif itu akan menjadi seorang pemalu.

2. Masa Kanak-kanak Kurang Gembira

Ada sebagian anak yang mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan pada masa kanak-kanaknya. Misalnya orangtua sering berpindah- pindah, orangtua bercerai, orangtua meninggal, dipaksa pindah sekolah atau dihina oleh teman dan sebagainya. Semua pengalaman itu mengakibatkan terganggunya hubungan sosial mereka dengan lingkungan, suka menghindar atau mundur, dan tidak berani bergaul dengan orang yang tidak dikenal.

3. Kurang Bermasyarakat

Sifat pemalu akan terjadi bila anak hidup dengan latar belakang di mana ia diabaikan oleh orangtuanya, atau dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mengasingkan diri, terlalu dikekang sehingga mereka tidak dapat mengalami hubungan sosial yang normal dengan masyarakat.

4. Perasaan Rendah Diri

Mungkin perasaan malu itu timbul karena anak bertubuh pendek, bersikap kaku atau punya kebiasaan yang jelek, lalu berusaha untuk menutupinya dengan cara menyendiri atau menghindari pergaulan dengan orang lain. Karena kurang rasa percaya diri dan beranggapan dirinya tidak sebanding dengan orang lain, ia tidak suka memperlihatkan diri di keramaian.

5. Pandangan Orang Lain

Banyak anak yang menjadi pemalu karena pandangan orang lain yang telah merasuk ke dalam dirinya sejak kecil. Mungkin orang dewasa sering mengatakan bahwa ia pemalu, bahkan guru dan teman-teman juga berpendapat sama, sehingga akhirnya ia benar-benar menjadi seorang pemalu.

Padahal anak-anak seperti ini kelak akan menjadi anak yg unggul di bidang sains dan teknologi, atau bisa juga mereka menjadi seniman2 dan maestro kelas dunia, mereka adalah anak-anak yg peka dan penuh cinta kasih,terutama cinta kasih terhadap pada orangtuanya.

Semoga bermanfaat, wassalam.
Thank you for reading 5 Penyebab Anak Menjadi Pemalu

Tidak Belajar, Tapi Prestasi Sekolah Memuaskan?

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.


“DEK, nggak belajar, ada PR, kan?” Lain hari, “Besok ada ulangan kan? Kok nggak belajar?” Sampai pada suatu waktu, “Dek, Mama lihat kok kamu nggak pernah belajar sih!”.

Tak sedikit orangtua dibuat bingung dalam menghadapi si kecil yang ‘tidak mau’ belajar. Tapi yang lebih membingungkan, biarpun tidak belajar, nilai-nilai yang diperolehnya memuaskan dan prestasinya di sekolah cukup membanggakan. Kok bisa ya? Kapan dia belajar?

Jangan tambah bingung Moms, bisa saja si kecil ‘penganut’ gaya belajar auditori. Kalau masih bingung, nggak ada salahnya Moms menyimak pembahasan di bawah ini.

Tiga Gaya Beda Cara

Perlu diketahui, ada tiga karakteristik cara belajar anak, yaitu auditori, visual dan kinestetik. Cara belajar auditori belajar dengan mendengar. Anak yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga.

Cara belajar visual belajar dengan cara melihat. Anak bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan. Dan yang terakhir adalah cara belajar kinestetik belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh.

Mendengar dan Menyimak

Khusus untuk gaya belajar auditori, anak memang lebih mudah menangkap materi pelajaran dengan mendengar dan menyimak apa yang guru jelaskan. Dan inilah yang kadang menjadi kesalahpahaman para orangtua. Karena, mereka seringkali melihat si kecil tidak pernah belajar saat di rumah.

Menurut Barbe (1998) dalam bukunya Growing Up Learning: Identifying and Teaching Children With Different Learning Styles, anak dengan gaya belajar auditori adalah anak-anak yang aktif berbicara, mungkin ia menganggu teman-temannya di kelas karena membaca buku dengan keras dan berpikir ia sedang membaca sendiri;
  • Ia kerap mengulang-ulang kata baru yang ia pelajari;
  • Ia aktif bertanya dan tidak mudah puas dengan jawaban “tidak tahu” karena ia akan terus bertanya;
  • Emosinya mudah dikenali dengan suara yang makin keras atau cara ia memecahkan masalahnya dengan mencari teman berbicara;
  • Mungkin saat sedang mengerjakan sesuatu ia menyenandungkan lagu, ia bergumam sambil bermain;
  • Suka berbicara tapi sering tak sabar jika harus mendengar orang lain bicara.
  • Bila Moms menemui gaya belajar si kecil seperti itu, berarti si kecil memiliki gaya belajar auditori.

