Showing posts with label Anda dan Buah Hati. Show all posts
Showing posts with label Anda dan Buah Hati. Show all posts

Wednesday, April 19, 2017

Bila Anak Kita Demam?



Masalah anak demam sering sekali ditemukan oleh banyak orang tua. Untuk kasus ini sering sekali kami temukan permasalahannya sebagai berikut:

Ketika anak sakit, orang tua panik, dibawa ke dokter, lalu diberikan antibiotik.

1-3 hari biasanya sembuh. namun hampir tiap bulan anak tersebut sakit lagi, lalu berulang:

anak sakit, orang tua panik, dibawa ke dokter, lalu diberikan antibiotik.

Apa yang salah?

Antibiotik berfungsi membunuh bakteri. sayangnya bakteri baikpun banyak yang mati. memang sangat efektif tuk penyembuhan anak flu/demam/panas/pilek/batuk, namun karena bakteri baik juga ikut mati, imun si anak lama kelamaan menjadi rapuh. lebih rentan dan mudah sakit.

cara yang bijak ketika anak sakit adalah:

Jangan panik!

Kenalilah dahulu jenis demam agar dapat mengatasinya dengan tepat.
Demam merupakan sebuah gejala atau sinyal dari tubuh. Sinyal atau reaksi yang menandakan bahwa tubuh sedang dimasuki oleh mikroorganisme yang bisa berupa bakteri atau virus.

Bila Demam Tinggi disertai Gejala Lain.

Sebenarnya jika demam tidak terlalu tinggi (dibawah 38 derajat celcius), maka sebenarnya orang tua tidak perlu panik dan tidak perlu membawa anak ke dokter.

Apalagi jika demam anak disertai dengan batuk dan pilek. Karena jika begitu, maka sebenarnya si kecil hanya terkena virus flu, dan cara mengatasinya hanya dengan banyak istirahat.

Sering kali anak sakit hanya dikarenakan faktor kelelahan. karena si anak belum memiliki ’sensor lelah’, dia hanya tahu main main dan terus main. akhirnya kelelahan, otot tegang, fungsi organ menurun, lalu sakit.

Cara paling mudah mengatasi ini adalah, istirahatkan si anak, beri madu, jika panas berikan air kelapa hijau campur madu (ulangi 3-5 kali tiap hari), peluk (dengan memeluk panas si anak pindah ke Anda) dan jika diperlukan PIJAT si anak.

Oh ya… terkadang anak justru perlu sakit, ketika sakit imun anak Anda sedang berlatih untuk menjadi lebih kuat. jadi jangan panik, ikuti langkah di atas ditambah tunjukan kasih sayang Anda kepadanya. dengan dia merasa nyaman (senang) dengan kasih sayang Anda, tubuhnya akan lebih mudah “mengobati dirinya sendiri”.

Bila Demam Tinggi Tidak disertai Gejala Lain.

Justru yang paling dikhawatirkan adalah jika demam ini tidak disertai dengan gejala lain, misal batuk dan pilek, karena jika tidak disertai gejala lain, bisa saja anak mengalami infeksi otak atau infeksi lain.

Selain itu, orang tua juga harus peka terhadap lingkungan, misalnya jika si kecil mengalami demam pada saat lingkungan musim demam berdarah, maka wajib khawatir dan memeriksakan si kecil ke dokter anak, karena ditakutkan si kecill mengalami demam berdarah. Semoga selalu sehat dan berkah

Semoga bermanfaat

Thank you for reading Bila Anak Kita Demam?

Hindari Ucapan-ucapan Ini Kepada Anak-Anak KIta

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Seorang anak memiliki daya serap yang tinggi terhadap lingkungan di sekitar. Karena itu, setiap orangtua ataupun orang dewasa yang berada di sekitarnya harus sangat berhati-hati dalam bersikap dan berkata-kata kepada sang buah hati.

Berikut adalah ucapan-ucapan yang sebaiknya tidak dilontarkan kepada anak-anak kita.

1) "Pergi sana! Bapak/Ibu mau sendiri!"

Kalimat semacam ini tidak jarang dilontarkan oleh orangtua yang merasa sudah keletihan sehabis pulang kerja. Namun ketika kata-kata ini kerap diucapkan pada anak, si anak akan berpikir bahwa tidak ada gunanya berbicara dengan orangtuanya karena mereka akan selalu diusir. Ucapan ini akan disimpan dalam memori si anak dan nantinya bisa ditiru olehnya ketika sudah dewasa.

2) "Anak saya..."

Ketika orangtua menyebut, "Anak saya itu penakut", si anak akan menelan mentah-mentah sebutan itu tanpa bertanya apa pun. Pelabelan buruk semacam ini pada anak-anak akan melekat dalam benak mereka seumur hidup. Dan pada akhirnya label tersebut perlahan-lahan akan membentuk pribadi si anak sesuai dengan label itu.

3) "Jangan menangis"

Kata-kata ini mirip dengan, "Jangan cengeng" atau "Nangis melulu". Bila anak-anak dilarang untuk menangis, hal ini akan memberi kesan bahwa emosi mereka tidak benar, bahwa tidak baik untuk merasa takut atau sedih. Padahal seorang anak belum mampu mengekspresikan emosinya melalui kata-kata, sehingga mereka hanya bisa menyalurkannya dengan cara menangis.

Mungkin sebaiknya kita sebagai orangtua mengatakan bahwa kita memahami perasaan sedih atau takut yang dialami si anak. Misalnya, "Ibu mengerti kamu takut masuk dalam kolam renang. Ibu janji tidak akan melepaskan kamu, Nak."

4) "Kenapa kamu tidak bisa seperti saudaramu?"

Jika diperhatikan dengan baik, banyak sekali orangtua yang membanding-bandingkan anaknya entah itu dengan saudara kandung si anak itu sendiri atau juga teman-temannya. Tapi mungkin para orangtua perlu menyadari bahwa setiap anak adalah individu yang berbeda. Mereka tentunya memiliki kepribadian tersendiri. Membandingkan anak dengan orang lain berarti orangtua menginginkan si anak menjadi pribadi yang berbeda.

Semoga bermanfaat

Thank you for reading Hindari Ucapan-ucapan Ini Kepada Anak-Anak KIta

Saturday, April 15, 2017

Bila Si kecil Susah Bangun Pagi

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.


Padahal tak lama lagi ia akan masuk "sekolah". Bisa-bisa setiap pagi terjadi "perang" di rumah. Nah, bagaimana menyiasatinya?

