Showing posts with label Tentang Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Tentang Pendidikan. Show all posts

Saturday, April 29, 2017

Ide Kreatif Merangsang Kecerdasan Anak


Kepintaran seorang bisa dibilang sebuah anugerah yang diberikan kepada anak tersebut. Tapi ternyata faktor yang mempengaruhi kepintaran seorang anak juga ditentukan oleh lingkungannya.

Ada banyak hal yang bisa membuat anak menjadi lebih pintar, tentunya selain dengan belajar di sekolah. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak menjadi lebih pintar, seperti dikutip dari MSNNews, :

1. Bermain permainan yang berpikir

Catur, teka-teki silang dan sudoku selain menyenangkan juga mendukung strategi berpikir anak-anak, bagaimana cara menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan yang kompleks. 

2. Bermain musik

Bermain musik selain menyenangkan juga bisa merangsang pertumbuhan otak kanan. Menurut sebuah studi di Universitas Toronto, diadakannya pelajaran musik bisa memberikan keuntungan dalam meningkatkan IQ anak dan performa akademisnya. Semakin lama waktu yang digunakan untuk bermain musik maka efek yang dihasilkan juga semakin besar.

3. Pemberian ASI

ASI merupakan makanan otak yang paling dasar. Peneliti secara konsisten terus menunjukkan berbagai macam keuntungan ASI yang behubungan dengan pertumbuhan bayi. Anak yang mengkonsumsi ASI eksklusif akan memiliki tingkat kepintaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang mengkonsumsi ASI hanya beberapa bulan saja.

4. Membiasakan berolahraga

Para peneliti di Universitas Illinois menunjukkan hubungan yang kuat antara kebugaran dan prestasi akademik di antara anak-anak sekolah dasar. Semakin bugar badan sang anak maka kemampuan dalam menerima pelajaran juga meningkat. Sebaiknya mendorong anak untuk terlibat dalam aktivitas fisik atau organisasi olahraga tertentu sesuai dengan minat anak.

5. Menyingkirkan makanan siap saji

Mengurangi asupan gula, lemak trans dari makanan siap saji dan menggantinya dengan makanan bergizi tinggi yang baik untuk perkembangan mental anak usia dini serta berfungsi dalam perkembangan motorik anak pada usia 1-2 tahun pertama. Contohnya anak-anak memerlukan zat besi untuk perkembangan jaringan otak yang sehat, anak yang kekurangan zat besi akan lambat dalam menerima rangsangan.

6. Mengembangkan rasa ingin tahu

Para ahli mengatakan orang tua yang menunjukkan rasa ingin tahunya pada anak akan mendorong anak untuk mencari ide-ide baru, sehingga merangsang anak untuk berpikir. Mengajari anak keterampilan baru serta pendidikan di luar rumah juga bisa mengembangkan rasa ingin tahu anak dan intelektualnya.

7. Budayakan membaca

Membaca adalah cara yang paling mudah untuk meningkatkan pembelajaran dan perkembangan kognitif anak-anak dari segala usia. Cara ini bisa dimulai dengan sering membacakan anak dongeng sebelum tidur dan sering-seringlah memberikan anak hadiah buku yang bisa menarik perhatiannya.

8. Mengajarkan kepercayaan diri

Orang tua sebaiknya meningkatkan semangat dan optimisme anak-anak. Berpartisipasi dalam tim olahraga atau kegiatan sosial akan membantu meningkatkan kepercayaan diri sang anak diantara teman-temannya.

9. Memberikan sarapan yang sehat

Para peneliti meyakinkan bahwa mengonsumsi sarapan yang sehat akan meningkatkan memori dan konsentrasi anak dalam belajar. Anak-anak yang tidak dibiasakan sarapan cenderung lebih mudah marah dan kurang konsentrasi pada waktu belajar, sementara anak yang sarapan akan tetap fokus dan bergerak selama jam sekolah.


Thank you for reading Ide Kreatif Merangsang Kecerdasan Anak

Wednesday, April 26, 2017

Warna Cat Kamar vs Kemampuan Belajar


Warna mempunyai hubungan yang sangat erat dengan emosi dan psikologi manusia. Itulah sebabnya sejak daulu orang Mesir dan Cina menggunakan warna untuk terapi yang disebut dengan chromotherapy. Alangkah baiknya jika memilih warna cat yang tepat untuk kamar kita agar lebih semangat lagi dalam belajar.

Putih 

Warna putih sudah terlalu umum digunakan. Mungkin juga sebagian besar dari kita memiliki kamar dengan cat warna putih. Berhati-hatilah jika menggunakan warna putih karena warna putih cenderung memantulkan cahaya sehingga membuat sakit kepala dan mata lebih cepat lelah.

Merah 

Wah, warna merah adalah warna yang penuh dengan semangat. warna merah ini bisa meningkatkan energi, memperkaya motivasi, dan bisa membuat kita gembira. Dan pastinya belajar juga bisa maksimal.

Hijau 

Warna hijau adalah warna alam. Warna ini bisa membantu kita untuk kemampuan membaca dan memahami materi yang kita baca. Warna hijau bisa membuat emosi kita menjadi stabil alias dapat membuat kita menjadi tenang.

Kuning 

Warna kuning ini bisa membantu untuk merangsang otak dan meningkatkan konsentrasi, itulah sebabnya banyak rambu-rambu lalu lintas yang berwarna kuning agar pengguna jalan lebih waspada. Tetapi jika terlalu banyak menggunakan warna kuning dapat membuat mata kita menjadi cepat lelah.

Biru 

Dari beberapa warna yang telah disebutkan diatas, warna birulah yang sepertinya paling cocok digunakan untuk mewarnai dinding kamar kita. Warna biru muda dapat membuat kita menjadi tenang dan nyaman. Biru muda dapat meningkatkan konsentrasi kita sedangkan warna biru tua dapat menjernihkan pikiran kita. Dan yang terpenting warna biru bisa membantu kita dalam mengatasi masalah insomnia.

Thank you for reading Warna Cat Kamar vs Kemampuan Belajar

Les Anak : Cara Cermat Memilih


Ada segudang pilihan kegiatan ekstrakurikuler anak di luar sekolah. Kegiatan tambahan ini bisa untuk mengasah bakat seni atau kemampuan olahraganya. 

Tapi jangan silau dengan banyaknya pilihan les demi untuk memuaskan keinginan orang tua. Jangan pula anak dituntut ikut beragam les tanpa melihat kemampuan dan keinginan si anak. Selain kegiatan sekolah yang memiliki rutinitas sama, anak-anak memang membutuhkan kegiatan tambahan (ekstrakurikuler)yang bisa menghilangkan kejenuhan. Ekstrakurikuler juga bisa menambah teman, menyalurkan hobi dan juga meningkatkan sosialisasi buat anak.

Ekstrakurikuler buat anak bisa didapat dari sekolah ataupun memasukkan anak-anak ke tempat kursus di luar sekolah. Ekstrakurikuler yang bisa dipilih tergantung dari hobi dan minat si anak. 

Ada beraneka pilihan untuk kegiatan ekstrakurikuler ini mulai dari sekolah olahraga, sekolah musik, drama, les bahasa, fotografi ataupun kegiatan tambahan lainnya.

Tapi meski ada banyak pilihan les untuk menambah keterampilan anak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti dikutip dari eHow:

  • Cari tahu apa yang menjadi hobi dari si anak. Meskipun banyak keuntungan yang bisa didapat oleh anak dengan ikut kegiatan yang baru, orang tua juga harus memastikan bahwa kegiatan tersebut akan menarik untuk anak. 
  • Cari beberapa pilihan ekstrakurikuler yang sesuai untuk anak. Temukan kapan waktunya, seberapa sering ekstrakurikuler tersebut, berapa biayanya, dan siapa pengajar atau pengawasnya. 
  • Diskusikan hasil pilihan orang tua dengan anak. Orang tua juga ingin memastikan bahwa anak juga akan senang melakukan kegiatan tersebut, bukan karena paksaan dari orang tua saja. 
  • Berikan dua atau tiga pilihan kepada si anak. 
  • Anak akan lebih berkomitmen untuk menjalani ekstrakurikuler pilihannya sendiri. 
  • Orang tua juga harus terlibat, dengan ikut mengantar atau menjemput sang anak saat menjalani ekstrakurikuler, dan memberikan dukungan saat anak mengikuti lomba dari ekstrakurikuler tersebut. 

Sebagai orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi ada satu hal yang harus diingat bahwa anak harus menikmati segala sesuatu yang mereka jalani tanpa ada paksaan ataupun hal lain yang membuat anak-anak merasa tidak nyaman mengikutinya.

Sebaiknya jangan memberikan anak kegiatan ekstrakurikuler yang terlalu banyak, yang membuat anak tidak punya waktu untuk bermain dengan teman-temannya, menikmati waktunya sendiri, dan bisa saja mengganggu waktu belajarnya di sekolah yang bisa menurunkan prestasi belajarnya.

Jadi, cermatlah dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler untuk sang buah hati.

Thank you for reading Les Anak : Cara Cermat Memilih

Agar Dunia Anak Kita Cerdas dan Kreatif


Assalamualikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Semua anak memiliki bakat untuk menjadi anak yang cerdas dan kreatif. Hanya sering karena tidak terlatih, maka kemampuan masing2 anak berbeda. Ada yang punya prestasi bagus, bakat yang terampil dll. Untuk itu kKita sebagai orang tua perlu melatih gar mereka dapat mengembangkan kemampuan anak2 tersebut. Lalu bagaimana untuk bisa melatih anak agar menjadikan dunia anak kita, dunia anak yang cerdas dan kreatif?

Berikut langkah-langkah agar dunia anak kita cerdas & kreatif :

1. Berkreasi setiap hari

Untuk menunjukkan kepedulian kita pada sang buah hati dalam berkreasi, marilah kita ajarkan buah hati kita untuk membuat sesuatu yang kreatif. Misalnya dengan menggambar, melipat kertas, bermain game ( porsi yang semestinya), bermain permainan-permaian edukatif, bernyanyi, bercerita, dan masih banyak lagi. Usahakanlah untuk bisa menemukan sesuatu yang baru dan berbeda dari apa yang pernah dilakukan oleh sang buah hati, sehingga anak tidak merasa bosan dan terpacu untuk lebih berpikiran kreatif.

2.Menggunakan ke dua sisi tubuh

Hal ini memang tidak lazim dilakukan. Namun bila buah hati kita kita latih sejak dini untuk melakukan hal ini, maka hal ini akan sangat bermanfaat di kemuadian hari. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melatih anak melakukan sesuatu menggunakan kedua sisi tubuh. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan menggambar atau mewarnai menggunakan tangan yang biasa digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya, buah hati kita biasa menggunakan tangan kanan saat melakukan aktivitas sehari-hari (menulis, sikat gigi, makan, dll). Maka kita ajari mereka menggunakan tangan kiri saat menggambar. Akan lebih baik lagi bila dalam aktivitas sehari-hari pun mereka juga terlatih untuk menggunakan tangan yang bergantian. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk menyeimbangkan otak kanan dan kiri.

3. Memiliki tokoh yang bisa diteladani dan diidolakan

Dengan memperkenalkan banyak tokoh dunia yang telah sukses, anak-anak menjadi tahu berbagai macam kepribadian dan prestasi dari orang lain. Hal ini sangat penting. Kenapa? Karena anak-anak suka sekali meniru orang lain. Tokoh-tokoh ini bisa seorang pahlawan, penemu, rohaniwan, dan tokoh-tokoh lain yang bisa menjadi teladan buat sang buah hati. Jangan sampai buah hati kita hanya mengidolakan tokoh-tokoh kartun atau film (seperti Tom and Jerry, Superman, Batman, dll). Hal ini memang tidak dilarang, namun akan lebih baik bila tokoh-tokoh tersebut adalah seseorang yang nyata sehingga bisa menumbuhkan motovasi anak untuk meniru hal-hal yang baik di dalam diri tokoh tersbut, lalu diteladani dalam kehidupan yang nyata.