Plus-Minus Belajar Auditori

Prinsipnya, setiap gaya belajar ada kelebihan dan kekurangannya. Seperti halnya gaya belajar auditori. Pada gaya belajar ini, anak cukup mendengarkan untuk memahami apa yang diutarakan oleh guru. Selain itu, Moms juga cenderung lebih mudah mengetahui bila si kecil mengalami masalah, karena dia akan langsung membicarakannya.

Namun sayangnya, gaya auditori ini dianggap mengganggu teman-teman di kelasnya, karena anak aktif berbicara, apalagi saat guru sedang menerangkan atau menjelaskan pelajaran. Tak hanya itu, si kecil mungkin akan mengalami kesulitan ketika dirinya diminta membaca buku-buku pelajaran yang hanya berisikan tulisan.

Anak dengan tipe auditori akan lebih mudah memahami bacaan yang mengandung dialog antartokohnya, jika ada yang menemaninya membaca atau jika dia membaca dengan bersuara cukup keras sehingga dapat dia dengarkan sendiri.

Walaupun anak cepat memahami dengan apa yang sudah didengarnya, tidak ingat atau lupa mungkin saja terjadi. Nah, untuk anak dengan gaya belajar seperti ini, Moms bisa memintanya membuat catatan kecil berisi hal-hal/poin-poin penting yang dia dengar, tak harus mencatat dengan rapi semua penjelasan guru. Pengulangan dengan membaca keras atau mengulang kata-kata yang perlu diingat juga akan berguna bagi mereka dalam mengingat kembali apa yang sudah didengar.

Tetap Dukung Gaya Belajarnya

Untuk mengetahui gaya belajar si kecil, Moms dapat mengamati tingkah lakunya sehari-hari. Misal, bila anak cepat hapal dengan tempat-tepat, simbol atau cepat tanggap bila diterangkan dengan bagan, artinya kepekaan visualnya bagus.

Setelah mengetahui gaya belajar si kecil, dukunglah ia dengan masing-masing cara yang dikuasainya. Untuk cara belajar auditorial, orangtua jangan melarang anak menghapal sambil berbicara keras. Gunakan pengulangan ucapan, namun jangan terlalu panjang. Berikan kesempatan baginya untuk tanya-jawab atau membaca keras – cukup didengar olehnya tanpa bisa didengar orang lain - soal yang diberikan.

Jika memungkinkan libatkan si kecil dalam kelompok-kelompok diskusi sehingga ia akan lebih mudah memahami materi. Pada anak yang lebih besar - jika memungkinkan - materi yang diajarkan akan lebih terekam dalam ingatannya dan mudah untuk memutar ulang kembali di rumah daripada diminta hanya sekadar membaca bahan-bahan foto kopi.

Semoga bermanfaat, wassalam

Thank you for reading Tidak Belajar, Tapi Prestasi Sekolah Memuaskan?

Saturday, April 15, 2017

Bagaimana Mengendalikan Sifat Pemarah Pada Anak

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Apa sih yang menyebabkan anak marah? Dari penelitian dan pendapat ahli perkembangan anak, alasan anak marah adalah untuk membuktikan bahwa mereka tidak suka diberikan petunjuk dan sudah merasa dewasa.

Dalam beberapa kasus, anak yang sedang marah memiliki temperamen tinggi, sehingga dalam menunjukkan kemarahannya, anak bisa menangis berlebihan, menjerit, bahkan melukai diri sendiri.

Bagaimana mengendalikannya?

Untuk mengendalikan kemarahan anak,diperlukan penanganan yang tepat.

Berikut beberapa strategi dalam mengendalikan anak yang pemarah.

1. Taat peraturan 

Orang tua sebaiknya tetap berpegang teguh pada aturan-aturan dasar tertentu. Jika anak tahu ada hal-hal tertentu yang tidak diterima oleh Anda, mereka tidak akan mencoba melakukannya. Anda juga sebaiknya memberikan alasan kuat atas keputusan tersebut.

2. Jangan berteriak atau memukul 

Untuk menunjukkan bahwa Anda memiliki wewenang, janganlah berteriak atau memukul mereka sebab itu tidak ada gunanya. Jangan menanggapi perilaku buruk mereka karena anak akan tahu Anda memberikan perhatian dan mereka justru akan semakin menunjukkan amarahnya.

3. Ketekunan adalah kunci 

Jangan pernah merasa menyesal karena tidak mampu memenuhi tuntutan anak. Percayalah,anak akan berterima kasih atas ketegasan Anda ketika mereka menjadi dewasa.

4. Jelaskan situasi kemudian 

Setelah amarah anak mereda, buatlah mereka mengerti bahwa marah-marah bukanlah perilaku yang baik, terutama untuk usia anak-anak.Biarkan anak mendengarkan apa yang Anda katakan.Berbicaralah dengan cara yang tenang dan perlakukan mereka dengan cinta dan kasih sayang.