Duh, susahnya membangunkan si kecil. Padahal, tak lama lagi ia akan masuk "sekolah". Jikapun ia beranjak juga dari tempat tidur -dengan mata setengah terbuka-, bukannya langsung masuk ke kamar mandi, malah berhenti di depan sofa dan melanjutkan tidurnya.

Kalau saja "sekolah" baru dimulai beberapa bulan lagi, mungkin perilaku si kecil yang demikian masih bisa kita tolerir. Toh, masih cukup banyak waktu untuk si kecil belajar bangun pagi, sehingga kita tak perlu tergesa-gesa melatihnya. Masalahnya, "sekolah" sudah di ambang pintu. Kalau enggak dari sekarang dilatih, apa jadinya nanti begitu tiba saat masuk "sekolah"? Belum lagi kalau kita juga harus berangkat ke kantor. Sementara hari makin meninggi dan si kecil belum juga bangun, bisa-bisa tiap pagi terjadi "perang" di rumah kita. Runyam, kan?

KARENA TAK DIBIASAKAN

Masalah anak tak bisa bangun pagi, terang Rahmitha P. Soendjojo, tak bisa dilepaskan dari ritme tidurnya. "Kita harus lihat kebiasaan sebelumnya, jam berapa ia tidur malam dan bagaimana pula tidur siangnya? Apakah tidurnya larut, apakah kegiatan siangnya terlalu capai sehingga anak jadi susah tidur dan susah bangunnya?" Soalnya, masalah bangun pagi hanyalah masalah kebiasaan. Jadi, anak sebenarnya bisa bangun pagi asalkan dibiasakan. Dengan begitu, ritme tubuhnya juga akan selalu mengatur seperti itu. Jangan lupa, anak sedang dalam proses belajar. "Ia tak punya keterampilan dan pengalaman untuk bangun pagi. Jadi, kalau ia tak diajarkan untuk kapan bangun pagi, kapan tidur malam, dan kapan tidur siang, maka ia tak akan punya keterampilan untuk menata kesehariannya," lanjut Mitha, panggilan akrab psikolog pada DIA-YKAI, Jakarta, ini.

Dalam bahasa lain, bisa-tidaknya anak bangun pagi tergantung dari kebiasaan yang ditanamkan secara konsisten oleh orang tua, bukan karena kebutuhan tidurnya memang demikian. Kebutuhan tidur akan berkurang sejalan bertambahnya usia. Di usia bayi, misalnya, anak bisa tidur 5 hingga 6 kali sehari. Bayi hanya terbangun bila ia merasa lapar. Tapi di usia batita, anak biasanya tidur siang hanya sekali. Semakin besar dan beranjak remaja, ia hanya tidur malam. Lama tidur malam pun akan semakin berkurang. Anak prasekolah biasanya butuh 12 jam tidur dalam sehari. "Tapi tentu setiap anak punya kekhasannya sendiri," ujar Mitha.

Artinya, walaupun sama-sama prasekolah, namun kebutuhan tidur masing-masing anak akan berbeda-beda. Ada anak yang cukup tidur dengan 10 jam, ada pula yang baru cukup jika tidurnya mencapai 14 jam. Begitu pula kebiasaan tidur siang. Ada yang hanya tidur siang sebentar saja, namun efeknya bisa membuat si anak sampai jam 11 malam masih melek . Sebaliknya, ada anak yang sepanjang sore sudah tidur, jam 7 malam pun sudah tidur lagi. Nah, pada anak yang bangunnya siang, menurut Mitha, biasanya mempunyai jam tidur siang yang lambat pula. Akibatnya, tidur malamnya pun jadi larut.

TIDUR MALAM DIPERDINI

Bila anak tak bisa bangun pagi lantaran tidur siangnya lambat sehingga tidur malamnya jadi larut, berarti kita harus reschedule lagi. Saran Mitha, bangunkan ia lebih dini dari biasanya saat tidur siang. "Tentu dilakukannya secara bertahap. Misalnya, 15 menit lebih dini setiap hari, hingga ia bisa mencapai waktu yang tepat." Seiring dengan itu, jadwal tidur malam dan bangun paginya juga harus diperdini. Misalnya, jam 8 malam sudah harus di tempat tidur. Pokoknya, pada jam 8 malam, anak sudah dipakaikan baju tidurnya, cuci kaki dan gosok gigi, sudah minum susu hangat, lalu bacakan buku cerita. Jika saat pertama ia tak bisa tidur dan tetap ingin bermain, tak jadi masalah.

Yang penting, ia harus selalu dibuatkan jam tubuhnya bahwa jam 8 adalah waktu tidur. Lama-lama ritme tubuhnya pun akan terbentuk, pada jam 8 ia pasti tidur dan ia akan bangun jam 6 pagi. Bahkan untuk keluarga muslim akan bangun lebih pagi lagi demi membiasakannya salat subuh. Tentu saja, kala pertama kali jadwal tersebut diterapkan, akan mengalami berbagai kendala; dari anak jadi mudah rewel hingga mengamuk.

Tak apa-apa. Toh, kalau tubuhnya sudah bisa menyesuaikan diri dengan jadwal barunya, maka kendala ini pun tak akan terjadi lagi. Tubuh anak juga tak akan menderita sesuatu kalau kita hanya sekadar mengubah jam tidur tanpa mengurangi jumlahnya. Sejauh tubuhnya dapat berfungsi baik dengan jumlah tidur yang dimilikinya, berarti jumlah tidurnya cukup. Jadi, tak usah khawatir untuk mengubah jadwal tidurnya. Tapi mengubahnya dilakukan jauh-jauh hari sebelum anak masuk "sekolah", ya; minimal 2 minggu sebelumnya. Dengan begitu, kala tiba saat masuk "sekolah", ia pun sudah bisa bangun pagi. Jadi, tak ada lagi "perang" di pagi hari antara orang tua dan anak.

ORANG TUA BANGUN LEBIH PAGI

Tentunya kita perlu bangun lebih pagi dari anak. Kalau kita dan anak sama-sama bangun jam 6, misalnya, maka yang terjadi adalah kehebohan karena semuanya akan tergopoh-gopoh. Terlebih lagi bila kita juga sibuk menyiapkan diri sendiri untuk berangkat ke kantor. Bisa-bisa semuanya malah jadi berantakan. Itulah mengapa kita perlu bangun lebih awal dari anak agar kita bisa punya waktu untuk keperluan kita dan anggota keluarga lainnya lebih dulu. Setelah semua urusan tersebut beres, barulah kita bangunkan si kecil. Dengan begitu, kita jadi bisa lebih tenang dan sabar dalam menghadapi si kecil yang malas-malasan bangun.