4. Meningkatkan perbedaharaan kata pada anak

Semakin tinggi perbedaharaan kata anak, maka seorang anak akan menjadi lebih mudah dalam memahami seseuatu. Misalnya pada saat membaca. Bila buah hati kita banyak mengetahui makna kata yang dia baca di dalam sebuah artikel, maka mereka akan lebih mudah memahami isi artikel yang ia baca. Dengan mengerti isi artikel yang ia baca, maka pengetahuan si kecil pun menjadi lebih luas.

5. Melatih kemapuan mendengar anak

Secara pribadi, sebagai guru bahasa Inggris, saya sering menggunakan media audio sebagai media pembelajaran anak. Misalnya, dengan menggunakan Tape dan Laoudspeaker. Alat-alat tersebut saya gunakan saat melatih kemampuan mendengar anak-anak dalam belajar bahasa Inggris. Untuk melatih penglihatan, mungkin akan lebih mudah karena pada saat melihat TV pun anak-anak sudah belajar mengerti sesuatu dengan indera penglihatan. Agar indera pendengaran bisa terlatih dengan baik, alangkah lebih baik bila kita sering-sering mengajak anak untuk mendengarkan lagu atau cerita lalu menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan lagu atau cerita tersebut (misalnya dengan cara tebak-tebakan).

6. Menggunakan warna-warni saat bermain dan belajar

Mengapa mainan anak-anak berwarna-warni? Mungkin sebagian dari kita warna-warni hanya digunakan untuk menarik minat anak-anak untuk membeli mainan yang ditawarkan. Namun sebenarnya ada fungsi lain yang lebih bermanfaat. Warna-warni yang biasa dipakai dalam mainan anak ternyata juga bisa mengaktifkan otak kanan. Jadi pada saat buah hati kita belajar menulis, menggambar, dan mewarnai, usahakan menggunakan pensil atau peralatan lain yang berwarna-warni.

7. Melatih ketelitian anak

Saat anak melihat sebuah gambar jerapah, akan lebih mudah bagi anak untuk mengatakan bahwa itu adalah seekor jerapah, daripada melihat kaki jerapah yang panjang dan meminta anak menyebutkan alasan kenapa kaki jerapah begitu panjang. Mengapa hal ini sangat penting? Karena dengan membiasakan anak untuk belajar sesuatu secara lebih mendetail atau kompleks, maka anak-anak akan menjadi lebih termotivasi untuk “mengenal secara lebih” tentang sesuatu yang sudah mereka ketahui. Sehingga kelak setelah mereka dewasa, mereka tidak hanya tertarik untuk menggunakan sesuatu yang telah ada, namun menemukan hal-hal baru lain tentang sesuatu yang pernah ia pakai dan menciptakan sesuatu yang baru lewat sesuatu yang telah ada (semoga bahasanya bisa dipahami).

8. Memberikan liburan yang kreatif

Liburan yang kreatif tidak harus mahal, namun yang terpenting adalah sesuai dengan minat anak. Hal ini bahkan bisa dilakukan di rumah. Misalnya dengan berkebun, mendekorasi rumah, membuat kreasi pernik-pernik, dan masih banyak lagi. Bila perlu kita juga mengajak anak berlibur di luar rumah, misalnya ke tempat wisata yang memiliki permainan outbound. Anak-anak aktif biasanya akan menyukai hal ini, karena segala “emosi dan jiwa” mereka bisa tersalurkan dengan baik. Selain itu, dari pembinaan kakak outbound, anak akan mendapatkan banyak pelajaran tentang arti kerjasama, toleransi, sosialisasi, dan lain-lain. Anak aktif juga harus memiliki moral dan etika yang baik kan? Selain itu diperlukan juga….

9. Jangan terlalu serius dalam mendidik

Suasana keluarga yang terlalu serius dan kaku, biasanya juga kurang mendukung kreatifitas anak untuk bisa berkembang. Gurauan dan humor-humor kecil sangatlah penting di dalam sebuah keluarga. Kita bisa mengajak buah hati kita bercanda pada saat-saat santai, membacakan cerita humor, menceritakan pengalaman sehari-hari yang lucu, dan masih banyak lagi cara lain yang bisa membuat anak merasa rileks saat bertemu dengan orang tuanya. Hal ini juga akan membuat anak merasakan suka cita saat berada di dalam rumah, sehingga anak-anak kita pun bisa lebih ekspresif terutama yang berhubungan dengan kreatifitas yang dia minati dan bakat yang dimiliki.

10. Melatih kemampuan otak kanan

Dengan mengajak anak-anak bernyanyi, berpuisi, menggambar, dan berbagai macam kegiatan kreatif lainnya, kemapuan otak kanan akan bekerja dengan lebih optimal. Di sekolah, biasanya anak-anak akan lebih cenderung menggunakan otak kiri, dan bila kemampuan otak kanan dan kiri bisa bekerja dengan baik dan seimbang, maka anak-anak tidak hanya akan berpeluang mendapatkan prestasi di bidang akademisa saja, melainkan bisa meraih prestasi-prestasi di bidang yang lain, misalnya kesenian.

Wassalam,
Thank you for reading Agar Dunia Anak Kita Cerdas dan Kreatif

Wednesday, April 19, 2017

Yuk .. Kita Didik Anak Tanpa Kekerasan



Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

MASIH banyak anggapan bahwa anak adalah komunitas kelas bawah, yang merupakan pribadi-pribadi kecil dan lemah yang seolah sepenuhnya harus berada dibawah kendali kekuasaan orang dewasa, sehingga berakibat orangtua pun merasa berhak melakukan apa saja terhadap anak.

Paradigma yang keliru tersebut kini terus berkembang, sehingga baik di rumah maupun di sekolah banyak diajarkan bahwa anak-anak harus menurut sepenuhnya kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang lain. Sikap anak tidak boleh membantah, mengkritik, apalagi melawan tanpa adanya penjelasan secara terperinci dalam situasi bagaimana hal itu seharusnya dilakukan.

Alfie Kohn (2006) menemukan banyak kasus terjadinya tindak kekerasan, penindasan, dan perlakuan diskriminatif terhadap anak. Anehnya, sikap perlakuan tersebut dianggap sebagai suatu hal yang wajar bahwa seolah-olah mendidik anak memang harus dilakukan dengan kekerasan. Padahal mengasuh anak merupakan tugas yang teramat mulia, karena anak adalah anugerah ilahi dan amanah yang patut kita jaga.

Cara pandang yang keliru tersebut harus diubah sesuai paradigma baru dengan pola pengasuhan anak yang benar. Apabila orangtua menginginkan munculnya pribadi-pribadi unggul di masa depan, diharuskan kepada orang tua dan pendidik untuk menghentikan berbagai kekerasan terhadap anak atas nama pendidikan. Sebab pendidikan tidak identik dengan kekerasan dan tidak sekedar memberikan instruksi atau komando, melainkan harus memberikan hati dan jiwa kedewasaan yang sarat dengan cinta dan kasih sayang.

Sebagai seorang psikolog terkemuka Amerika Serikat, Alfie Kohn memaparkan bagaimana cara mencintai anak. Karena apa yang mereka lakukan (cinta bersyarat) atau mencintai anak karena siapa mereka (cinta tidak bersyarat). Cinta bersyarat artinya, anak-anak harus mendapatkannya dengan bertindak dalam cara-cara yang kita anggap tepat atau melakukan sesuatu dengan standar kita. Cinta tidak bersyarat, dalam hal ini cinta tidak bergantung pada bagaimana mereka bertindak, apakah mereka berhasil atau bersikap baik atau yang lainnya.

Mencintai anak tanpa syarat akan menghasilkan pengaruh positif dan bukan hanya sesuatu yang benar untuk dilakukan secara moral, tetapi juga merupakan sesuatu yang cerdas dan mendidik. Anak-anak perlu dicintai sebagaimana mereka apa adanya dan karena siapa mereka. Karena apabila hal itu terjadi, maka mereka dapat menerima diri sendiri secara mendasar sebagai orang baik, bahkan ketika mereka membuat kesalahan atau gagal. Karena cinta tanpa syarat ini adalah apa yang diperlukan anak-anak untuk berkembang.

Apabila orangtua menggunakan hukuman, penghargaan dan strategi lainnya untuk memanipulasi perilaku anak, mereka mungkin merasa disayang hanya jika mereka menuruti permintaannya. Pengasuhan bersyarat dapat menjadi konsekuensi dari pengontrolan, sebaliknya pengontrolan dapat membantu menjelaskan pengaruh merusak dari pengasuhan bersyarat, namun pengontrolan yang berlebihan secara umum terbukti jelas menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan mental anak dan keberhasilan mereka di sekolah.

Dalam pola pengasuhan anak yang "otoriter", orang tua yang seperti itu lebih sering menuntut daripada menerima dan memotivasi. Orangtua jarang memberi penjelasan atas aturan yang diterapkan. Orangtua seringkali mengharapkan kepatuhan mutlak dan menggunakan hukuman sesukanya, daripada memberi kebebasan kepada anak untuk berpikir sendiri.

Saatnya kita mengajak kepada semua orangtua agar mengubur dalam-dalam tujuan ambisius dan menuruti keinginannya dengan memakai cara pemaksaan dan kekerasan. Sebagai solusinya yaitu orangtua harus membangun hubungan yang hangat dan kuat dengan anak, serta memperlakukannya dengan hormat, meminimalkan pengontrolan dengan paksa, dan bila perlu memberi penjelasan yang mendidik.

Mengasuh anak dengan paksa maupun memberi hukuman tidak akan membuahkan hasil positif, karena ada beberapa dugaan dan alasan yang rasional berikut. Pertama, konsekuensi hukuman seringkali membuat marah siapapun yang menerima hukuman. Kedua, hukuman merupakan contoh penggunaan kekuasaan, misal hukuman fisik yang diberikan kepada anak-anak adalah kekejaman yaitu penggunaan kekuatan untuk menyelesaikan masalah.

Ketiga, hukuman pada akhirnya tidak efektif. Seperti yang ditunjukkan Thomas Gardon, "Akibat yang tidak dapat dihindari dari penggunaan kekuasaan yang terus menerus untuk mengontrol anak-anak ketika mereka masih kecil adalah bahwa Anda tidak pernah belajar bagaimana cara mempengaruhi, semakin anda bergantung pada hukuman, maka semakin sedikit pengaruh nyata yang akan Anda miliki dalam kehidupan mereka".

Keempat, hukuman mengikis hubungan orangtua dengan anak-anak. Karena dengan menghukum, penghukum dianggap sebagai musuh, dan membuat anak-anak kesulitan untuk menganggap orangtua sebagai kawan yang penuh perhatian, yang sangat penting bagi perkembangan anak yang sehat. Kelima, hukuman mengalihkan perhatian anak-anak dari persoalan yang sebenarnya dan membuat anak-anak menjadi lebih egois.

Dari kelima model hukuman tersebut di atas, penting menjadi pelajaran bagi semua orangtua, guru dan siapa saja yang terlibat dalam mengasuh dan membimbing anak. Dengan begitu, diharapkan kekerasan pada anak tidak terjadi lagi, karena salah proses pengasuhan.

Semoga bermanfaat. wassalam.