Semoga bermanfaat, wassalam.
Thank you for reading Bagaimana Mengendalikan Sifat Pemarah Pada Anak

Belajar Mengasihi Dari Malaikat Kecil



Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Belajar memang tidak pandang usia, belajar juga bisa di mana saja dan kapan saja. Salah satunya dari cerita berikut ini:

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.”

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu tampak ketakutan, air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India/curd rice).

Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

Aku mengambil mangkok dan berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama ayah.”

Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya, dan berkata, “Boleh ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta.”

Agak ragu sejenak “akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?” Aku menjawab, “Oh…pasti, sayang.”

Sindu tanya sekali lagi, “Betul nih ayah?”

“Ya pasti!” sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, janji kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata, “Sindu jangan minta komputer atau barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.”

Sindu menjawab, “Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang mahal kok.” Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hati aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap, dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu.

Istriku spontan berkata, “Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin.” Juga ibuku menggerutu jangan-jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk, “Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak.” Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, “Tidak ada yah, tak ada keinginan lain,” kata Sindu. Aku coba memohon kepada Sindu, “Tolonglah…kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.”

Sindu dengan menangis berkata, “Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya. Kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apa pun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India zaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, “Janji kita harus ditepati.” Secara serentak istri dan ibuku berkata, “Apakah kamu sudah gila?” “Tidak,” jawabku, “Kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi.”
Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.

Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak, “Sindu tolong tunggu saya.” Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki-laki itu botak.

Aku berpikir mungkin”botak” model zaman sekarang. Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, “Anak anda, Sindu benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya. Dia menderita kanker leukemia.” Wanita itu berhenti sejenak, nangis tersedu-sedu.

“Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemotherapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek/dihina oleh teman-teman sekelasnya. Nah Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul-betul tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”

Aku berdiri terpaku dan aku menangis, “Malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang kasih.”

Semoga cerita ini menginspirasi kita semua, wassalam

Thank you for reading Belajar Mengasihi Dari Malaikat Kecil

Kiat Membangun Motivasi Anak



Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif

Dalam kenyataannya ada dua bentuk motivasi, yaitu eksternal dan internal. Yang eksternal datang dari luar diri. Artinya ada orang lain atau situasi yang mendorong seseorang itu melakukan sesuatu. Misalnya orangtua atau guru memaksa anak-siswanya untuk mengerjakan PR atau yang lain. Saat orangtua atau guru tidak ada di sana, si anak cenderung bermalas-malasan atau mengerjakan hal lain yang dia suka. Dengan kata lain, motivasi eksternal tergantung pada situasi dan mood.

Sedangkan motivasi internal muncul dari dalam diri. Kalau orangtua ingin anak belajar tanpa disuruh, sangat suka membaca, dan sebagainya, orangtua harus membangun motivasi internal. Ini dilakukan sejak anak kecil, mulai dari membangun kepercayaan anak terhadap orangtua (yang nantinya bermuara pada iman kepada Tuhan). Motivasi, baik eksternal maupun internal, kadang-kadang membutuhkan sesuatu yang buruk (penderitaan, masalah) untuk membangunnya. Dari orangtua, perlu ada komitmen, teladan, dan kreativitas.

Anak Belajar

Salah satu motivasi yang perlu dibangun dalam diri anak adalah keinginan belajar. Sebenarnya potensinya sudah ada sejak anak masih sangat kecil. Lihat saja, hampir semua bayi di bawah dua tahun yang kita jumpai pasti menunjukkan tanda-tanda pandai dan mau belajar. Mereka mau belajar makan sendiri, main bola atau yang lain, belajar menulis, membantu menyapu, dan sebagainya. Sekarang tergantung pada lingkungan, apakah orang-orang di sekitarnya membantu dia belajar atau membatasinya.

Orang dewasa tanpa sadar dapat mematikan semangat belajar anak dengan cara banyak melarang, menakut-nakuti, menghukum berlebihan, atau memberi respons sangat minimal terhadap aktivitas mereka. Di sisi lain, orangtua dapat memberikan fasilitas untuk menumbuhkan semangat belajar anak. Yang dimaksud bukanlah dalam bentuk les (bagi anak di bawah usia sekolah), melainkan sekadar mengikuti saja prosesnya. Misalnya kalau anak mau belajar menulis, berikanlah peralatan tulis. Kalau perlu dinding rumah dilapisi kertas, agar anak dapat memanfaatkannya. Kita perlu mempelajari pola belajar anak, terutama yang berkaitan dengan hal-hal yang diminatinya.