"Anak yang dihadapi dengan kalem akan lebih cepat menurut ketimbang jika dihadapi dengan heboh, biasanya akan semakin mengambek," kata Mitha. Kemudian, pada saat membangunkannya lakukanlah dengan cara-cara yang membuat anak senang. Misalnya, dengan memeluk, mencium, membunyikan weker yang bunyinya disenangi anak, membawakan susu buatnya, membuka jendela kamarnya sehingga sinar matahari masuk, atau menggendongnya hingga ke depan kamar mandi. Bukan malah dengan omelan dan ancaman segala macam, "Nanti Mama siram pakai air, ya, kalau kamu enggak mau bangun juga!"

Wah, ini, kan, bukan pernyataan manis yang ingin didengar anak untuk mengawali hari-harinya. Setelah anak bisa bangun pagi, berilah rewards. Entah dengan membaca cerita sama-sama atau jalan-jalan di hari Sabtu. Pokoknya, kegiatan yang menyenangkan dan ada kaitannya antara orang tua-anak. Dengan demikian, anak pun terdorong untuk bangun pagi terus. Karena anak, terang Mitha, pada dasarnya selalu ingin menyenangkan orang tua. "Kalau ia berbuat baik dan orang tuanya menunjukkan rasa puas serta senang, maka anak akan mengulangi perbuatan itu. Ia akan sibuk cari sesuatu yang bagus, yang bisa bikin senang ayah-ibunya. Tapi kalau yang ia lakukan itu dianggap salah melulu, maka ia pun akan bingung, bagaimana cara yang bagus buat menyenangkan orang tuanya."

BELUM TERLAMBAT

Apabila kita lupa melatih si kecil bangun pagi sebelum tiba saat masuk "sekolah", tak ada kata terlambat, kok. Pada akhirnya si kecil akan bisa bangun pagi asalkan dilatih secara konsisten. Disamping mengubah jadwal tidurnya, saran Mitha, sebaiknya anak sudah disiapkan pada malamnya, dengan menerangkan pada anak apa yang akan terjadi esok hari dan apa saja yang harus ia lakukan. Misalnya, "Mbak, seragamnya warna apa untuk 'sekolah' besok? Mau pakai kaos kaki yang mana? Mau pakai sepatu yang mana? Buku apa yang akan dibawa? Mau bawa tempat minum atau tempat kue yang mana? Kamu nanti bawa bekal apa? Mau bawa lemper, kue sus, atau roti?" Dengan begitu, anak akan tergugah untuk punya responsibility, "Oh, iya, besok aku harus 'sekolah'."

Tentunya semua perlengkapan tersebut langsung disiapkan dan diletakkan di tempat yang mudah terlihat anak, kecuali kue-kue tentunya. Selain itu, urai Mitha, "untuk anak usia 3-4 tahun, kita harus mengingatkan perihal acara besok ini secara berulang-ulang karena daya ingat anak usia ini masih minim sekali." Lagi pula, dengan terus-menerus diingatkan, hal ini bisa menjadi suatu rutinitas buatnya. "Jadi, setiap malam kalau ia mau tidur itu punya ritual; dari sikat gigi, memakai baju tidur, dan menyiapkan baju serta perlengkapan 'sekolah'nya. Dengan begitu, anak jadi punya persiapan juga, 'Oh, besok aku akan 'sekolah', aku harus bangun pagi,'" lanjut Mitha. Jikapun kita sempat melakukan "ritual" tersebut karena masih di kantor, misalnya, maka tugas ini bisa kita delegasikan kepada pengasuh anak. Ternyata, enggak sulit-sulit amat, kan, Bu-Pak, untuk membiasakan si kecil bangun pagi? 

CARI PERHATIAN

Bapak-Ibu, waspadalah bila kebiasaan anak sudah bangun pagi berlangsung terus-menerus. Selain karena ia memang tak terampil, belum punya pengalaman bahwa kalau bangun tidur itu harus ngapain -misalnya, harus langsung masuk kamar mandi-, menurut Rahmitha, bisa juga disebabkan anak mencari perhatian orang tua. Untuk itu, kita harus cermat melihat pada diri anak. "Kalau kita lihat si anak memang mengantuk sekali, berarti tidurnya kurang. Bila demikian, kita harus lihat jadwal tidur malamnya, apakah terlalu larut? Kenapa ia bisa tidur hingga larut? Apakah karena menunggu bapak-ibunya pulang ataukah terlalu asyik menonton TV, misalnya? Berarti ada schedule yang tak benar dan harus diperbaiki." Tapi kalau tidur malamnya memang sudah cukup dan ia tetap saja mengantuk, lihat lagi, apakah ia cukup sehat atau tidak? "Kalau semua itu oke, berarti memang ia cari perhatian. Bisa saja ia berpikiran, 'Kalau aku tidur cepat-cepat, nanti aku enggak ketemu Mama-Papa lagi. Ya, sudah, bikin alasan macam-macam.' Padahal maksudnya memang ingin dipeluk ibunya, didekati ibunya, dan sebagainya," lanjut Mitha. Jadi, kita harus tanggap akan hal ini.

JANGAN BIARKAN SI KECIL MENUNGGU

Sering terjadi, anak tidur malam terlalu larut gara-gara menunggu kita pulang dari kantor. Mayoritas orang tua di Jakarta, kan, tiba di rumah kira-kira jam 9 malam. Kalau mereka pulang dan anaknya sudah tidur, mereka merasa enggak ketemu dengan anaknya. Sebaliknya, anak juga merasa tak ketemu orang tuanya. "Ini memang sebuah dilema," aku Rahmitha . Namun sebaiknya anak tak dibiarkan tidur larut karena menunggu orang tua pulang kantor. Toh, esok paginya orang tua dan anak masih bisa saling ketemu. Apalagi kalau anak sudah biasa bangun pagi, "maka pagi hari akan sangat panjang dan bisa dimanfaatkan untuk ketemu dengan orang tua. Orang tua pun bisa menyiapkan segala sesuatunya bersama anak."

AWAS "SEKOLAH" BISA JADI PENYEBAB!