Terima kasih bila sobat-sobat sudi berbagi disini ... :)

Thank you for reading Yuk .. Kita Didik Anak Tanpa Kekerasan

Tips Memilih Sekolah Terbaik Buat Anak


Banyak pilihan sekolah yang ada saat ini mulai dari sekolah milik negeri, sekolah berbasis agama, sekolah internasional atau sekolah dengan pola khusus seperti sekolah alam.Tapi Anda harus cermat untuk memilih sekolah mana yang bagus untuk si kecil, karena sekolah juga menentukan masa depan dan perilakunya.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih sekolah TK dan SD yang baik untuk anak. Yang terpenting kata pakar dan praktisi pendidikan anak Arif Rachman, dalam sekolah tersebut terdapat sentral bermain anak untuk mengembangkan 5 hal penting, yaitu spiritual, emosional, jasmani, intelektual, dan sosialnya, yang dikemas dalam kegiatan belajar mengajarnya.

Dalam memilih sekolah sebaiknya pilihlah sekolah yang tertib, teratur dan bersih, karena lingkungan sekitar sekolah juga mempengaruhi proses belajar mengajar anak-anak. 

Lingkungan yang tidak kondusif bisa merusak konsentrasi anak ketika sedang belajar. Serta pastikan bahwa sekolah tersebut mempunyai visi dan misi yang tidak melanggar Undang-Undang Pendidikan.

Selain lingkungan serta visi dan misi sekolah tersebut, hal yang penting untuk diperhatikan adalah guru-guru dari sekolah tersebut.

"Untuk guru TK sebaiknya telah mendapatkan pendidikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sedangkan untuk sekolah dasar sebaiknya memiliki pendidikan minimal S1 dan untuk guru kelas 1,2, dan 3 yang mengajar semua mata pelajaran sebaiknya juga mendapatkan pendidikan PAUD," ujar Arif .

Beberapa tips memilih sekolah yang baik untuk anak: 
  • Untuk memilih sekolah dasar bisa dilihat dari output yang dihasilkan. Seperti berapa banyak lulusan sekolah dasar tersebut yang bisa masuk ke SMP unggulan. Karena banyaknya lulusan yang bisa masuk sekolah unggulan berarti sekolah tersebut mempunyai sistem pembelajaran yang bagus. 
  • Untuk memilih taman kanak-kanak pilihlah TK yang mempunyai sistem belajar yang baik dalam hal belajar menulis, membaca dan sosial. 
  • Sebelum masuk taman kanak-kanak tidak ada salahnya memasukkan anak anda ke PAUD. Karena di PAUD anak Anda bisa belajar bersosialisasi dengan teman-temannya, diajarkan bernyanyi, menulis dan membaca. Dan PAUD memberikan kegiatan yang positif untuk anak. 
  • Anak-anak SD sebaiknya diberikan kegiatan intra, ekstra dan co-kurikuler yang seimbang, sehingga didapatkan kemampuan intelektual dan sosial yang seimbang. 
  • Sedangkan untuk TK pilihlah TK dengan metode bermain sambil belajar dibandingkan dengan program belajar secara klasik. 

"Untuk memilih sekolah TK dan SD, pilihlah sekolah yang memiliki jarak tidak terlalu jauh dengan rumah, sehingga anak masih mempunyai waktu yang cukup untuk berkumpul dengan keluarga, dan bermain dengan orang tua, untuk orang tua yang sibuk pastikan bahwa pengasuh anak kita mempunyai pendidikan yang baik," jelas Arif.

Yang tak kalah penting dibutuhkan kerjasama yang baik antara guru di sekolah dengan orang tua dirumah dan juga dengan pengasuhnya. Tujuannya agar apa yang sudah diajarkan di sekolah bisa tetap dilanjutkan dirumah, sehingga anak bisa memiliki intelektual, emosional, spiritual, jasmani dan sosial yang bagus.


Thank you for reading Tips Memilih Sekolah Terbaik Buat Anak

Tuesday, April 11, 2017

Pre-School : Tak Perlu Jika Ibu Kreatif

Setiap orang pasti ingin agar anaknya cerdas untuk memperoleh masa depan yang gemilang. Berbagai upaya dan investasi dilakukan sejak dini demi kelancaran tumbuh kembang si kecil nantinya. Pre-School pun mulai banyak diminati para orang tua karena dianggap dapat mencetak anak berprestasi.

Psikolog anak, Dr. Rose Mini AP, Mpsi atau yang populer dengan panggilan bunda Romi menyebutkan bahwa IQ anak dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu nature (genetik) dan nurture (stimulasi) seperti bermain, musik, bahasa, dan lainnya.

Menurutnya, 80% otak anak berkembang sejak masa kandungan hingga umur 3 tahun. "Bahkan umur 1-3 tahun, anak dapat menyerap 13 juta kata, asalkan si anak mendapatkan rangsangan dan stimulasi," ujar bunda Romi.

Melihat tren yang berkembang di kalangan orang tua saat ini, yaitu berlomba-lomba memasukkan anaknya ke pre-school, terkadang menjadi dilema bagi beberapa orang tua yang tidak sanggup menyekolahkan anaknya sedini mungkin.

Namun ternyata, memasukkan anak ke pre-school bukan jalan satu-satunya mencetak anak pintar. Seorang anak dapat merasakan suasana pre-school di dalam rumah, asalkan sang ibu kreatif.

"Nggak ada sekolah buat orang tua. Orang tua harus kreatif dan banyak mencari informasi tentang tumbuh kembang anak. Orang tua harus mau susah, jangan menganggap memasukkan anak ke pre-school dapat meringankan tangung jawabnya, karena bisa bahaya," tegas bunda Romi.

Menurutnya, bahaya memasukkan anak ke preschool adalah ketika orang tua menjadi lepas tangan. Selain itu bila sistem yang diterapkan di sekolah tidak sama dengan sistem di rumah, anak bisa bingung.

"Contohnya jika orang tua memasukkan anaknya ke sekolah Islami dengan disiplin yang ketat, tetapi di rumahnya tidak diterapkan, sama saja bohong," ucapnya.

"Boleh saja memasukkan anak ke pre-school sejak batita, asalkan tidak membuat anak jenuh. Usahakan mereka lebih banyak bermain, karena dengan bermain informasi akan lebih cepat masuk ke otak,"saran bunda Romi.

Sebuah penelitian membuktikan bahwa orang tua yang melatih anak dengan bermain, maka informasi yang masuk dapat mencapai 80%. Namun bila dipaksa, informasi tidak akan masuk karena seperti ada tirai yang menghalanginya masuk.

"Pada dasarnya bagi anak-anak, bermain merupakan cara belajar yang paling alami serta dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak," jelas bunda Romi.

Untuk ibu yang mendidik anaknya di rumah, dapat menggunakan cara-cara kreatif yang menmstimulasi si anak. "Cari alat stimulasi yang mudah. Misalnya,menstimulasi bunyi-bunyian dari peralatan kaca, atau menggunakan jari-jari tangan untuk berkomunikasi dengan cara unik, lucu dan menarik bagi anak," tambahnya.

Jika Anda tertarik memasukkan anak ke pre-school, ini dia tipsnya memilih preschool yang tepat :
  1. Pilih sekolah (pre-school) yang dapat mengoptimalkan anak.
  2. Jangan paksakan anak untuk belajar, cobalah mencari berbagai permainan yang disesuaikan dengan gaya berpikirnya.
  3. Cari pre-shool yang gurunya tidak keluar masuk, karena anak perlu attachement atau kedekatan untuk tumbuhkembangnya.
  4. Harus yang banyak kegiatan motorik kasarnya (jalan, lari, dll).
  5. Ada kegiatan outdoornya (50:50), jangan langsung akademis.
  6. Jalin komunikasi dengan pihak sekolah atau guru untuk mengetahui perkembangan anak di sekolah.

Dalam kesempatan tersebut, Maudy Koesnaedi yang hadir sebagai nara sumber sekaligus moderator pun bertanya mengenai pentingnya mengajarkan bahasa asing pada anak sejak balita.

"Para ibu cenderung menginginkan anaknya bisa menguasai beberapa bahasa dengan cara memasukkan si kecil ke preschool yang proses belajarnya menggunakan beberapa bahasa, sebenarnya baguskah hal seperti itu?" tanya Maudy.

Menurut bunda Romi, memang banyak orang tua yang ngerasa anaknya keren kalau ngomong bahasa asing. 'Nggak ada yang ngelarang, tapi yang jadi masalah adalah ketika anak bingung bahasa apa yang dipakainya nanti sehari-hari," ucap bunda Romi.

Selain itu, orang tua terkadang tidak memperhatikan apakah si kecil sudah siap atau belum jika si kecil disekolahkan di tempat yang proses belajarnya menggunakan beberapa bahasa. Untuk itu, kemampuan bahasa anak pun perlu dites dan dipertimbangkan lagi.

"Amati berapa kata yang dapat ia serap tiap harinya. Pertimbangkan juga kebutuhan keluarga dan anak sebelum menggunakan bilingual, apakah sering dipakai atau tidak bahasa asing tersebut di rumah," jelas bunda Romi.

Yang terpenting adalah mengajarkan bahasa ibu dulu, baru bahasa sehari-hari. "Walaupun suami saya orang Belanda, tapi saya mengajarkan bahasa Indonesia dulu, baru setelah dia siap belajar bahasa asing, saya ajarkan," ujar Maudy yang saat ini sudah setahun menyekolahkan anaknya di pre-school Planet Kids.

Nah, para orang tua, sebelum Anda menitipkan anak pada satu sekolah, tidak ada salahnya melakukan school shopping untuk melihat sejauh mana kecocokan visi misi serta kurikulum pre-school itu dengan kepribadian si anak.

"Tapi kalau sang ibu kreatif dan punya banyak waktu untuk menstimulasi pertumbuhan anak di rumah, ngapain dimasukin preschool?" ucap bunda Romi.nu/det

Thank you for reading Pre-School : Tak Perlu Jika Ibu Kreatif

Monday, March 6, 2017

Menstimulasi Kecerdasan Anak Berdasarkan Usia Anak


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Mempunyai anak cerdas menjadi dambaan setiap orangtua dan keluarga. Agar anak Anda cerdas, perlu stimulan-stimulan perangsang kerja otak sejak dini. Psikiater anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ, mengatakan, stimulan bisa diberikan sejak bayi lahir.

“Rangsangan yang dilakukan harus dalam suasana bermain, terus menerus dan bervariasi,” katanya dalam talkshow ‘Bagaimana Membentuk Seorang Anak Yang Sehat, Cerdas, dan Berkualitas’ di Jakarta, Sabtu, 10 Oktober 2009.

Rangsangan akan membantu pembentukan cabang-cabang sel otak dan melipatgandakan jumlah hubungan antarsel otak sehingga terbentuk sirkuit otak yang lebih kompleks, canggih, dan kuat.

Pemberian stimulan bervariasi tergantung umur si anak.

Usia 0-3 bulan

Rangsangan yang bisa diberikan berupa rasa nyaman, aman, dan menyenangkan, seperti memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, membunyikan suara atau musik, menggerakkan benda berwarna mencolok, menggulingkan perlahan ke kanan dan ke kiri, serta memposisikannya tengkurap/ telentang.

Usia 3-6 bulan

Ajak bayi bermain cilukba, dan bercermin untuk melihat ekspresinya sendiri. Pada usia ini, mulailah melatih bayi untuk tengkurap, duduk, dan telentang sendiri.

Usia 6-9 bulan

Orangtua bisa mulai membiasakan memanggil nama si anak, berjabat tangan, bertepuk tangan, melatih berdiri dengan pegangan, dan membacakan dongeng.