Misalnya Moze. Di usia 5 tahun dia masih sulit belajar membaca di kelas. Kami menerima rapor semester pertama dengan catatan: belum bisa membaca. Ketika dalam liburan tahun itu kami naik mobil ke Bali, minat baca Moze muncul lewat banyaknya billboard yang dia lihat di pinggir jalan. Pulang dari libur, Moze sudah bisa membaca dengan lancar, termasuk kata-kata yang sulit. Dia masuk sekolah lagi sebagai anak paling baik membaca di kelas.

Kedekatan Dengan Orangtua

Ini adalah faktor terpenting untuk membangun motivasi internal anak. Prosesnya adalah sebagai berikut: kedekatan dengan orangtua memberi rasa percaya pada anak. Mereka tahu orangtuanya bisa diandalkan. Selain itu, ada tempat untuk bertanya maupun menyalurkan perasaan tidak aman (insecure) yang mereka dapat dari lingkungan.

Anak-anak yang dibesarkan dengan rasa aman yang cukup akan memiliki harga diri yang baik. Ini adalah “modal” anak memasuki dunia remaja. Harga diri yang baik berarti anak tahu mengukur dirinya dengan tepat. Dia tidak minder karena tidak bergantung pada penilaian orang lain. Dia punya identitas diri yang jelas, bukan menjadikan artis sebagai idola, misalnya.

Bagaimana kedekatan dengan orangtua dapat membangun motivasi?

Pertama

Anak-anak walaupun ada kecenderungan egois (mementingkan kesenangan diri sendiri), akan mengingat ajaran dan teladan orangtua mereka jika diajak teman melakukan hal-hal negatif. Saya menjumpai seorang remaja putra yang biarpun tidak suka latihan paduan suara tetapi tetap melakukannya karena ibunya meminta.

“Aku sayang ibuku,” kata remaja itu pada saya, “aku akan berusaha memenuhi semua yang dimintanya.” Itu dilakukannya dengan rela, bukan terpaksa. Dia percaya ibunya memberikan hal-hal yang baik untuk dia.

Kedua

Kebiasaan baik yang sudah dibangun di rumah sejak anak kecil tidak mudah dilupakan. Misalnya kalau anak-anak belajar teratur sejak kecil, ada masanya tidak usah disuruh lagi, mereka akan melakukannya sendiri. Atau jika di rumah sudah tertanam kebiasaan membaca, anak-anak secara otomatis akan mencari buku di waktu senggangnya.

Selanjutnya, hubungan yang baik antara ayah dan ibu membangun rasa nyaman dalam diri anak untuk senang tinggal di rumah. Moze menyebut istilah home sweet home. Ini akan berbeda jika anak merasa rumahnya seperti “neraka” akibat pertengkaran yang terus menerus.

Kedekatan dengan orangtua adalah benteng bagi remaja, yang akan menjauhkan dia dari pengaruh buruk dan tekanan teman sebaya. Walaupun teman sebaya adalah hal yang penting bagi remaja, dia akan mencari teman bergaul (peer group) yang cocok, yang bisa diterima oleh orangtua.

Jadi, bagaimana kita membangun motivasi dalam diri anak-anak? Mulailah ketika mereka masih sangat kecil. Mulai dengan konsisten dan berkomitmen. Kita akan menuai hasilnya kelak.

Semoga bermanfaat, wassalam.
Thank you for reading Kiat Membangun Motivasi Anak

Termasuk Tipe Orang Tua Yang Manakah Kita?



Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Sebagai orang tua tentunya dalam mengasuh anak-anaknya mempunyai pola asuh yang berbeda-beda. Namun masih banyak lo, kita sebagai orang tua belum tahu, seperti apakah pola asuh kita terhadap anak-anak?

Pada umumnya ada 3 macam tipe pola asuh:
  • Otoriter
  • Permisif
  • Demokratis
Pola Asuh Otoriter

Orangtualah yang menentukan semuanya. Orangtua menganggap semua yang mereka katakan adalah yang paling benar dan baik. Anak dianggap tak tahu apa-apa. Orangtua tak pernah mendorong anak untuk mandiri dan mengambil keputusan-keputusan yang berhubungan dengan tindakan si anak. Orangtua hanya mengatakan apa yang harus/tidak dilakukan dan tak menjelaskan mengapa hal itu harus/tidak dilakukan.

Pola Asuh Permisif

Pola asuh permisif ini cenderung membiarkan anak berkembang dengan sendirinya. Orangtua tak memberikan rambu-rambu apa pun kepada anak. Yang ada hanyalah rambu-rambu dari lingkungan.

Pola Asuh Demokratis

Pola asuh ini menggunakan penjelasan mengapa sesuatu boleh/tidak dilakukan. Orangtua terbuka untuk berdiskusi dengan anak. Orangtua melihat anak sebagai individu yang patut didengar, dihargai, dan diberi kesempatan.