Tak jarang anak sulit dibangunkan karena malas "sekolah". Bila demikian, kita harus tanggap, apakah ada masalah dengan "sekolah"nya? Misalnya, bekalnya selalu diambil temannya, padahal bekalnya itu adalah makanan kesukaannya. "Hal ini bisa menjadi masalah besar, lo, bagi anak sehingga ia jadi tak betah 'sekolah'. Karena anak itu, kan, peka sekali dengan segala perubahan. Ia belum punya pengalaman dan cara berpikirnya juga terbatas, sehingga kemampuan adaptasinya belum secepat orang dewasa. Jadi, kalau ada masalah, ia tak tahu teknik mengatasinya," papar Rahmitha. Banyak hal yang bisa membuat anak malas "sekolah". Hanya gara-gara duduknya di pojok dan di situ banyak nyamuk atau sepatunya sudah kesempitan tapi ia tak punya kesempatan bilang pada orang tuanya, juga bisa membuatnya malas "sekolah". Itulah mengapa, kita harus tanggap terhadap perubahan anak. "Ajak ia bicara. Dari situ akan ketahuan apa penyebabnya malas bangun pagi," lanjut Mitha. Kita juga harus jalin kerja sama dengan 'sekolah', sehingga kalau ada masalah bisa cepat ketahuan. Dengan demikian kita tahu betul bagaimana keadaan anak kita.
Thank you for reading Bila Si kecil Susah Bangun Pagi

Sunday, February 19, 2017

Tip Memilih Tipe Gendongan Bayi Yang Nyaman

Assalamualikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Membawa bayi beraktifitas di luar rumah seperti berbelanja dan berjalan-jalan membutuhkan alat gendong yang nyaman. Bagaimana tidak, membawa bayi berjalan tanpa gendongan bayi dengan waktu yang tidak sebentar bisa sangat melelahkan untuk orangtua. Bayi sangat senang berada dalam gendongan orangtua sambil berjalan-jalan. Tapi jika orangtua merasa kelelahan, ini tidak nyaman juga untuk bayi.

Memilih gendongan bayi memang gampang-gampang susah. Bukan hanya model yang bagus, tapi juga fungsinya yang harus disesuaikan dengan kebutuhan. Bayi usia 0 sampai 3 bulan hanya membutuhkan gendongan bayi berbentuk selendang atau sling, karena tubuhnya masih relatif kecil dan tidak banyak bergerak.

Sementara untuk bayi yang sudah lebih besar dan dapat menegakkan kepalanya membutuhkan gendongan bayi yang lebih kuat dan sesuai dengan kebutuhan, seperti pada gendongan bayi berbentuk ransel. Alat gendongan seperti ini memiliki dua metode yaitu menghadap depan dan menghadap belakang. Lalu mana yang lebih nyaman untuk orang tua dan bayi?

Gendongan bayi depan, selain memudahkan orang tua menjaga dan berkomunikasi dengan bayi, juga menyenangkan untuk bayi cemerlang. Bayi cemerlang terlihat dari semangatnya untuk melihat dan mendengar segala hal yang ia temui. Dengan gendongan bayi depan ini bayi dapat dengan leluasa menikmati dunia di sekelilingnya.

Ini memberikan kesempatan orangtua untuk mendidik bayi mengenali objek-objek baru di luar rumah. Sementara dengan gendongan bayi belakang orangtua jadi lebih leluasa menggunakan kedua tangannya untuk melakukan hal lain seperti membawa tas misalnya.

Ukuran gendongan bayi biasanya disesuaikan dengan berat badan bayi. Gendongan bayi depan biasanya untuk bayi dengan berat badan sampai 9 kilogram, dan untuk bayi dengan berat badan lebih dari itu alat gendong belakang sepertinya lebih nyaman untuk orangtua. Karena punggung dan bahu orangtua lebih kuat menanggung beban bayi dari pada tubuh bagian depan.

Faktor lain yang mempengaruhi kenyamanan gendongan bayi adalah ukuran tali gendongan. Jika tali gendongan bayi cukup kuat dan lebar maka ini tidak akan menyakiti bahu orangtua sekaligus nyaman untuk bayi. Selain itu, penjepit tali gendongan yang mudah dipasang atau dibuka dan kuat menyangga beban bayi akan memudahkan orangtua untuk menyesuaikan tubuh bayi untuk mendapatkan posisi yang paling nyaman.

Pada akhirnya agenda memilih gendongan bayi tidak hanya bertumpu pada selera dan model depan atau belakang, tapi juga pada ukuran serta kenyamanan orangtua dan bayi. Perlu diingat juga ada kereta dorong bayi sebagai perlengkapan bayi bila anda memiliki dana lebih.
Thank you for reading Tip Memilih Tipe Gendongan Bayi Yang Nyaman

Tips Mengenalkan Arti Bahaya Pada Anak

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.


Diperlukan cara komunikasi yang tepat untuk memberikan penjelasan selengkap mungkin mengenai apa itu bahaya, bukan hanya sekadar melarang. Ada beragam bahaya yang mungkin bakal ditemui anak di lingkungannya.


Komunikasikan dengan bahasa yang sederhana dan sediakan waktu yang cukup untuk menjelaskannya, jangan terburu-buru. Namun penjelasan dengan kata-kata saja tidaklah cukup, harus disertai contoh nyata. Melalui contoh itulah anak akan belajar langsung merasakan sesuatu yang membahayakan dirinya.


Namun, orang tua harus hati-hati dalam memilih contoh konkret tersebut. Jika membahayakan seperti panasnya api, tak perlulah ia bersentuhan langsung karena dikhawatirkan malah membuatnya cedera dan trauma.


Berikut tips mengenalkan arti bahaya pada anak:


1. Jelaskan hubungan sebab-akibat yang mungkin timbul.

Selain dapat membuat anak memahami bahwa sesuatu yang dilarang ini memang dapat membahayakan dirinya, juga sekaligus dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya untuk mempelajari hubungan sebab-akibat. Dalam mengenalkan api, misal, berikan penjelasan tentang akibat yang ditimbulkan. "Api ini berbahaya karena panas. Saking panasnya, bila terkena api dapat menyebabkan luka bakar di kulit. Permukaan kulit akan menggelembung seperti balon dan berisi air, rasanya perih dan sakit."


2. Ajak anak untuk mencoba langsung.

Untuk lebih memahami rasa panas itu, ajak anak ke dapur. Minta ia memegang pinggiran kompor sebentar atau memegang tempe goreng yang masih panas dan baru saja diangkat dari penggorengan. Cara ini untuk membuktikan secara konkret akan rasa panas. Sambil memegang pinggiran kompor atau tempe goreng, berikan penjelasan. Contoh, "Coba, deh, pegang pinggiran kompor ini. Panas, kan? Api itu lebih panas lagi." Atau, "Coba pegang tempe yang baru saja Mama angkat. Panas enggak? Panas api kompor itu bisa membuat minyak goreng jadi panas, lo, sampai-sampai makanan mentah jadi matang. Tempe yang Mama goreng tadi masih panas, kan, walau sudah diangkat dari minyak goreng? Jadi, jangan main dengan api, ya... berbahaya."