Usia 9-12 bulan

Ajaklah si kecil untuk menirukan menyebut nama mama dan papanya. Ajarkan pula dia minum dari gelas, atau bermain menggelindingkan bola dan melatihnya belajar mengambil bola sendiri.

Usia 12-18 bulan

Ajarkan si kecil untuk mencorat-coret dengan pensil warna di kertas, menyusun kubus, balok, dan puzzle. Saatnya pula melatihnya berjalan tanpa pegangan, berjalan mundur, dan memanjat tangga.

Usia 18-24 bulan

Mulai ajak si kecil berdiskusi tentang gambar atau menunjuk bagian tubuh. Ajak bicara tentang kegiatan sehari-hari, dan latihan mencuci tangan.

Usia lebih 2 tahun

Pada usia ini anak sudah mulai disiapkan untuk aktivitas prasekolah. Ajar si kecil mengenal warna, menghitung benda, menyikat gigi, memakai baju sendiri, belajar ke toilet sendiri, dan semua hal yang melatih si kecil mandiri.

Semoga bermanfaat, wassalam.
Thank you for reading Menstimulasi Kecerdasan Anak Berdasarkan Usia Anak

Tuesday, January 24, 2017

Kenapa Laut Warnanya Biru?


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreaif.

Ada yang bilang kalau AIR tidak berwarna alias “bening”. Air laut berwarna biru karena pantulan warna langit? Benarkah semua pernyataan diatas? Barangkali teman-teman bahkan guru kamu di sekolah akan bilang hal yang sama. Tapi tahukah kamu bahwa sebenernya air itu “berwarna” dan itulah yang menyebabkan kenapa air laut berwarna “biru”. Mau tau kenapa?

Air bersih memiliki warna, warna air adalah biru, mengapa begitu? Karena “lapisan” air menyerap “gelombang” cahaya matahari (yang kamu tau terdiri dari “tujuh” elemen warna). Nah molekul-molekul air ini “menyerap” warna-warna itu dan menyisakan warna biru, dan itulah yang terlihat oleh mata kita.

Kamu tidak akan bisa melihat warna “biru” air itu pada segelas air, tapi coba deh kamu tuangkan air ke dalam bak kamar mandi kamu hingga penuh (yang berwarna putih), lalu amati warnanya, “biru” kan?. Karena sekali lagi “lapisan” air di gelas tidak lah cukup menyerap “warna cahaya” yang datang kepadanya, sehingga air tidak bisa menunjukkan warna biru aslinya.

Berarti sudah jelas kan, kenapa air laut yang lebih luas dari bak kamar mandi kamu berwarna biru? Hmm tunggu dulu, lautan mengandung banyak sekali partikel-partikel mulai dari ikan, karang, plankton, dan sebagainya. Ada juga zat organik terlarut yang dalam istilah Jerman disebut gelbstoff. Materi-materi ini lah yang menyebabkan “penyerapan” cahaya matahari sehingga hanya menyisakan warna “biru gelap” bagi lautan.

Selain penyerapan atau adsobsi cahaya, warna laut disebabkan juga oleh “penghamburan cahaya” oleh mahluk-mahluk kecil di laut seperti fitoplankton (tumbuhan sangat kecil) dan zooplankton (hewan sangat kecil). Akibatnya, kamu juga kerap melihat warna laut biru cerah kehijauan di perairan yang ada di laut di daerah tropis termasuk di negeri kita.

Cahaya matahari yang berlimpah dan iklim panas sangat baik buat pertumbuhan plankton. Oh ya satu lagi, warna langit juga ikut memberi andil bagi warna laut, tapi kecil sekali, setidaknya jika langit mendung, air laut juga tidak “kebiru-an”

Sudah jelas kan?

Coba buktikan dengan percobaan diatas, diskusikan dengan teman dan guru kamu ya.
Thank you for reading Kenapa Laut Warnanya Biru?

Tuesday, August 2, 2016

JADWAL HARIAN ANAK

Penting dibuat karena anak jadi lebih disiplin dan bertanggung jawab.

Jangan biarkan waktu anak terbuang percuma. Manfaatkanlah secara maksimal agar apa yang diperolehnya sehari-hari bisa menjadi maksimal. Salah satunya dengan membuat jadwal harian. Jadwal yang teratur membuat anak memperoleh beragam kegiatan secara merata, sehingga pengalamannya lebih komplet.

Di sisi lain, dengan ketiadaan jadwal harian yang baik, anak akan mendapat konsekuensi langsung yang bisa merugikan dirinya sendiri. Contoh, bila anak keasyikan bermain kemudian lupa makan, dia akan kelaparan sehingga mudah terganggu kesehatannya. Kalau kurang tidur, maka anak akan sering rewel, mudah marah, dan lainnya.

Meskipun dampaknya terlihat sederhana, jika sering terjadi dapat menimbulkan kerugian yang cukup luas. Anak yang sering rewel misal, dia tak bisa mendapatkan manfaat interaksi sosial secara maksimal karena dalam bermain dia akan sering ngambek. Bila terlambat makan kemudian dia jajan sembarang, lebih mudah terserang penyakit.

Tak demikian halnya bila kita menerapkan jadwal harian secara baik, anak justru akan memperoleh banyak manfaat. Dia jadi lebih disiplin dan bertanggung jawab. Anak pun dapat mengenal konsep waktu dan konsep urutan.

4 MANFAAT

1. Belajar Konsep Waktu

Pemahaman konsep waktu didapatnya saat melakukan berbagai kegiatan di pagi, siang, sore, dan malam. Pagi, setelah bangun tidur misalnya, anak akan memahami kalau di saat itu dia harus mandi, sarapan, dan pergi ke sekolah. Selanjutnya di siang hari dia harus makan siang dan tidur siang. Begitu juga sore dan malam hari, anak akan melakukan kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan di waktu-waktu tersebut, dari bermain di taman hingga tidur malam.

Supaya pemahaman anak akan konsep waktu lebih mendalam, cobalah terangkan waktu saat anak melakukan aktivitas, "Adek, sudah pagi, bangun yuk! Habis gitu kita mandi." Saat siang kita bisa bilang, "Nah, siang ini kamu waktunya tidur siang." Dengan penjelasan seperti ini, anak jadi lebih memahami konsep waktu.

2. Belajar Konsep Urutan

Setelah terbiasa melakukan kegiatannya, anak mulai memahami urut-urutan aktivitas yang harus dia lakukan, "Sehabis mandi aku akan sarapan, kemudian berangkat ke sekolah." Dengan memahami urut-urutan ini, aktivitas anak akan berjalan lebih teratur. Berbeda dengan anak yang tak memiliki jadwal harian, dia akan secara serabutan melakukan aktivitasnya. Mungkin hari ini dia akan tidur siang dahulu baru bermain atau bermain dahulu hingga sore baru tidur. Tentu hal ini tidak membuat anak belajar tertib sehingga banyak aktivitas yang seharusnya bisa dimanfaatkan maksimal malah terbuang percuma.

3. Disiplin

Setelah memahami jadwal yang harus dilakukannya, anak akan dituntut untuk disiplin mematuhinya, "Oke, sekarang memang waktunya tidur siang jadi aku harus mematuhi Mama." Memang, awalnya agak sulit menerapkan kedisiplinan ini namun lambat laun anak akan terbiasa. Nah, setelah kedisiplinan itu melekat pada anak, selanjutnya akan mudah bagi anak melakukan aktivitas yang sudah kita jadwalkan. Kelak di saat dewasa, dia lebih mudah mengatur jadwal kesehariannya karena sudah terbiasa sejak kecil. Dengan disiplin tinggi biasanya kesuksesan hidup akan lebih mudah diraih.

4. Bertanggung Jawab

Disiplin erat kaitannya dengan tanggung jawab. Setelah anak mampu berdisiplin, otomatis rasa tanggung jawab pada dirinya pun akan muncul. Anak bertanggung jawab terhadap apa yang harus dilakukannya di saat pagi, siang, sore, dan malam. "Sekarang waktunya makan siang, aku harus makan," misal. Sikap tanggung jawab yang sudah muncul sejak kecil akan sangat bermanfaat kelak saat dewasa. Dia akan lebih mampu untuk menerima tugas dan menuntaskannya dengan baik.

Kiat Mengenalkan

Beberapa hal harus kita perhatikan saat mengenalkan jadwal harian kepada anak, mengingat banyak anak usia prasekolah yang masih memiliki sikap egosentris tinggi. Mereka ingin melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya, semaunya, tidak mau diatur, dan sebagainya. Nah, berikut ini 4 hal penting yang harus jadi perhatian orangtua!

1. Berikan Penjelasan

Anak tak akan paham bila kita tak menjelaskan apa yang ingin kita terapkan kepadanya. Untuk itu, berikan penjelasan secara sederhana mengenai jadwal harian, "Adek lihat, ini adalah jadwal harian kamu!" sambil menunjuk papan jadwal yang bergambar aneka tokoh kartun kesayangannya. "Pagi hari kamu mandi, sarapan terus ke sekolah deh. Nah, siangnya sepulang sekolah kamu makan siang dan tidur siang..... " Dengan penjelasan seperti itu anak akan lebih memahami kalau ada kegiatan-kegiatan yang sudah terjadwal. Berbeda bila anak tak diberikan penjelasan sama sekali, dia akan lebih sulit untuk diarahkan karena memang dia tak tahu hal apa saja yang harus dilakukannya seharian.

2. Libatkan Anak

Sangat baik bila kita melibatkan anak saat menyusun jadwal hariannya. Selain anak merasa lebih dihargai, pelaksanaan jadwal harian pun dapat diterapkan lebih mudah. Pasalnya, anak merasa ikut dilibatkan sehingga dia merasa lebih bertanggung jawab untuk mematuhinya. Lagi pula, jika anak mangkir kita bisa mengingatkan bahwa ia juga yang menyusun jadwal itu. "Kamu kan sudah ikut membuat jadwal ini, masak tidak mau melaksanakannya!" Dengan pengingatan seperti ini akan lebih mudah membuat anak mematuhinya.

3. Lakukan Kontrol

Memang di awal agak sulit menerapkan jadwal harian pada anak. Butuh kontrol dari kita dengan selalu mengingatkan apa saja yang harus dilakukan anak saat pagi, siang, sore, dan malam. Dengan kontrol yang baik, anak akan terbantu untuk mematuhi jadwal hariannya.

Setelah anak bisa mengikuti jadwal hariannya, kontrol harus dilepas secara perlahan. Biarkan anak memegang kontrol sendiri terhadap jadwal hariannya, karena dengan kontrol sendiri anak bisa mendapatkan banyak manfaat seperti kedisiplinan dan tanggung jawab. Berbeda ketika kita yang harus terus-menerus mengingatkan anak, manfaatnya tak bisa diperoleh anak secara maksimal.

4. Bersikap Fleksibel

Agar jadwal harian tak terkesan membatasi aktivitas anak, sebaiknya di saat-saat tertentu kita harus fleksibel. Contoh, saat libur sekolah, hari raya, atau di saat-saat spesial yang sulit menerapkan jadwal harian. Biarkan sesekali jadwal tidur siang anak telat sedikit karena dia sedang asyik bermain dengan sepupunya yang sedang berlibur di rumah, atau biarkan anak tidak belajar karena memang sekolah sedang libur, dan lainnya. Dengan sikap fleksibel ini, anak tidak akan merasa tertekan ataupun stres.

Sikap fleksibel juga diperlukan terhadap si prasekolah yang egosentrisnya masih sangat tinggi, ataupun terhadap anak yang sudah terbiasa dengan jadwal yang sama sekali tidak teratur sehingga sangat sulit menjadwalkan kegiatan hariannya. Begitu pula bila anak tumbuh di lingkungan yang "hidup" tanpa jadwal. Setiap hari, anak-anak tetangga bermain sepanjang hari sehingga sangat sulit bagi kita meminta anak untuk tidur siang. Contoh, pukul 2 siang kita mengharuskan anak tidur siang padahal anak-anak lingkungan sekitar sedang ramai, hilir mudik, asyik bermain.