Dari ketiga pola asuh tersebut, menurut psikolog Ieda Purnomo Sigit Sidi, yang ideal ialah perpaduan ketiganya sehingga orangtua tahu kapan boleh membiarkan anak, kapan bersikap demokratis, dan kapan harus menggunakan hak prerogatif mereka sebagai orangtua. Misalnya, anak tetap ngotot melakukan sesuatu yang salah, padahal orangtua sudah memberi tahu dan menjelaskannya.

Nah, pada saat itu orangtua bisa bersikap otoriter karena anak belum tahu bahaya yang akan dihadapi bila ia melakukan perbuatan tersebut. "Kelebihan pengetahuan dan pengalaman orangtua inilah yang diharapkan bisa mengarahkan dan membimbing anak," ujarnya.

Apalagi dalam menghadapi zaman sekarang tanggung jawab orangtua menjadi jauh lebih berat. Orangtua harus lebih banyak lagi belajar, membaca, mendengar, dan melihat. Kalau tidak, akan ketinggalan dari anak. Karena itu, Ieda meminta orangtua untuk betul-betul melihat ke depan sehingga dalam merancang pendidikan anak bisa lebih bijaksana.

"Jangan terlalu terpukau oleh kemajuan teknologi sampai lupa bahwa anak adalah manusia yang bukan hanya mempunyai pikiran, tapi juga perasaan," tutur Ieda.

Orangtua harus mengembangkan seluruh aspek-aspek perkembangan agar anak bisa menjadi satu pribadi yang kuat, baik dalam hal intelektual, emosional, dan sosial.

Semoga bermanfaat, wassalam.

Thank you for reading Termasuk Tipe Orang Tua Yang Manakah Kita?

Bila Anak Berbakat Musik




Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Sudah banyak tempat dan sekolah yang menawarkan les berkesenian bagi anak-anak - baik itu bermain alat musik, balet, dan tari-tarian. Namun, penelitian di Inggris, seperti dikutip laman FemaleFirst mengungkapkan bahwa orang tua jangan bergantung pada tempat les. Justru, di rumah-lah anak-anak bisa mengasah bakat kesenian mereka dengan lebih baik.

Bekerjasama dengan stasiun televisi anak-anak Inggris, Nick Jr., peneliti dari Universitas Keele, Dr. Alexandra Lamont, memberikan sejumlah tips untuk orang tua agar bisa antusias turut melatih anak-anak bermain musik di rumah.

1. Jangkan sungkan-sungkan ungkapkan musik favorit Anda dengan si buah hati. Kalau bisa, ceritakan kepada dia mengapa Anda suka musik itu dan kapan pertama kali suka. Dengan demikian, karena punya sifat meniru, anak-anak akan antusias belajar musik dari Anda.

2. Perhatikan lagu-lagu yang sering didengar anak di luar rumah. Simak dan catat lagu-lagu yang biasa diperdengarkan anak-anak Anda, baik di taman kanak-kanak, penitipan anak, dan lain-lain. Bila dia bisa bernyanyi lagu-lagu itu di sekolah, di rumah pun tentu bisa, tentunya bersama dengan Anda - baik sebagai penyanyi latar atau bermain musik pendukung. Ingat, anak-anak suka mengulang-ulang lagu!

3. Perhatikan juga selera musik anak. Cobalah selalu bersikap terbuka saat mendengarkan pendapat anak Anda mengenai suatu lagu dan bagaimana dia menyanyikan lagu itu dengan gaya dan nada yang berbeda. Kalau perlu nyanyikan lagu yang disukai anak Anda saat bermain-main atau saat menonton program televisi favorit

4. Cobalah bereksplorasi dengan musik-musik baru bersama anak. Pokoknya perkenalkan anak Anda dengan berbagai macam genre musik, baik itu rock, pop, dangdut, dan lain-lain. Siapa tahu, anak Anda tertarik dengan salah satu genre musik. Biasanya, mereka akan berhenti bermain dan mendengarkan secara serius suatu musik baru yang membangkitkan minat dia.

5. Ajak anak menikmati musik dengan aktif. Mendengarkan musik secara aktif berarti badan harus bergoyang - tentunya harus sesuai dengan irama musik. Bisa dilakukan bersama dengan anak Anda saat menonton film maupun saat mendengarkan radio atau pemutar cakram.

6. Perdalam lagu kesukaan anak. Bila anak Anda suka dengan suatu lagu, cobalah memutar lagu-lagu lain dengan genre dan alat musik yang sama dengan lagu favorit Anak. Dengan demikian dia akan terbiasa dengan spesialisasi lagu dengan musik yang kreatif.