3. Minta anak mengungkapkan pendapatnya.

Setelah anak merasakan langsung, minta ia mengungkapkan pendapatnya. Dengan demikian dapat diketahui, apakah si batita sudah memahami atau belum penjelasan yang baru saja disampaikan.


4. Ajari anak tentang pertolongan yang harus ia lakukan bila dirinya mengalami bahaya.

Untuk memudahkan pemahaman si batita, tentunya tak cukup dengan memberikan penjelasan tetapi sampaikan pula cara-cara yang harus dilakukan dengan konkret. Umpama, saat anak terkena pisau. Praktikkan cara membersihkan lukanya berikut cara memberikan obatnya serta cara membalutnya bila perlu. Dengan demikian, saat tak ada yang mendampingi dan si batita nekad mencoba-coba, ia sudah mampu menolong diri sendiri. Tak perlu ragu anak tak akan mampu melakukan, karena si batita sudah semestinya mampu menolong dirinya.


Semoga bermanfaat, wassalam
Thank you for reading Tips Mengenalkan Arti Bahaya Pada Anak

Saturday, February 18, 2017

Pahami Gaya Berkomunikasi Balita

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Bukan hal mudah untuk berkomunikasi secara efektif dengan anak. Komunikasi merupakan penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain, baik secara verbal (kata-kata) maupun nonverbal (gerak atau simbol).

Komunikasi dikatakan efektif bila pesan itu bisa dipahami oleh penerima. Komunikasi yang tidak efektif ditandai dengan pesan yang tidak nyambung, atau si penerima salah memahami pesan itu. Kasandra Oemarjadi, Psi., dari biro konsultasi Kasandra Persona Prawacana, mengatakan ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam hal berkomunikasi dengan anak batita:

KEMAMPUAN USIA BATITA
Kemampuan berbicara merupakan keterampilan mental-motorik. Dengan kata lain, bicara tidak hanya melibatkan fungsi otot bicara dan sekumpulan bunyi saja, tapi juga melibatkan fungsi mental yaitu memahami arti dari bunyi yang dihasilkan. Inilah berbagai kemampuan berkomuikasi yang ditunjukkan anak batita:

* Bicara membeo. 
Jika anak usia ini sering meniru kata yang diucapkan orang dewasa atau anak lain seperti halnya seekor burung beo, itu karena ia baru bisa meniru bunyi tapi belum memiliki kemampuan mental komunikasi.

* Paham benda dan fungsinya baru secara konkret.
Misalnya gelas untuk minum atau pulpen untuk menulis. Ia belum bisa memahami kata-kata abstrak seperti tanggung jawab atau stres.

* Perbendaharaan kata terbatas.
Anak batita awal atau pertengahan (12-18 bulan) malah mungkin belum bisa berkata-kata sama sekali. Itulah sebabnya, komunikasi yang kerap dilakukan anak usia ini bersifat nonverbal.

* Berperilaku tak terduga.
Keterbatasan si batita berkomunikasi secara verbal memunculkan banyak perilaku tak disangka-sangka. Misalnya melakukan protes dengan cara mengganggu orang tuanya yang sedang membaca koran karena sibuk sendiri dan tidak memperhatikan dirinya.

* Daya tangkapnya belum sebaik anak prasekolah atau sekolah.
Tak heran banyak anak bingung saat mendapat larangan maupun perintah yang merupakan pertanda ia belum mengerti secara utuh ucapan orang tuanya.

* Meski sudah bisa bicara, bukan berarti sudah paham benar arti dan penggunaan kata-kata. Contohnya, "bola" bukan sebagai bola yang bentuknya bulat saja, melainkan untuk semua mainannya. Atau menyebut "teh" untuk semua minuman.

* Hanya bisa menangkap pesan-pesan singkat.
Agar anak tidak bingung, orang tua harus membatasi diri pada ungkapan "ya" sebagai tanda setuju dan "tidak" sebagai larangan.

Semoga bermanfaat, wassalam
Thank you for reading Pahami Gaya Berkomunikasi Balita

Ditemukan, Gen Pembentuk Anak Kriminal

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Mungkin ini lah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan sikap anak yang tidak jauh berbeda dari perangai orang tuanya.

Bahkan, jika anak sering melakukan tindak kriminal dan berulang kali berurusan dengan hal-hal kejahatan, hal ini turut dipengaruhi oleh faktor genetik. Jika Anda menemukan seseorang yang sering melakukan tindak kriminal, bisa diselidiki, apakah orang tuanya juga berperilaku sama seperti anaknya.

Seperti dikutip dari laman Daily Mail, sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa segala tindakan dan perilaku seorang anak pasti tidak akan jauh dari pribadi orang tuanya.

Sebuah studi yang melibatkan anak laki-laki dan perempuan yang diketahui memiliki catatan kriminal empat kali ternyata setelah diteliti memiliki orang tua dengan segudang catatan kriminal.

The Florida State University mempelajari sikap 250 anak remaja pria dan perempuan. Mereka diteliti dengan melakukan wawancara saat memasuki usia SMA, kemudian secara berkala diwawancarai selama 13 tahun ke depan.

Dari penelitian ini terungkap, bahwa anak remaja laki-laki dan perempuan yang memiliki orang tua kandung dengan masalah kriminal dan pernah berurusan dengan polisi 4-5 kali, cenderung memiliki anak dengan sikap yang sama dibanding dengan orang tua kandung yang sama sekali tidak pernah berurusan dengan kepolisian.

"Anak-anak yang memiliki ayah biologis atau ibu kandung pernah bertindak kriminal, secara signifikan akan mengalami hal yang sama, dengan hukuman masa percobaan, beberapa kali dipenjara atau ditangkap," kata Kevin Beaver, penulis studi dan kriminologi.

Gen ini juga terlibat dalam perilaku kekerasan antisosial termasuk salah satu yang disebut MAO-A yang membuat enzim sebagai pemecah bahan kimia dalam otak yang terkait dengan agresi.

Versi ekstrim dari MAO-A atau gen jenis lain, telah terbukti memiliki pengaruh kuat ketika dipasangkan dengan perilaku anak yang bermasalah dalam pendidikan. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Biological Psychiatry. (art)

Tidak sekedar nakal, gen ini juga bisa membawa perilaku anak pada tindak kriminal.