Nah, menghadapi kondisi-kondisi tersebut, kita tak perlu menuntut anak untuk 100% mematuhi jadwal hariannya. Bila memang hanya 50% yang bisa diikutinya, itu pun sudah merupakan keberhasilan mengingat memang sangat sulit menerapkannya secara penuh. Ingat, jadwal harian dibuat tidak untuk mengungkung anak tetapi butuh fleksibilitas sehingga kebutuhan anak tetap terpenuhi. Yang penting, kita tetap berusaha memenuhi jadwal yang sudah dibuat.

CONTOH JADWAL HARIAN ANAK


Waktu Kegiatan

06:00
Bangun tidur, mandi

07:00
Sarapan

08:00-10:00
Sekolah/kegiatan di kelompok bermain

10:00-13:00
Istirahat di dalam rumah; bisa melakukan kegiatan-kegiatan ringan, seperti mewarnai, main boneka, menonton film dan lainnya.

13:00
Makan siang

14:00-16:00
Istirahat tidur siang

16:00
Jalan-jalan/bermain bersama teman

18:00
Makan malam, ngobrol bersama orangtua atau diskusi

21:00
Tidur malam

Catatan:

Pada dasarnya jadwal harian harus disesuaikan dengan kebutuhan anak. Bisa jadi waktu tidur hanya 1 jam pada siang hari, selebihnya mungkin diisi kegiatan bersama orangtua/orang dewasa lainya, semisal main musik, olahraga, aktivitas seni, dan lainnya.

Thank you for reading JADWAL HARIAN ANAK

Monday, August 1, 2016

Memilih Les sesuai karakter anak


Tujuannya mengembangkan karakter anak agar lebih positif.

Orangtua sekarang banyak yang mengikutkan anak prasekolahnya ke berbagai les yang bersifat nonakademis, seperti menggambar/melukis, menari, bela diri, olahraga, dan sebagainya. Selain karena ingin anaknya memiliki kelebihan yang dapat ditonjolkan dan dibanggakan, juga agar mampu bersaing di era globalisasi. Hal ini wajar saja. Apalagi, dengan ikut les dapat mengoptimalkan minat dan bakat anak, kemampuan bersosialisasi, dan lainnya. Yang penting, kursus tersebut harus sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan anak. Selain itu, orangtua harus pula memerhatikan karakter anaknya.

Karakter adalah kebiasaan dan sikap-sikap yang sering muncul sehingga menghasilkan suatu sikap dan tingkah laku tertentu yang berbeda dari anak lainnya. Jika anak mengikuti les yang sesuai dengan karakternya, maka hasilnya akan menguntungkan karena anak dapat mengembangkan sisi positif dari karakternya dan meredakan sisi negatifnya.Secara umum, ada 4 karakter dasar anak yaitu aktif, pasif, percaya diri, dan pencemas. Fabiola Priscilla, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Jakarta, menjelaskannya berikut ini!

1. AKTIF

* Ciri-Ciri:

Anak giat beraktivitas, tampak energik, dan membutuhkan ruang gerak yang luas.

* Jenis les yang dapat diikuti:

Cocoknya diikutkan les yang berkaitan dengan gerak tubuhnya yang aktif, seperti olahraga, bela diri, dan seni gerak, sehingga anak dapat menyalurkan kelebihan energi yang dimilikinya. Jika lingkungan rumah mendukung, memiliki halaman luas dan ada anggota keluarga yang suka main bola, maka anak juga bisa melakukan aktivitas main bolanya tanpa perlu masuk ke dalam klub olahraga sepak bola. Cara ini pun bisa menyalurkan minat anak tanpa mengabaikan karakteristiknya.

Selain jenis les yang disebutkan di atas, pada dasarnya anak aktif bisa mengikuti semua jenis les, baik itu olahraga, bela diri, seni, keterampilan, maupun sains. Ini karena anak selalu antusias dengan sesuatu hal dan mudah beradaptasi dengan lingkungannya.

2. PASIF

* Ciri-Ciri:

Anak terlihat lamban, kurang gesit, kurang suka kegiatan fisik, cepat mengaku lelah, dan agak lama menyesuaikan diri. Bila melakukan sesuatu yang sesuai dengan minatnya, baru terlihat antusiasmenya dan konsentrasinya pun bisa bagus.

* Jenis les yang dapat diikuti:

Biasanya, anak-anak yang pasif memiliki kemampuan observasi yang kuat dan imajinasinya juga tinggi. Jadi, bisa dipilihkan les yang memang memerlukan observasi mendetail dan kekuatan imajinasi, seperti catur, merakit robot, serta keterampilan tangan. Dengan begitu, kemampuan imajinasi, daya analisis, dan observasinya dapat berkembang optimal.Di sisi lain, anak pasif memiliki kekurangan dalam hal sosialisasi—biasanya sulit bergaul—sehingga perlu dipilihkan pula les yang dapat meminimalkan sisi kekurangan dari karakternya ini. Kegiatan berkelompok, seperti dalam klub sains, paduan suara, dan sanggar tari/teater akan membantunya bersosialisasi. Selain itu, anak pasif biasanya juga memiliki kendala dalam mengungkapkan ekspresi. Kegiatan melukis dapat membantu mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Begitu juga kegiatan olahraga seperti sepak bola. Energi yang dipendam atau unek-uneknya bisa dikeluarkan melalui pukulan atau tendangan pada bola.

Anak berkarakter pasif juga cenderung diam, sehingga baik bila diberikan les bela diri. Baik pula jika diikutkan les menari, berenang, dan lainnya yang membuat anak aktif bergerak mengingat anak pasif cenderung kurang bergerak.

Hal lain yang penting diperhatikan orangtua, karena anak pasif umumnya sulit menyesuaikan diri dengan segera, maka les sebaiknya diberikan secara bertahap dengan pengenalan terlebih dahulu.

3. PERCAYA DIRI

* Ciri-ciri:

Anak mudah beradaptasi dengan lingkungan baru alias mudah bergaul/bersosialisasi, lancar mengungkapkan pendapatnya, dan senang pada sesuatu yang ada tantangannya.

* Jenis les yang dapat diikuti:

Semua jenis les yang menjadi minatnya. Dengan mengikuti les, anak dapat menambah keyakinan akan kemampuan dirinya, bangga dengan kemampuan yang dimilikinya, sehingga rasa percaya dirinya pun makin bertambah.

4. PENCEMAS

* Ciri-ciri:

Anak mudah merasa takut salah dan menyerah; lama menyesuaikan diri dengan lingkungan baru; selalu butuh dukungan orangtua; sensitif dan mudah berprasangka.

* Jenis les yang dapat diikuti:

Yaitu, jenis les yang bisa menenangkan seperti meditasi atau yoga; les keterampilan dan bela diri untuk mengendalikan emosinya; serta les yang berkaitan dengan pembentukan karakter seperti teater kreatif.Anak yang pencemas perlu dilatih untuk mengatasi rasa cemasnya. Dibutuhkan dukungan dari orangtua agar anak merasa nyaman dengan lingkungan di tempat lesnya, baik pengajarnya maupun teman-temannya, dan lainnya. Bila anak diberikan les berupa keterampilan tangan, maka anak akan belajar menguasai skill tertentu sehingga dengan kemampuan itu ia bisa memiliki rasa percaya diri. Jenis keterampilan ini bisa juga dilakukan di rumah tanpa harus les. Carilah kegiatan yang bisa dilakukan di rumah. Yang harus diajarkan pada anak pencemas adalah sikap fleksibel terhadap perubahan.

PALING PAS DI USIA 4 TAHUN

Menurut Fabiola, 4 tahun adalah usia minimal untuk anak mulai ikut les. Ada 2 alasan yang mendasarinya. Pertama, kesukaan atau minat anak sudah lebih jelas kelihatan. “Jika di bawah usia itu, anak masih tergantung mood. Hari ini suka balet, tapi besok kesukaannya sudah berganti jadi melukis, misalnya.” Namun, saran Fabiola, sebelum anak berusia 4 tahun, orangtua sebaiknya sudah mengamati minat/kesukaan anaknya. Alasan kedua, di usia 4 tahun, kemampuan motorik kasar dan halus anak sudah lebih baik. Begitu pun daya tahannya terhadap tugas.(tabloid-nakita)
Thank you for reading Memilih Les sesuai karakter anak

Sunday, June 12, 2016

TANDA-TANDA SIAP MASUK TK


Modalnya bukan cuma mandiri dan siap ditinggal di kelas. Kenali kesiapannya dengan melihat berbagai aspek perkembangan di bawah ini.

Masuk TK berarti anak masuk ke lingkungan baru. Ia harus bisa berinteraksi dengan orang lain yang belum dikenalnya, menyesuaikan diri dengan suasana serta ruangan dan alam yang sangat berbeda dari apa yang ia ketahui sebelumnya. Tentunya si kecil tak bisa dilepas begitu saja memasuki dunia barunya tersebut, ia harus disiapkan lebih dulu. Kita sendiri yang sudah dewasa, pun, bila masuk lingkungan baru tanpa persiapan tentu akan canggung, kan?

Nah, berikut ini 4 faktor yang harus diperhatikan orang tua seperti dipaparkan Drs. Bambang Sujiono, M.Pd, kandidat Doktor Pendidikan Usia Dini (PUD) di Universitas Negeri Jakarta.

1. KESIAPAN FISIK

Aspek fisik meliputi motorik kasar dan halus. Pada motorik kasar, misal, anak sudah mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya untuk melakukan gerakan-gerakan seperti berlari, memanjat, naik-turun tangga, melempar bola, bahkan melakukan dua gerakan sekaligus semisal melompat sambil melempar bola.

Aktivitas belajar di TK memang banyak mengandalkan motorik kasar. Karenanya, bila anak aktif bergerak, justru itu yang diharapkan. Nanti di TK dikembangkan aspek fisik yang lain seperti keseimbangan, kelenturan, daya tahan dan lainnya. Jadi jangan sampai anak itu, misal, kekuatan kakinya bagus tetapi keseimbangannya kurang sehingga gampang jatuh. Atau, baru main sebentar langsung capek. Semua aspek fisik yang menjadi bagian motorik anak, selanjutnya harus dikembangkan di TK.

Sedangkan motorik halus akan sejalan dengan pembelajaran yang diberikan di TK. Anak akan belajar menggunting, melipat, memasukkan bola-bola, memilih biji-bijian. Nah, itu semua pasti akan jalan bila ditunjang oleh fisik yang bagus.

2. KESIAPAN EMOSIONAL

Kesiapan emosional yang paling penting menyangkut kemandirian. Paling tidak, ketika si anak berada di kelas, dia sudah duduk sendiri, tidak tergantung pada siapa-siapa, dan mau mengikuti perintah.

Kesiapan emosional lainnya ditunjukkan dengan kesiapan anak menerima situasi yang baru. Tentu wajar saja bila pada hari-hari pertama, anak menangis menghadapi situasi yang berbeda dari rumah. Akan tetapi, anak yang lebih siap, beberapa hari kemudian sudah mampu berbaur dengan teman-temannya dan siap menerima bimbingan serta pembelajaran. Dia sudah tidak lari-lari lagi di kelas ketika diminta duduk oleh gurunya.

hanya mempersiapkan anak pada kesiapan sosialisasi saja. Artinya, kalau si anak sudah tak takut bertemu orang, menunjukkan minat untuk berkawan, berarti dia sudah siap. Ini memang harus disiapkan. Tetapi sebenarnya tak cuma ini. Anak bukan hanya tidak takut berhadapan dengan orang lain, tapi juga mau mendengarkan orang lain. Kemampuan ini penting dalam bersosialisasi dan kalau guru bicara tetapi si anak lari ke sana-ke mari, maka rangsangan emosional yang diterimanya kurang lengkap. Jadi, anak juga harus diajarkan, bagaimana menjadi pendengar sebelum masuk TK.