7. Nikmati musik dan bersenang-senanglah. Bagaimana mengasah bakat berkesenian anak Anda bila Anda sendiri tidak menikmati musik? Musik itu akan dibuat untuk dinikmati sehingga menyenangi musik merupakan respon yang paling penting.

Semoga bermanfaat

Thank you for reading Bila Anak Berbakat Musik

Friday, April 14, 2017

Agar Anak Lebih Mandiri



Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Orangtua perlu secara bertahap melepaskan anak untuk membuatnya lebih mandiri dan tidak terlalu tergantung pada orangtua. Ayah dan ibu bisa memulainya dengan mengurangi menggendong anak walaupun cara ini memang memberikan rasa aman. Selanjutnya, anak bisa belajar mandiri sesuai tahapan usia.

Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa, dr Erlina Sutjiadi, SpKJ, orangtua perlu mengetahui kapan masanya menggendong anak untuk memberikan rasa aman dan kapan sudah mulai melepaskannya secara bertahap. Ini hanya salah satu contoh saja memulai tahapan kemandirian anak.

“Anak yang baru lahir sangat bergantung kepada ibu dan ayahnya, dengan menggendongnya akan memberikan rasa aman. Namun jika usia empat tahun masih digendong, ini perilaku yang salah,” jelas dr Erlina, saat talkshow bertema “Healthy Protection Inside & Out” dalam acara Mother & Baby Fair 2010 di Balai Kartini Jakarta, Minggu (1/8/2010) lalu.

Melepaskan anak agar tidak terlalu bergantung kepada orang lain untuk menumbuhkan kemandirian, dilakukan dalam beberapa tahapan sesuai perkembangan dan usia anak:

Masa membangun rasa percaya, usia 0-1,5 tahun

Bayi yang baru lahir sangat membutuhkan perhatian ayah ibunya, namun bukan berarti orangtua bebas menggendongnya 24 jam. Melatih kemandirian anak sebaiknya dimulai pada masa ini. Prinsipnya, saat bayi membutuhkan pastikan Anda ada di sampingnya, meskipun bukan berarti harus menggendongnya.

“Saat tidak nyaman, karena lapar atau popok basah, bayi membutuhkan perhatian. Ibu atau bapaknya bisa menggendongnya untuk memberikan rasa aman kepada bayi,” jelas dr Erlina.

Begitupun saat bayi mulai belajar makan makanan padat setelah ASI eksklusif selama enam bulan. Mengajarkan anak untuk memulai kebiasaan baru perlu dilakukan dengan tahapan dan perlahan. Saat memberi makanan padat, misalnya, lakukan perlahan dan jangan dipaksakan. Mulai dengan mencicipi, berikan dengan membangun ikatan ibu dan anak, bukan sekadar mengejar target makanan habis termakan.

Pada masa ini anak akan belajar membangun rasa percaya, merasa diperhatikan, dan mengetahui orangtuanya akan selalu ada saat ia membutuhkannya. Semakin bertambahnya usia, tujuh bulan misalnya, anak memasuki masa individuasi, yakni belajar melepaskan ikatan ibu dan anak secara pelan-pelan. Anak mulai belajar berjalan, lebih mandiri, tidak lagi bergantung penuh dengan orang tuanya (dengan digendong, misalnya). Tradisi tedhak siten pada masyarakat Jawa memiliki makna yang sama dengan masa individuasi ini.

Otonomi diri, usia 1,5-3 tahun

Peran orangtua adalah mendampingi, namun berikan juga kesempatan anak untuk berekplorasi. Karena pada usia inilah rasa ingin tahu anak mulai tinggi. Meski begitu, memberikan kebebasan kepada anak bukan berarti tanpa aturan. Anak perlu diajarkan nilai baik dan buruk agar anak mengerti batasan dari kebebasannya bereksplorasi.

Saat makan, misalnya, ajarkan anak mandiri dengan menggunakan alat makan sendiri, jangan terus disuapi. Persoalannya, terkadang orangtua tak sabar dan inginnya anak cepat menghabiskan makanan atau tidak ingin tangan atau bajunya kotor. Padahal pada masa ini anak ingin menunjukkan dirinya. Jadi sebaiknya jangan berikan bantuan berlebihan. Sesuaikan dengan kebutuhannya saja.

Mengembangkan inisiatif, usia 3-5 tahun

Mengajarkan kemandirian perlu dilakukan sejak dini, bukan ketika anak sudah memasuki masa sekolah. Mulai usia tiga tahun, misalnya, anak sudah bisa diajarkan untuk mengenakan baju sendiri. Ajarkan juga untuk menyimpan baju kotor pada tempatnya, dan lain sebagainya. Dengan demikian, anak belajar mendisiplinkan dirinya dan melakukan berbagai hal yang nantinya akan dilakukannya sendiri.