Thank you for reading Ditemukan, Gen Pembentuk Anak Kriminal

Friday, February 17, 2017

Kombinasi 2 Nutrisi Agar Anak Cerdas

Asalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

VIVAnews - Wanita yang merencanakan atau sedang hamil dianjurkan agar mengasup makanan kaya asam folat dan zat besi. Kombinasi dua nutrisi akan menjadikan anak cerdas.

Hasil penelitian dimuat dalam edisi terbaru Journal of American Medical Association. Studi di Nepal menemukan ibu yang makan zat besi dan asam folat selama kehamilan, anak-anak mereka menunjukkan keterampilan kognitif dan motorik lebih besar dibandingkan anak-anak yang ibunya tidak mengasup suplemen kehamilan.

Sebanyak 676 responden anak, diamati tumbuh kembang semenjak balita, hingga anak berusia 7-9 tahun. Anak-anak dari ibu yang minum suplemen prenatal asam folat dan zat besi menunjukkan kemampuan kognitif lebih kuat dan kemampuan penalaran lebih tinggi.

Salah satu peneliti studi, Laura Murray-Kolb, asisten profesor di Penn State University mengatakan, penelitian pada tikus menunjukkan kekurangan zat besi selama kehamilan dapat mengubah neurotransmitter di otak. Akibatnya akan mempengaruhi kecepatan pemrosesan informasi. Studi di Nepal menunjukkan hal serupa pada manusia.

"Program prental yang rendah biaya yang dapat diimplementasikan di tingkat masyarakat. Di negara berkembang banyak wanita hamil yang tidak memeriksakan kehamilan ke dokter," kata Murray-Kolb seperti dimuat dalam AolHealth. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan sekitar 50 persen wanita hamil di negara berkembang mengalami anemia.

Kombinasi dua nutrisi ini akan menjadikan anak miliki 'otak encer'.

Thank you for reading Kombinasi 2 Nutrisi Agar Anak Cerdas

Friday, February 3, 2017

Boleh Nggak Anak Pakai Kalkulator?


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Kalkulator bisa menjadi alat bantu, bisa juga membuat otak tumpul. Kapan waktu yang tepat membolehkan anak memakai alat canggih ini?

"Ma... aku pusing nih. Banyak banget PR matematikanya! Hitungannya banyak lagi. Boleh nggak, aku pakai kalkulator biar ngerjainnya cepat?" pinta Anggia (10 tahun).
"Lho, kamu kan baru kelas 4, belum boleh pakai kalkulator. Nanti otak kamu jadi tumpul kalau ngitung pakai kalkulator," jelas Samira (35 tahun).
"Yaah, Mama kuno deh. Teman-teman kalau di rumah boleh sama mamanya pakai kalkulator," sungut Angia.

***

Penggunaan alat bantu seperti kakulator sampai sekarang masih jadi bahan pertentangan. Banyak orangtua serta sekolah yang melarang muridnya membawa alat itu ke dalam kelas. Tapi ada juga yang mengizinkan. Menurut pihak yang tidak mengizinkan, mereka mengatakan kalkulator bisa berdampak negatif, misalnya anak jadi malas, dan bikin otak jadi tumpul. Anak jadi tidak berlatih berpikir dengan otaknya. Apa-apa tinggal pencet tombol kalkulator. Perhitungan penjumlahan, perkalian, pembagian, akar, pecahan, persentasi, langsung tampak di layar tanpa harus memutar otak lebih keras.

Henny Eunike Wirawan, psikolog di Universitas Tarumanagara Jakarta mengatakan, pengajaran matematika bagi kelas 1-3 baru sebatas pengenalan konsep, terutama untuk anak kelas 1. Kemudian, barulah anak diajarkan untuk memahami konsep, selanjutnya mengaplikasikan konsep. Karena itu untuk tahap awal, anak harus benar-benar kenal segala hal yang berkaitan dengan angka. Termasuk operasi matematika seperti tambah, kurang, kali, dan bagi. "Supaya bisa menguasai konsep dasar, anak harus mengerjakan sendiri tugas-tugasnya dengan cara manual, tanpa alat bantu."

Cara pengenalan secara manual ini menurut Henny lebih efektif daripada menggunakan alat bantu. Sebab kalau memakai alat bantu, anak akan dengan mudah mengalami ketergantungan dengan benda tersebut. Khususnya kalkulator. "Tanpa kalkulator, bisa-bisa anak tidak mampu mengerjakan tugasnya. Kalaupun bisa, tentunya sangat lambat, karena mereka tidak terbiasa melakukan perhitungan sederhana sekalipun. Dengan begitu potensi logika matematika anak menjadi tumpul, karena penggunaan alat bantu yang sebenarnya belum pada waktunya digunakan."

Di samping itu, terang Henny, penggunaan kalkulator di usia dini cenderung mendorong anak tidak terbiasa teliti dalam bekerja. "Kalkulator bisa saja membuat anak tidak mengerti konsep matematika. Akibatnya malah jadi tidak bisa matematika."

Tak Akan Gaptek
Jika ditilik dari segi positifnya, kalkulator bisa mempercepat proses kerja dan menghemat kertas hitung. "Anak tidak perlu menggunakan kertas coret-coretan dan berlama-lama mengerjakan tugas. Efeknya, lebih banyak kegiatan di luar mengerjakan PR yang bisa dilakukan anak," papar Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi ini.

Namun lanjut Henny, ada baiknya kalkulator digunakan oleh anak yang lebih besar. Misal untuk anak kelas 1 SLTP atau lebih. "Anak yang lebih dewasa sudah mengenal rumus yang akan digunakan dan aplikasinya pada hitungan tertentu. Jadi penggunaan kalkulator benar-benar sebagai alat bantu, bukan sarana utama. Anak sendirilah yang menentukan perhitungan seperti apa yang harus dijalankannya."

Dalam perkuliahan sekalipun, tanpa mengerti proses perhitungan secara manual, kalkulator secanggih apapun tak ada gunanya. "Mahasiswa sekalipun mesti mengerti apa yang harus dilakukannya. Barulah, kalkulator digunakan untuk membantu proses perhitungan itu."

Mengenai kekhawatiran orangtua bahwa kalau anak tak dikenalkan kalkulator, anak jadi gaptek (gagap teknologi), Henny membantahnya. "Tak perlu khawatir si kecil dikatakan gaptek. Kecanggihan kalkulator bisa dipelajari dalam waktu cepat, asalkan hal-hal yang mendasar sudah dikuasai dengan baik."