3. KESIAPAN KOGNITIF

Salah satunya adalah kemampuan bahasa karena di TK anak diharapkan mampu memahami intruksi yang diberikan oleh guru. Ia pun diharapkan mampu menyampaikan pendapat, perasaan, dan isi pikirannya meski belum runtut. Dengan demikian, anak juga harus memunyai perbendaharaan kosakata yang cukup untuk seusianya.

Bagaimana dengan baca-tulis? Kemampuan ini bukan menjadi syarat masuk TK. Namun, bila anak sudah mampu melakukannya, disarankan agar orang tua mencarikan sekolah yang cocok untuknya. Bila anak sudah punya kemampuan menghitung, misal, dan dia dimasukkan ke TK dimana anak-anaknya bahkan belum bisa menghitung 1 sampai 10, maka bisa-bisa potensinya malah hilang.

Untuk anak-anak seperti ini tentunya perlu penanganan khusus. Maksudnya, kita tak boleh menyamaratakan dengan teman-temannya yang lain karena potensinya berbeda. Jadi, kita harus betul-betul melihat keunikan masing-masing anak dan itu harus dijalankan secara individual.

Orang tua juga jangan berharap bahwa di TK itu anaknya nanti diajarkan baca -tulis dan matematika seperti di SD. Yang dilakukan di TK adalah mengajari anak mengenal dasar-dasarnya dan itu pun dilakukan lewat bermain. Contoh, mengenali bentuk huruf, warna dan bentuk angka.

4. KESIAPAN SOSIAL

Di TK, anak berkumpul bersama teman-teman yang baru saja dikenalnya. Dia akan berusaha menyesuaikan diri dalam lingkungan sekolah yang baru. Ia pun akan mengenal aturan-aturan baru hidup bersama dan menyimak "pelajaran" dari guru-guru sambil belajar bersama teman-temannya.

Nah, kesiapan sosial dilihat dari kemampuan anak untuk tidak takut menghadapi orang asing, berani memasuki lingkungan baru dan tak ragu diajak berkomunikasi. Contoh, ada anak yang sudah berminggu-minggu sekolah masih menangis jika ditinggal oleh ibunya. Ini berarti si anak masih takut berada di lingkungan baru. Beda dengan yang siap, biasanya mereka malah enjoy bila bertemu teman-teman baru.
AGAR ANAK LEBIH SIAP MASUK SEKOLAH

* Berikan informasi menyenangkan tentang TK sebagai pembentukan persepsi awal tentang sekolah. Misal, ia akan bertemu dengan teman-teman baru dan mainan baru. Ada juga guru-guru baru yang ramah dan baik. Di sana banyak mainan sehingga bisa bermain bersama teman-teman. Gambar-gambar di dinding kelasnya juga lucu-lucu.

* Di sisi lain, orang tua juga mesti menjelaskan konsekuensinya. Contoh, karena bermain bersama teman-teman, maka ia harus mau bergantian, juga patuh pada guru, dan tertib.

* Jelaskan pula kenapa ia "harus" masuk TK, apa tujuannya, dan apa saja yang akan didapat di TK. "Dengan sekolah di TK, Kakak akan banyak teman dan belajar banyak. Kan, Kakak katanya mau jadi anak pintar," misal.

* Agar anak bisa memahami secara konkret bagaimana nantinya kala ia duduk di TK, lakukan dengan cara bermain peran. Misal, ibu jadi guru dan anak jadi murid atau sebaliknya. Malah kalau bisa, dalam bermain peran itu, tempat dan suasana ditata sedemikian rupa seperti di TK sungguhan. Ibu memberikan permainan-permainan yang sering diajarkan di TK. Dengan cara demikian, kita telah menyiapkan mental anak untuk siap masuk TK.

Sebaiknya orang tua sudah mulai memberikan gambaran ini jauh-jauh hari sebelum sekolah sesunggguhnya dimulai. Paling tidak tiga bulan sebelum anak masuk TK sehingga mental anak untuk sekolah pun telah kuat dan siap. Bila perlu, lewatlah di depan sekolahnya atau masuk ke dalam kelasnya untuk beberapa hari sebelum sekolah dimulai. Hingga ketika tiba gilirannya masuk sekolah, tak ada kesulitan lagi. Malah anak akan senang dan bahkan bisa jadi saat masuk di hari pertama, dia sudah percaya diri dan tak perlu ditemani masuk kelas oleh orang tua atau pengasuhnya.
ANAK SAYA, KOK, ENGGAK SIAP JUGA?

Bagaimana kalau si kecil ternyata belum siap masuk TK? Misal, sudah umur 5 tahun tapi masih enggan bersosialisasi alias masih takut ketemu orang. Dalam hal kemandirian, menurut Bambang, orang tua hendaknya jangan buru-buru memvonis anak belum siap mental untuk sekolah hanya karena ia selalu menangis setiap kali masuk kelas. "Kecemasan-kecemasan seperti itu lumrah terjadi pada anak, meski banyak juga anak yang percaya dirinya tinggi."

Untuk itu, lanjutnya, orang tua harus bisa membujuk anak. Contoh, "Katanya Kakak mau jadi anak pintar, kok, enggak mau sekolah. Ada apa?" Bila ia menjawab takut, orang tua bisa melakukan bargaining dengan anak, semisal, berjanji menemaninya, "Oke, deh, sekarang Bunda ikut temani kamu di kelas." Selama beberapa hari, orang tua boleh menemani anak di kelas. Setelah itu perlahan-lahan waktu bersama anak dikurangi sampai akhirnya orang tua hanya mengantar dan menjemput.

Bambang mengingatkan, dunia anak adalah dunia bermain. Karenanya, begitu anak bertemu dengan teman sebaya yang asyik bermain, apalagi ditambah permainan yang banyak di kelas, anak-anak yang tadinya pemalu pun akan lumer dan membaur bermain. "Prinsipnya, jangan karena enggak bisa ditinggal lalu anak 'diperam' terus di rumah. Nanti malah terhambat sosialisasinya. Usianya makin tinggi tetapi kematangan emosionalnya tidak tumbuh juga. Lebih baik cemplungkan saja tetapi lakukan secara bertahap."

Tentunya orang tua jangan segan-segan untuk memberi tahu guru mengenai kondisi anak kita. Misalnya, anak sangat pemalu, guru bisa menciptakan suasana yang hangat dan akrab baginya. "Lama-lama anak akan merasa, 'Oh, sekolah itu ternyata menyenangkan.' Akhirnya, tanpa dibangunkan pun, ia akan segera sigap berangkat ke sekolah."

Juga bukan berarti bila ada kekurangan di aspek lain, orang tua jadi minder memasukkan anaknya ke TK. "Justru dengan memasukkan ke TK, orang tua dan guru akan bersama-sama menambah kekurangan itu dan mengembangkan potensi yang sudah ada. Sekali lagi, dengan cara bermain dan tanpa paksaan."
PENDIDIKAN DI TK SANGAT BERMANFAAT

Prinsip belajar di TK adalah bermain. Meski hanya bermain, tetapi banyak manfaatnya. "Anak bisa mengembangkan seluruh potensinya lewat bermain sehingga saat terjun ke sekolah formal sesungguhnya, dia bisa memahami keberadaan di lingkungannya bahwa ia punya tanggung jawab, bisa mengikuti peraturan, tata tertib, dan disiplin-disiplin yang diberikan," papar Bambang.

Di TK, anak jakan mendapatkan pelajaran-pelajaran baru semisal mengenal warna, bentuk, irama, dan lainnya lewat bermain. Lewat bermain pula, anak bukan hanya bisa mengembangkan otot-ototnya, baik otot besar maupun otot halus seperti perkembangan motorik kasar dan halus, tapi juga bisa berfantasi dan mengekspresikan diri. Anak juga belajar bersosialisasi, berbicara satu dengan lainnya lewat bermain.

Itulah sebabnya, jenjang TK tak bakal menjadi prasyarat masuk SD, tapi Bambang berpendapat, TK lebih bermanfaat. "Karena anak akan mengenal nuansa yang bakal ditemuinya di SD, seperti bahwa sekolah itu belajar aturan. Nah, di rumah, kan, tidak ada aturan seperti dalam belajar kelompok, bermain bersama, patuh pada guru dan disiplin kelas," ujar pendidik yang bersama istrinya menulis buku Seri Mengembangkan Potensi Bawaan Anak.

Anak yang sudah bersekolah di kelompok bermain umumnya akan lebih mudah menyesuaikan diri saat masuk TK. Minimal, anak tak "kaget" saat menemui lingkungan baru. Ia sudah bisa bermain dan mampu bersosialisasi dan terbiasa menerima instruksi dari orang lain selain orang tuanya.

Tak lupa ia berpesan agar orang tua melakukan survei ke sekolah yang dituju. Dengan mengetahui apa yang diprogramkan oleh sekolah dan apa yang kita siapkan, maka kita akan tahu mana sekolah yang cocok untuk anak kita.
Thank you for reading TANDA-TANDA SIAP MASUK TK

MELATIH KONSENTRASI DI KELAS


"Randi, ayo duduk, Sayang. Selesaikan gambarmu!" kata seorang guru kelas di TK B. Perintah senada dilakukannya berulang-ulang, juga pada anak-anak lain. Mengapa anak prasekolah sulit fokus pada tugasnya?

Pemandangan anak-anak TK yang tak bisa duduk diam di kelas adalah biasa. Wajarnya memang begitulah mereka mengingat sebagian besar aktivitas anak usia prasekolah melibatkan gerak fisik dan bermain. Itulah mengapa, agak sukar bagi mereka bila harus duduk diam dalam waktu lama dan berkonsentrasi. "Sepertinya setiap anak dilengkapi dengan energi yang tak ada habis-habisnya untuk terus bergerak dengan lincahnya," kata Dra. Geraldine K. Wanei M.Psi., Lektor Kepala Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unika Atma Jaya, Jakarta.

Meskipun begitu, lanjut pendidik yang akrab dipanggil Gerda, anak-anak prasekolah boleh diajarkan untuk duduk diam menerima pelajaran. Apalagi di TK B (besar), anak-anak sebaiknya memang dipersiapkan untuk menerima sistem belajar di SD (Sekolah Dasar), dimana murid-murid mulai dituntut untuk tak ada lagi ribut atau berlarian di kelas. "Tetapi tentunya pengenalan itu hanya bisa dilakukan bertahap. Enggak bisa, kan, kalau tiba-tiba anak langsung disuruh duduk diam dan tak boleh berjalan-jalan di kelas." Jadi, aturlah kegiatan anak agar dapat fokus pada tugas yang diberikan dan menyelesaikannya dengan memperhatikan prinsip berikut.

JANGAN LEBIH DARI 15 MENIT

Orang tua perlu tahu, tingkat kesabaran dan perhatian anak berkembang bersama-sama dengan perkembangan fisiknya, terutama otot-otot kecil pengendali gerakan. Konsekuensinya, anak usia 4 sampai 5 tahun umumnya lebih senang menyelesaikan tugas yang singkat, membongkar apa yang sudah dikerjakan dan memulainya lagi berulang kali.