Dengan cara pembelajaran ini, anak juga mulai belajar berinisiatif melakukan tugasnya. Membersihkan kamar menjadi tahapan berikutnya saat sudah mulai bertambah usianya. Kebiasaan baik yang diajarkan sejak dini akan menumbuhkan karakter yang lebih mandiri di kemudian hari.

Menurut dr Erlina, tiga fase pertama inilah yang paling penting untuk pengembangan kepribadian anak. Dengan memiliki dasar yang kuat, anak mempunyai mental lebih kuat dan membangun kepercayaan diri dan kemandirian.

Dengan demikian, ketika memasuki tahapan produktif usia 6-12 tahun, anak sudah memiliki kebiasaan positif dan perilaku mandiri. Begitupun saat pembentukan identitasnya pada usia 12-18 tahun. Anak yang berkarakter mandiri dengan kepercayaan diri yang ditumbuhkan sejak lahir, akan mampu membangun identitas dirinya lebih positif.

Semoga bermanfaat, wassalam.

Thank you for reading Agar Anak Lebih Mandiri

Mendidik Dan Melatih Kejujuran Kepada Anak

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.


Berbohong pada anak-anak sebenarnya bukan sesuatu yang sangat serius kecuali jika menjadi kebiasaan atau kompulsif (berulang terus menerus). Namun jika dibiarkan maka anak akan kesulitan ketika bergaul dengan teman-temannya di sekolah ataupun di lingkungan permainan, yang selanjutnya akan menimbulkan masalah lebih parah pada saat tumbuh dewasa. Mereka akan tumbuh menjadi pembohong. Oleh karena itu sejak dini orangtua harus memberikan pelajaran kejujuran pada anak.

Memberikan hukuman fisik maupun psikis (menampar, memukul, memaki) atas kebohongan yang dilakukan anak cenderung merugikan karena sang anak akan berbohong untuk menghindari hukuman. Anak menjadi tahu bahwa hukuman akan diterima bila ketahuan berbohong tapi bila tidak ketahuan maka aman.

Akibatnya anak akan cenderung berusaha agar tidak ketahuan berbohong daripada tidak berbohong. Jadi hukuman bisa meningkatkan kebohongan yang dilakukan pada masa mendatang ketimbang menurunkannya.

Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua untuk melatih kejujuran anak :
  1. Selalu menerangkan dan meminta maaf jika tidak menepati janji
  2. Jika kedapatan berbohong di muka anak, akuilah, dan jelaskan alasannya
  3. Jangan mengatakan kebohongan untuk mendapatkan persetujuan anak
  4. Jangan memberikan terlalu banyak aturan pada anak
  5. Jangan terlalu sering memberikan hukuman pada anak
  6. Jangan langsung marah jika anak melakukan kebohongan, tanyakan dulu mengapa
Semoga bermanfaat, wassalam.

Thank you for reading Mendidik Dan Melatih Kejujuran Kepada Anak

Tips Agar Anak Mau Tidur Siang



Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kratif.

Anak-anak memerlukan tidur yang baik untuk mempertahankan kesehatan yang optimal. Selama tidur , otak sadar benar-benar beristirahat, sistem saraf parasimpatik bekerja maksimal untuk menyeimbangkan fungsi-fungsi organ yang bekerja dengan sistem saraf simpatik, misalnya memperlambat denyut jantung, menormalkan tekanan darah dst. Itulah mengapa tubuh kita menjadi segar setelah bangun tidur. Namun saat ini dimana kenyamanan dan kecanggihan teknologi dan gaya hidup yang sibuk terkadang bisa berdampak balik mengancam kesehatan kita secara tak sadar.

Dalam bukunya Acharya menuliskan bahwa ada dua proses vital dalam hidup yaitu sistem pencernaan dan ekskresi haruslah bekerja efektif untuk tercapainya hidup sehat. Agar bekerja efektif, kita memerlukan periode dimana napas kita itu teratur dan tidak terburu-buru. Sistem ekskresi juga harus bekerja hingga sistem sel yaitu membuang CO2 sehingga tubuh terhindar dari racun tubuh, karena pada level apapun, bentuk apapun, racun tubuh akan mempengaruhi secara umum kesehatan kita dan kerja otak. Otak merupakan satu bagian otak yang bisa ‘mem-bully’ kinerja tubuh kita. Saat kita dalam keadaan sadar, tubuh kita terserap mengikuti apa yang otak kita pikirkan, misalnya saat kita akan ujian, terkadang karena tegang, perut kita menjadi mules atau mual. Otaklah yang memerintahkan untuk memberi perhatian pada seluruh mekanisme tubuh kita sekaligus (di masa ini) menjadi lebih berat karena memenuhi tuntutan agar menjadi cerdas di mata banyak orang, itu sunguh-sungguh memperberat kerja otak

Benarkah berpikir tak selamanya baik untuk tubuh kita?