Sempoa, Boleh Nggak?
Sempoa sudah ada jauh sebelum kalkulator ada. Hanya saja, baru mulai populer lagi belakangan ini. Penggunaan sempoa pada prinsipnya membantu anak untuk menyeimbangkan otak kiri dan kanan, agar kedua belahan otak berfungsi secara optimal.

Tapi menurut Henny, seandainya mau digunakan sebagai alat bantu berhitung, seyogyanya penggunaan sempoa dipertimbangkan kembali. Sebab fungsi sempoa mirip kalkulator. "Kecuali kalau si anak sudah sangat menguasai sempoa, sehingga bisa melakukan perhitungan cara sempoa cukup dengan menggunakan jari tangan. "Jadi, metodenya yang diadaptasi, tanpa perlu membawa alatnya ke dalam kelas." (Esi)

Wassalam.
Thank you for reading Boleh Nggak Anak Pakai Kalkulator?

Wednesday, February 1, 2017

Tips Mengajarkan Minum Obat Kapsul Pada Anak

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Saat masih kanak-kanak obat yang diberikan umumnya berbentuk cair atau sirup. Tapi pada usia tertentu anak harus bisa minum obat berbentuk kapsul atau tablet. Bagaimana cara mengajarkan anak minum obat?

Jika anak masih berusia di bawah 10 tahun, umumnya belum memiliki kesiapan untuk belajar menelan kapsul atau tablet. Karenanya orangtua harus melihat terlebih dahulu apakah anak sudah siap atau belum.

Obat berbentuk cair atau sirup biasanya hanya sebatas obat untuk pilek, batuk atau penurun panas. Tapi jika sakitnya cukup serius, sebagian besar obat akan berbentuk kapsul atau tablet. Jika anak belum bisa mengonsumsinya, maka obat ini akan digerus hingga berbentuk puyer tapi akan menimbulkan rasa pahit sehingga sulit meminta anak untuk meminumnya.

Seperti dikutip dari Babycenter dan eHow, Selasa (28/12/2010) ada beberapa langkah atau cara yang bisa dilakukan orangtua dalam mengajarkan anak minum kapsul atau tablet, yaitu:

1. Berlatih dengan menggunakan permen kecil
Untuk awalnya, gunakanlah bantuan permen bulat kecil yang diperumpamakan sebagai obat. Mintalah si kecil meletakkan permen tersebut di ujung tenggorokan lalu menelannya dengan bantuan air. Jika anak berhasil melakukannnya minimal dua kali, maka ia bisa mengonsumsi obat kapsul atau tablet.

2. Berikanlah contoh cara minum obat di depan anak
Jika anak belum paham berikanlah contoh cara minum obat yaitu dengan meletakkan obat di ujung, mengambil seteguk air, lalu memiringkan atau mendongakkan kepala dengan sedikit hentakan kecil kemudian menelan.

3. Memberikan air terlebih dahulu
Teknik ini dengan cara meminta anak mengambil seteguk air dan menahannya di dalam mulut, kemudian mintalah ia menatap ke atas lalu ibu memasukkan obat ke sudut mulutnya. Setelah itu mintalah anak menelannya dengan posisi masih menatap ke atas atau langit-langit.

4. Mengulanginya hingga 3 kali
Jika saat pertama anak gagal menelan pil tersbeut, cobalah untuk mengulanginya hingga dua kali. Jika masih gagal juga beri istirahat sejenak sekitar 3-5 menit dan bisa juga sambil mengunyah sesuatu, lalu mintalah anak untuk mengulanginya lagi.

5. Gunakan ukuran permen yang lebih besar
Jika anak sudah berhasil menelan permen dengan menggunakan bantuan air saja, maka tingkatkan ukuran permen menjadi sedikit lebih besar. Orangtua sebaiknya tidak menggunakan obat langsung, tapi gunakanlah permen dalam setiap percobaan hingga anak benar-benar berhasil.

6. Gunakan bantuan kue, jeli atau pisang
Jika anak tidak juga bisa menelan permen atau obat tersebut dengan bantuan air saja, maka cobalah membungkus obat dengan kue, makanan jelly atau pisang lalu meletakkannya di mulut dan menelannya dengan bantuan air.

Semoga bermanfaat, wassalam.
-------------------------------
Thank you for reading Tips Mengajarkan Minum Obat Kapsul Pada Anak

Friday, January 27, 2017

Anak Yang Terlalu Sering Dibantu Bisa Menjadikan Anak Pesimis!


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Membantu anak boleh-boleh saja, namun bila orang tua terlalu sering membantu anak bisa mengakibatkan anak tak dapat mengenali kemampuannya lagi. Anak akan sering mengatakan, "Saya tak bisa ini, Saya tak bisa itu." Hal ini terjadi karena anak tak dibiarkan dan belajar menghadapi kesulitan sedikitpun.

Contoh:
  • Ketika si anak mengeluh tentang sulitnya mengerjakan ‘PR’ dari sekolah, orang tua langsung mengambil alih dan mengerjakan PR tersebut.
  • Saat anak menghadapi masalah dengan mainannya, orang tua segera mengatasi masalah tersebut.
  • dan contoh-contoh lainnya.

Dan bila hal ini kta biarkan terus menerus, anak akan tumbuh sebagai anak yang pesimis, anak yang merasa tak mampu menghadapi berbagai masalah atau kesulitan.

Anak akan menjadi anak yang selalu menunggu dan mengharapkan bantuan orang lain datang untuk dalam mengatasi masalah-masalahnya. Manakala bantuan itu tak ia peroleh, ia pun merasa tak dapat berbuat apa apa.
Thank you for reading Anak Yang Terlalu Sering Dibantu Bisa Menjadikan Anak Pesimis!

Anak Perlu Bermain Sendiri Juga .

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Bermain adalah dunia anak, kita semua tahu itu. Namun, pernahkah memperhatikan, di usia batita anak-anak sudah memiliki pola bermain yang berbeda-beda. Tak jarang, mereka tampak asyik bermain sendirian atau soliter karena pola bermain ini memang masih mendominasi masa usia tersebut.

Hanya saja, tak sedikit para orang tua yang merasa khawatir melihat batitanya lebih suka bermain sendiri daripada bersama teman sebaya, walau tak sedikit pula yang malah merasa tenang bila anaknya bermain sendiri. Daripada sampai bertengkar karena berebut mainan dengan teman sebaya, lebih baik main sendiri, begitu pikir mereka.