"Nah, dengan melihat karakteristik ini, persiapkan tugas dengan rentang waktu yang sesuai." Misalnya, tak perlu orang tua atau guru memberi pelajaran menggambar atau menggunting selama satu atau dua jam terus-menerus, karena umumnya anak-anak di TK hanya akan betah duduk diam paling lama 15 menit. "Jadi, guru harus mencari kegiatan yang bisa diselesaikan dalam jangka waktu 15 menit itu."

Bila anak diberi tugas panjang yang membuat mereka harus duduk diam dalam waktu lama, maka fokus pada tugas dan konsentrasinya akan cepat hilang. Barulah setelah anak mampu duduk diam selama 15 menit dan asyik mengerjakan tugasnya, guru boleh meningkatkan waktunya secara bertahap, misalnya ditambah 5 menit, begitu seterusnya.

DILATIH SAMBIL BERMAIN

Namun Gerda mengingatkan, meski anak tampaknya semakin anteng mengerjakan tugas, bukan berarti kita lantas bisa membebaninya dengan pelajaran-pelajaran yang belum menjadi kewajibannya. Contoh, langsung mengajarkan membaca atau menulis. "Di masa TK, meskipun sudah di TK besar, kita menyebutnya masa pramembaca, pramenghitung dan pramenulis atau belum sampai pada berhitung, membaca atau menulis yang sesungguhnya. Semuanya masih dilakukan sambil bermain." Intinya, tidak bijak jika anak prasekolah dipaksa cepat belajar membaca, menulis, dan berhitung sambil dituntut berkonsentrasi lama.

"Melatih anak untuk konsentrasi pada tugasnya juga bisa dilakukan sambil bermain, kok!" tukas Gerda. Jangan kita memforsir anak untuk belajar macam-macam di usia dini hanya untuk mengejar satu target. Umpama, harus sudah menghitung sekian puluh, padahal kemampuan anak usia 5 tahun mungkin baru 1 sampai 10. "Kalau dia hanya bisa sampai segitu, ya, itu saja yang dilatih untuk dikembangkan," tandasnya.

SIKAP TUBUH BENAR

Membantu anak menumbuhkan konsentrasi belajarnya, lanjut Gerda, juga dapat dilakukan dengan mengajarinya sikap belajar yang benar. "Misalnya saja saat menulis, harus juga diperhatikan posisi duduknya supaya jangan sampai tiduran sambil kaki ke mana-mana."

Jadi, jika ingin anak bisa fokus pada tugas yang dikerjakannya, guru harus mampu menunjukkan pada murid, bagaimana sikap duduk yang baik. "Kalau duduknya asal-asalan, tidak dengan punggung tegak, pasti sebentar saja anak sudah merasa capek, kan?"

Contoh lain, memegang pensil. Menurutnya, jika ada anak di usia SD yang masih belum mampu memegang pensil dengan baik, semisal masih seperti memegang palu atau memegang sendok, bisa saja karena waktu masih di TK B si anak belum diajarkan bagaimana memegang pensil yang tepat. "Kelihatannya sepele, ya, tapi salah memegang pensil bisa membuat anak jadi terganggu konsentrasinya karena bisa saja anak mengeluh jari-jarinya jadi sakit. Tentu kalau jari-jarinya sakit, bagaimana dia menyelesaikan satu tugas yang diberikan dalam waktu tertentu?"

ALAT BANTU SIAP

Selain itu, keberhasilan anak saat memberikan perhatian pada tugasnya juga bergantung pada kesiapan alat bantu yang ada. Misal, di kelas seharusnya guru sudah mempersiapkan alat peraga yang lengkap pada saat mengajarkan atau memberi tugas. Jangan lagi asyik-asyiknya menerangkan sesuatu, tiba-tiba terhenti karena guru terlupa salah satu alat. Akibatnya, anak-anak yang tadinya sudah fokus mendengarkan, bisa saja perhatiannya jadi buyar lagi karena si guru "grogi" mencari alat bantunya.

FISIK DAN KOGNISI HARUS SEIMBANG

BILA anak-anak hanya dibiarkan bermain mengembangkan fisiknya, mereka tak akan mengembangkan kognisinya. Oleh karena itulah kita perlu menyeimbangkan kegiatan fisiknya dengan kegiatan yang membutuhkan ketekunan dan konsentrasi semisal main lego, meronce, menggambar, atau pasel. Keberhasilan dalam menggunakan permainan ini tergantung pada kesabaran, koordinasi dan ketangkasan anak.

Anak dengan usia prasekolah akhir dapat diberi pasel dengan jumlah kepingan yang lebih banyak. Minta mereka menyelesaikannya sebelum beranjak dari tempat duduk. Ketika seorang anak sedang menyusun pasel atau membangun sebuah menara dengan balok-balok, dia belajar untuk berpikir dan menyelesaikan masalah. Mainan yang mengasah konsentrasi juga menolong anak membedakan bentuk dan pola-pola serta membangun koordinasi antara mata dan tangannya, sehingga mereka nantinya siap belajar membaca.

"Jadi, meski si anak aktif punya kesempatan bermain yang melibatkan fisiknya, ia juga perlu ketekunan. Dengan begitu, wawasannya jadi luas," bilang Gerda. Bila anak hanya diarahkan bermain menggunakan fisik saja terus-menerus, ia kurang mendapat kesempatan memperoleh berbagai pengetahuan dan kurang terlatih ketekunan serta konsentrasinya. Menjadi tugas orang tua dan guru untuk mencari aktivitas yang menuntut konsentrasi dan ketekunan. Tentu saja disesuaikan dengan usia anak sambil tetap memasukkan suasana bermain.

GURU SLORDIG BUYARKAN SEMANGAT BELAJAR

BAYANGKAN bila si kecil berada di kelas yang awut-awutan, meja bergeser ke sana ke mari tak pernah dibetulkan letaknya, mainan menyebar di seluruh kelas sehingga mengganggu anak untuk bergerak, gambar-gambar di dinding kotor dan letaknya miring? Apalagi jika ditambah meja guru ternyata berantakan juga.

"Suasana kelas yang kacau bisa mengganggu anak dalam mengerjakan tugas-tugasnya," kata Gerda. Contoh, anak ingin bermain pasel, tapi kepingannya banyak yang terselip entah di mana. Atau meja kursi berdebu sehingga anak bersin-bersin. Semua ini bisa mengganggu anak dalam proses belajarnya.

Belum lagi hal ini akan menimbulkan impresi pada anak-anak bahwa kerapian tidaklah penting. Semisal, "Bu guru oke-oke aja, tuh, mejanya berantakan." Padahal ini bisa menjadi kendala bila anak ingin belajar tenang, rapi dan nyaman.
Thank you for reading MELATIH KONSENTRASI DI KELAS

Friday, June 10, 2016

Kemampuan menulis anak


"Memiliki kemampuan berbahasa lisan tidak menjamin memiliki kemampuan berbahasa tulis (menulis), karena dalam bahasa tulis, tata bahasa berperanan penting. Tidak hanya tata bahasa baku, tapi juga penguasaan kata-kata yang cukup banyak dan kaidah-kaidah menulis yang benar. Memiliki kemampuan verbal yang baik (misalnya jago presentasi, jago pidato, jago debat) juga tidak menjamin memiliki kemampuan menulis yang baik pula, demikian sebaliknya. Walaupun tidak juga tertutup kemungkinan seseorang memiliki keduanya, yaitu mampu menggerakkan massa dengan pidatonya sekaligus juga mampu menulis buku."[fy]

"Bukan nakut-nakuti, kebetulan ada anaknya temen kakakku yang punya kasus, dia baru kembali dari Inggris, ketika itu dia TK, ternyata dia tidak bisa nulis, tapi sudah mulai bisa membaca. Sampai di sini, dibawa ke psikolog, rupanya si anak hanya malas. Karena di sekolahnya dia sering menggunakan komputer, yang hanya titidakl memencet' keyboard' akan keluar hurufnya. Meski di sekolahnya diajar menulis, tapi dia tidak mau kalau disuruh menulis. Kasus lain, anak umur 5 tahunan belum bisa nulis (meski pun mencontek) padahal umur 2 tahun dia sudah tahu semua abjadi (huruf besar dan kecil). Menggambar pun tidak pandai. Ketika di bawa ke psikolog ,ternyata memang motorik halusnya kurang bagus (kurang dilatih), sekarang dia udah SD, sudah mau nulis, meski harus 'perang 'dulu sama ibunya, tapi kalau tidak salah masih tetap terapi. Ini hanya untuk waspada, tidak perlu panik. Celengan, selain mengajar menabung juga salah satu cara melatih motorik halus sejak usia satu tahun."[nn]

"Ternyata kasus 'males' memang benar ya bikin anak tidak bisa menulis. Anakku umur 3 tahun, apa sudah harus dipaksa belajar menulis? Karena setahuku, anak resmi belajar membaca dan menulis itu kelas 1 SD. Jadi sebetulnya kalau test masuk SD sudah harus bisa baca dan tulis, itu tidak layak."[qs]

"Pengalaman lain, anak temanku sampai usia 6 tahun susah sekali disuruh menulis. Tapi pas ultah ke-6, dia langsung bisa menulis sendiri tuh. Maknya, SD itu dulu mulai umur 7 tahun, jadi sesuai perkembangan si anak."[ss]

"Aku bagi resep cara mengajarkan anak membaca dengan cepat, mudah-mudahan dengan cara ini berhasil. Ini aku praktekin buat anakku atas saran seorang ibu yang punya tempat terapi. Buat potongan karton dengan ukuran 3X12 atau 3X15 cm. Nanti kartu ini digambar dan diberi keterangan. Misalnya gambar mata terus disebelah gambar ditulis "m a t a", atau "s e p a t u", dst. Kalau mau awet kartunya dilaminating agar dapat digunakan untuk adiknya nanti. Kalau kita tidak bisa gambar, gunting dari majalah yang tidak kepakai lagi. Mulanya mereka belajar dari gambar baru lihat tulisannya, nanti lama-lama kalau gambarnya kita tutup dia jadi hapal tulisannya. Setelah itu buatkan persiapkan lagi kartu yang terdiri dari suku kata, contoh : untuk "mata" berarti ada "ma" dan "ta". Aku melihat cara ini justru lebih efektif daripada mengajarkan anak-anak dengan suku kata dulu baru dengan kata. Kalau malas bikin kartunya, beli aja. Dulu aku sempat lihat di toko buku ada yang jual perpak isinya sekitar 20 atau 30.Dan masing-masing kartu ada temanya, misalnya binatang, atau tumbuhan. Kartu itu malah ada bahasa Inggrisnya segala. Untuk menulis, aku disaranin sama Prof. Mc Carthy dulu untuk nempelin kertas didinding dan biarkan mereka menulis dengan berdiri. Ini bagus buat anak-anak yang motoriknya kurang baik, sehitidak tidak cuma pergelangan tangan saja yang bergerak tapi bahunya juga bergerak. Selain itu latihan membuka/menutup keran juga baik untuk melatih motorik tangan anak-anak kita, tapi kerannya jangan yang model bertangkai yang titidakl digeser itu lho. Pakai keran yang bulat tuh, terus agak kita kencengin dikit lalu biarkan si kecil untuk membukanya. Banyak sih cara lain kalau kita kreatif, tinggal niat kita saja."[dn]

"Kalo aku dulu pengenalan huruf ke anakku waktu kecil dengan buku bergambar (buku pocket kecil), jadi ada gambar gajah, lalu tulisannya gajah, gambar ikan, dst, ada yang bahasa inggris dan bahasa indonesia, cuman kadang problemnya anakku tidak bener-bener tahu tulisannya apa, asal 'nyebut' karena lihat gambarnya, contohnya ada gambar botol, disebut mestinya botol, anakku bilangnya "cuka", gara-gara di dapur ada botol cuka, atau dengan main monopoli, jadi karena pengin main, apa boleh buat terpaksa dia belajar baca, misalnya sampai dikota mana, sambil dibaca, dan disini juga bisa untuk belajar angka dan penjumlahan, jadi kalo dadunya udah dikocok, mau tidak mau terpaksa belajar menjumlah, lalu menjalankan pointnya dengan menyebut angka satu persatu."[rm]
Thank you for reading Kemampuan menulis anak

Wednesday, June 8, 2016

YUK, BELAJAR MENULIS!