Tentu proses berpikir itu tak berdampak buruk, namun demikian setiap kegiatan berpikir itu, tubuh membangkitkan impuls motorik. Ini kemudian diterjemahkan oleh otot tubuh; otot mata dan saraf saat secara mental dia melokalisasi pikirannya. Kemudian ketika kita berpikir dari situasi yang dilihat, didengar, dirasakan, maka arus listrik yang berasal dari otak ke tubuh menyebabkan kontraksi otot spasmodik. Jika si pemikir ini merasa senang meluap-luap, maka ia bernapas secara tak menentu, dan setiap tarikan napas itu berarti ada sisa produksi CO2 yang tertinggal di tubuh. Sedangkan saat anak melakukan aktivitas fisik, setidaknya tubuh mengambil manfaat dari peningkatan aktivitas otot yang mendorong sirkulasi darah, mengurangi kemungkinan toksisitas.

Manfaat itu tidak dapat dicapai hanya dengan beraktivitas di depan komputer, telepon genggam, atau menonton televisi, games layar yang hanya menggunakan tangan. Biasanya kita menonton ‘layar’ sebagai aktivitas relaksasi, tetapi kita harus menyadari tidak selamanya ini dapat disebut alat relaksasi. Bermain games di layar TV atau komputer menuntut kordinasi mata-tangan, dan menyebabkan reflek otot berlompatan di seluruh tubuh yang membutuhkan darah dan oksigen. Terkadang ini mengacaukan reflek otot sistem pencernaan dan pembuangan. Film yang menegangkan atau permainan sepakbola di layar TV yang seru atau memainkan games komputer yang sulit, menyebabkan kelenjar adrenal mengalirkan adrenalin dan kortisol ke tubuh kita. Ini menstimulasi tiroid dan kelenjar hipofisis melepaskan sekresi untuk kesiapan aktivitas fight or flight. Namun demikian, hormon stress ini tidak mendapatkan outlet dan hanya tinggal di dalam tubuh. 

Apakah ini yang menjelaskan mengapa anak ‘moody’ setelah ‘sesi layar’ terjadi? Sangat mudah ini dilihat ketika sehari-hari mereka ‘hanya’ bermain di depan layar dan dalam jangka panjang tanpa langkah-langkah untuk menetralkan, ketidak seimbangan ini akan menyebabkan keadaan toksisitas.

Tentu kita semua menginginkan anak mengalami kegirangan, emosi senang yang meluap-luap lepas bebas, tetapi jelaslah bahwa keseimbangan waktu untuk bermain di depan TV/komputer dan aktivitas nyata di luar penting bagi mereka dan mengajarkan mereka beristirahat yang benar. Permainan dengan teknologi saat ini sudah didesain sedemikian rupa seperti permaian wii yang melibatkan gerak dan aktivitas fisik yang utuh. Namun tidak banyak orang bisa mengakses permainan jenis ini karena harganya masih relatif mahal. Tetapi bagi mereka yang bisa mengaksesnya, tentu ini bisa menjadi pilihan yang lebih baik daripada yang tidak sama sekali.

Anak akan beristirahat secara alami jika permainan itu ‘unstructured’ dengan alat dan bahan yang dicari atau dibuat sendiri dari apa yang ada. Imajinasi mereka akan terasah, rasa ingin tahu mereka tersalurkan, rasa puas bermain bisa terakomodasi, rasa humor tergali karena permainan dimainkan dengan menyenangkan. Anak-anak belajar untuk menyenangkan dan menyibukkan diri sendiri itu penting untuk menghindari stress baik stress tubuh maupun pikiran. Tugas atau pekerjaan rumah tangga yang ritmis dan tidak sulit, seperti berkebun; menyapu halaman, menebar benih, atau memasak, membuat roti, mencuci piring atau bahkan aktivitas tenang seperti menggambar, bermain playdough membantu mengatur napas lebih teratur dan meninabobokan tubuh. Setelah bermain-main, berlari-lari, ajarkan anak mengatur napas kembali. Jika dalam situasi permainan yang menegangkan, ingatkan mereka bermain adalah untuk kegembiraan.

Beristirahat SAMA PENTINGnya dengan berkegiatan

Kegiatan yang padat, menguras tenaga dan pikiran membutuhkan istirahat yang cukup untuk memberi kesempatan otak dan tubuh memproses kembali seluruh pengalaman dan informasi yang telah diterima. Hanya karena proses ini tidak terlihat, bukan berarti tidak terjadi. Istirahat sama pentingnya dengan bermain, belajar, bekerja.

Semoga bermanfaat, wassalam

Thank you for reading Tips Agar Anak Mau Tidur Siang