Tapi bukan menulis huruf. Lantas menulis apa dong?

Umumnya, anak usia 3 tahun mampu memegang pensil meski belum sempurna. Ia pun gemar mencoret-coret di selembar kertas layaknya sedang menulis, meniru perilaku menulis dari orang dewasa di sekitarnya. Seiring usia yang bertambah, kemampuan memegangnya pun akan lebih mantap, sehingga ia mampu melakukan aktivitas menulis atau menggambar dengan baik. Keinginan si prasekolah untuk "menulis" atau sekadar menggoreskan pensil di selembar kertas adalah salah satu bagian perkembangan motorik halus anak usia 3-5 tahun.

Nah, sejauh mana perkembangan kemampuan menulis yang diharapkan telah dicapai pada usia prasekolah ini? Jadi, jangan membayangkan si prasekolah langsung mampu menulis abjad. Yang dimaksud kemampuan "menulis" di tahapan usia ini adalah tahapan mampu memegang pensil dan meniru aneka bentuk. Nah, agar si kecil mau belajar menulis, berikan stimulasi yang dilakukan dalam suasana bermain.

STIMULASI MENULIS
* Menebalkan bentuk

Pilih materi yang merupakan kegemaran atau pusat minat anak. Misal, ia sangat menyukai binatang, nah, mulailah dengan aneka gambar binatang. Berikan buku bergambar aneka binatang, kemudian berikan pensil dan minta ia menebalkan gambar aneka bentuk binatang itu. Biarkan ia melakukannya secara perlahan. Tak perlu dipaksa, bila si prasekolah tak mau melanjutkan. Sambil menunggu ia menyelesaikan gambarnya, ceritakan keistimewaan binatang tersebut. Jadi, ada tambahan pengetahuan yang dapat diperoleh.

* Mengikuti garis putus-putus/titik-titik

Setelah anak mampu menebalkan gambar aneka bentuk binatang, lanjutkan dengan "menggambar" binatang mengikuti garis putus-putus atau titik-titik.

* Meniru bentuk

Kemudian dapat ditingkatkan dengan keterampilan berikutnya, yaitu menirukan bentuk-bentuk geometris, seperti lingkaran, segitiga, segiempat, dan lain-lain. Awalnya, orangtua dapat membimbing sambil memegangi tangan anak. Selanjutnya, rangsang anak untuk menirukan sendiri. Guna memperkaya wawasan, minta ia menggambar bentuk benda-benda yang ada di sekitarnya yang berupa lingkaran. Misal, wajah ibunya, meja makan, telur, buah jeruk, bola, dan lain-lain.

* Menggambar sendiri aneka bentuk geometris

Di usia 4-5 tahun anak dapat diminta menggambar sendiri aneka bentuk geometris. Bimbing tangannya agar ia mau menggoreskan pensilnya dan selanjutnya beri kepercayaan pada anak untuk menggambar sendiri aneka bentuk geometris tersebut.

* Menggunting kertas dan bermain lilin

Stimulasi lain yang dapat diberikan adalah menggunting dan membentuk lilin, bisa dilakukan sejak usia 3 tahun. Melalui kedua permainan ini, saraf-saraf dan otot-otot pada pergelangan tangan dan jari-jemari anak dilatih.

6 HAL SEBELUM MENULIS

Sebelum mengajari anak menulis, ada beberapa hal yang patut diperhatikan orangtua, yaitu:

1. Kesiapan anak dalam memegang pensil atau alat tulis lainnya.

Untuk mengembangkan kemampuan menulis, si prasekolah harus mampu memegang pensil dengan baik. Jari-jemari yang digunakan untuk memegang pensilnya sudah tepat, sehingga ia dapat dengan nyaman menggoreskan alat tulisnya di kertas.

2. Biasakan anak bercakap-cakap dengan orangtua.

Gunanya, merangsang potensi panca indra si prasekolah. Selain juga untuk menambah kosa kata. Kemampuan berkomunikasi yang baik dapat menjadi bekal untuk melatih menulis, karena akan lebih mudah memberikan penjelasan kepadanya tentang aneka bentuk yang hendak ditiru atau digambar.

3. Pemahaman atau penguasaan anak terhadap konsep bahasa atau simbol-simbol.

Selanjutnya, untuk mengembangkan kemampuan menulis dalam arti sesungguhnya, hendaknya anak juga telah mengenal simbol-simbol bunyi dan menguasai konsep huruf. Maksudnya, anak mampu membedakan antara huruf a dan b. Sebaiknya, kenalkan huruf kecil terlebih dahulu karena lebih mudah dipahami dan akan lebih sering digunakan.

4. Bentuk pengajaran menulis dimulai dari pusat minat anak.

Mulailah dari sesuatu yang menarik perhatian anak dan sesuai dengan kebutuhan segari-harinya, seperti, namanya sendiri, makan, minum, pakaian dan lain-lain.

5. Belajar menulis dapat di mana saja.

Untuk belajar menulis tak perlu diusahakan alat dan tempat khusus. Lakukan sambil bermain, misalnya dengan ranting pohon di tanah, di pantai dengan jari tangan, dan lain-lain. Pengenalan huruf dapat dimulai dengan benda yang ada di sekitar, termasuk badan sendiri. Contoh, mulut yang seperti bentuk huruf O. Alangkah baiknya pula bila diberikan benda kongkretnya, seumpama huruf h dengan menunjuk hidung, huruf a dengan buah apel, dan seterusnya.

6. Jangan paksa.

Bila si prasekolah belum ingin "menulis" sebaiknya jangan dipaksa. Pemaksaan dapat menyebabkan anak trauma. Bisa-bisa selanjutnya, ia malah malas mengembangkan kemampuannya dalam menulis.

BOLEH DIKENALKAN PADA HURUF

Untuk menumbuhkan minat si prasekolah dalam menulis, tak ada salahnya orangtua kerap membacakan dan mengenalkan aneka huruf. Contoh, ambil selembar kertas yang memiliki gambar ikan, pada bagian bawahnya tuliskan kata ikan dalam huruf kecil. Tunjukkan kepada si prasekolah bahwa ini adalah ikan. Semoga melalui kegiatan bermain ini si prasekolah termotivasi untuk mencoba meniru atau menuliskan aneka bentuk huruf tersebut.


Usia 3-4 tahun

Usia 4-5 tahun


* Meniru bentuk lingkaran

* Menggambar (membuat) garis silang


* Meniru bentuk segiempat


* Meniru tulisan

* Menggambar (membuat) segiempat


* Meniru aneka bentuk


TAK BISA DUDUK DIAM

Tak bisa duduk diam berarti masih sulit berkonsentrasi. Bagaimana melatihnya?

Anak usia prasekolah memang belum bisa duduk diam dalam waktu cukup lama. Maklum, dunianya adalah dunia bermain. Toh, seiring pertambahan usia, rentang perhatian atau konsentrasinya juga akan bertambah. Dari rata-rata 7 menit di usia 2 tahun, meningkat jadi 9 menit di usia 3 tahun, lalu 12 menit di usia 4 tahun, dan akhirnya di usia 5 tahun jadi 14 menit. Karenanya, tak perlu panik bila si prasekolah tak betah berlama-lama duduk diam dan mengerjakan sesuatu. Walau begitu, tak ada salahnya bila si prasekolah mulai diajarkan berkonsentrasi pada kegiatan yang sedang dilakukan. Lakukan secara bertahap.

* Buatkan rutinitas.

Menurut beberapa ahli, menciptakan keteraturan atau jadwal dapat membantu anak berlatih konsentrasi, sebab konsistensi menjadikan anak lebih mudah konsentrasi. Buatlah jadwal kegiatan sehari, dan libatkan anak saat membuatnya. Bentuk dengan gambar bila ia belum mampu membaca. Contoh, pukul 06.00 saatnya mandi. Pada kolom ini dapat ditempelkan gambar anak yang sedang masuk ke kamar mandi. Demikian seterusnya.

* Beri selingan waktu.

Bila anak telah menyelesaikan tugasnya dalam rentang waktu tertentu, beri kesempatan untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan. Jelaskan, tadi ia telah menyelesaikan dengan baik tugasnya dan tepat waktu. Beri penghargaan, meski itu hanya sekadar pelukan hangat.

* Ciptakan lingkungan rapi dan suasana tenang.

Lingkungan yang rapi dan teratur serta suasana tenang dapat membantu anak berkonsentrasi. Sebaliknya, suasana bising dan berantakan hanya akan mengalihkan perhatian anak saat sedang berkonsentrasi.

* Sodori kegiatan yang terfokus pada 1 objek.

Bermain adalah salah satu cara untuk melatih konsentrasi dan pasti disukai oleh anak-anak. Pilih permainan yang membutuhkan fokus pada 1 objek, seperti menyusun balok, memasukkan bentuk-bentuk geometris dari kayu ke dalam lubang sesuai bentuknya, menciptakan suatu kreasi, dan lain-lain.

* Beri kegiatan sesuai rentang konsentrasinya.

Tingkat kesabaran dan perhatian anak berkembang seiring perkembangan fisiknya, terutama otot-otot kecil pengendali gerakan. Anak usia 3-5 tahun, umumnya lebih senang menyelesaikan tugas yang singkat, membongkar apa yang sudah dikerjakan dan memulainya lagi berulang kali. Jadi, beri kegiatan sesuai rentang konsentrasinya. Selanjutnya, bila ingin meningkatkan rentang konsentrasi, lakukan secara bertahap.

* Jangan potong perhatian anak.

Saat anak sedang berkonsentrasi pada satu kegiatan, jangan potong perhatiannya. Sebab, anak-anak tak dapat dengan tiba-tiba mengalihkan perhatian saat baru memulai berkonsentrasi pada satu kegiatan. Sehingga kebiasaan memotong perhatian anak dengan tiba-tiba akan menghambat proses belajar memusatkan perhatian.

* Perhatikan sikap duduk anak.

Sikap duduk yang kurang baik berpotensi menimbulkan rasa lelah, sehingga dapat memotong konsentrasi. Sikap yang baik adalah posisi punggung tegak.

* Beri lebih banyak waktu untuk aktif berkegiatan dibanding memerhatikan.

Beri lebih banyak kesempatan pada si prasekolah untuk melakukan kegiatan dengan mainan 3 dimensi. Jangan biarkan si kecil sekadar menonton atau tak terlibat sama sekali.

* Hindari mengisi waktu anak dengan terlalu banyak kegiatan.

Kegiatan yang terlalu padat dan beragam dapat mengundang rasa bosan dan lelah, sehingga berdampak menurunnya kemampuan konsentrasi anak.

* Ajak mendengarkan radio atau tape.

Mendengarkan radio atau tape membutuhkan rentang perhatian lebih panjang atau intensif, selain juga menuntut mengembangkan imajinasi. Sebaliknya bila hanya menonton teve, anak memusatkan perhatiannya tapi tidak banyak mengembangkan imajinasinya. Jadi, perlu ada pendampingan orangtua saat anak menonton teve.
Thank you for reading YUK, BELAJAR MENULIS!