Saat si batita belum mau bermain bersama anak lain, Alma Nadhira, Psi., setuju jika orang tua tidak memaksanya. Menurut psikolog dari RS Fatmawati, Jakarta ini, mereka masih bersifat malu-malu atau takut-takut. Kalaupun di dekatnya ada teman sebaya, biasanya mereka tak saling terlibat. Apalagi kita tahu di usia batita ego anak masih tinggi. Dia belum mau berbagi dan masih ingin diperhatikan, sehingga bermain bersama dapat membuatnya merasa tak nyaman, misalnya jika si teman menginginkan mainan dari tangannya dan berusaha merebut.

Namun, tak tertutup kemungkinan anak usia batita pun ada yang sudah bisa bersosialisasi. Ia bisa bermain bersama dengan teman lainnya. Malah bisa jadi dia merasa kurang gembira bila tak punya teman bermain atau harus bermain sendirian.
Jadi, menurut psikolog yang disapa Dhira ini, bermain sendiri atau bersama tergantung pada masing-masing anak dan juga orang tuanya. Ada anak yang memang merasa lebih senang bermain sendiri dibanding bermain dengan temannya. Besar kemungkinan, ini karena orang tuanya tidak mendorong si anak bersosialisasi sejak dini.

Sebaliknya, ada juga anak yang malah lebih senang bermain bersama. Biasanya, ini terjadi karena orang tua cenderung mendorongnya bermain bersama anak lain sejak dini. Contohnya, orang tua yang tinggal dalam keluarga besar.

Manfaat Bermain Sendiri:

* Bermain sendiri melatih kognisi atau melatih kemampuan belajar berdasarkan apa yang dialami dan diamati dari sekelilingnya.
* Saat sedang sendiri memainkan permainan yang menantang, anak memiliki kesempatan melatih konsentrasi dalam memecahkan masalah. Misalnya, saat bermain pasel anak akan berusaha memfokuskan diri menyambung kepingan¬kepingan gambar agar menjadi utuh kembali.
* Saat sendirian, imajinasi anak juga bebas mengembara ke mana-mana. Hal itu dimungkinkan karena dengan bermain sendiri ia dapat melepaskan diri dari kesibukan di sekeliling mereka. Jadi anak punya kesempatan untuk berpikir dan berkhayal sebebas-bebasnya. Adakalanya anak juga perlu menikmati privasinya, bukan?
Thank you for reading Anak Perlu Bermain Sendiri Juga .

Thursday, January 26, 2017

Tips Mengatasi Muntah Pada Anak



Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Pengertian

Muntah adalah keluarnya isi lambung sampai ke mulut. Isi muntahan dapat berupa cairan bercampur makanan atau cairan lambung saja. Muntah pada anak sering menimbulkan kecemasan bagi kita. Hal tersebut sangat wajar karena muntah yang terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan) yang merupakan salah satu kondisi kegawatdaruratan pada anak.

Mekanisme Terjadinya Muntah

Muntah terjadi melalui mekanisme yang sangat kompleks. Terjadinya muntah dikontrol oleh pusat muntah yang ada di susunan saraf pusat (otak) kita. Muntah terjadi apabila terdapat kondisi tertentu yang merangsang pusat muntah. Rangsangan pusat muntah kemudian dilanjutkan ke diafragma (suatu sekat antara dada dan perut) dan otot-otot lambung, yang mengakibatkan penurunan diafragma dan kontriksi (pengerutan) otot-otot lambung. Hal tersebut selanjutnya mengakibatkan peningkatan tekanan di dalam perut khususnya lambung dan mengakibatkan keluarnya isi lambung sampai ke mulut.

Beberapa kondisi yang dapat merangsang pusat muntah di antaranya berbagai gangguan di saluran pencernaan baik infeksi (termasuk gastroenteritis) dan non infeksi (seperti obstruksi saluran pencernaan), toksin (racun) di saluran pencernaan, gangguan keseimbangan, dan kelainan metabolik.

Penyebab Muntah

Muntah adalah salah satu gejala dari suatu penyakit. Banyak penyakit pada anak yang dapat menyebabkan muntah. Sebagian besar muntah pada anak disebabkan gastroenteritis virus. Namun tidak mudah bagi orang tua untuk mengetahui penyebab muntah secara pasti. Oleh karena itu periksakan anak anda ke dokter untuk mengetahui penyebab muntah (diagnosis) dan penanganannya di rumah.

Berikut ini adalah kemungkinan penyebab muntah pada anak :
  • Gastroenteritis akut
  • Food poisoning
  • Stenosis pilorik
  • Apendisitis akut
  • Obstruksi intestinal (penyumbatan saluran penceranaan)
  • Penyebab muntah lainnya: migrain, sakit kepala, flu, ISPA, meningitis, tumor kepala, cedera kepala, dan lain-lain (masih banyak penyebab muntah yang tidak bisa saya sebutkan secara detail)

Perlukah Obat Anti Muntah?

Menghentikan muntah bukanlah tujuan utama penanganan muntah. Muntah merupakan gejala dari suatu penyakit. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui penyebab muntah (diagnosis) dan memberikan terapi sesuai dengan penyebabnya. Sebagai contoh, apabila terjadi obstruksi (penyumbatan) saluran pencernaan diperlukan tindakan bedah.

Pada keadaan infeksi saluran pencernaan (gastroenteritis) dan keracunan (makanan, bahan kimia, dan lain-lain) muntah sebetulnya merupakan mekanisme pertahanan tubuh. Melalui muntah, tubuh berupaya mengeluarkan berbagai racun yang terdapat dalam lambung. Mekanisme pertahanan tubuh yang alami tersebut serupa dengan yang terjadi pada diare.

Oleh karena itu, muntah pada anak yang disebabkan gastroenteritis dan keracunan makanan tidak dianjurkan untuk diberikan obat anti muntah. Selain itu, belum terdapat bukti klinis yang cukup kuat yang mendukung efektivitas obat anti muntah pada gastroenteritis akut. Bila anda bermaksud memberikan obat antimuntah, diskusikan masalah tersebut dengan dokter anda.

Obat anti muntah dapat diberikan pada kondisi tertentu seperti muntah yang disebabkan kemoterapi. Apabila penyebab muntah tidak diketahui maka tidak dianjurkan untuk memberikan obat anti muntah.

Penanganan Muntah di Rumah

Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan di rumah apabila anak anda muntah:
  1. Tetap tenang dan jangan panik.
  2. Jangan memberikan obat muntah tanpa anjuran dokter. Diskusikan dengan dokter mengenai risiko dan manfaatnya bila akan memberikan obat muntah.
  3. Posisikan anak pada posisi telungkup atau miring (miring ke kiri atau ke kanan) untuk menghindari isi muntahan masuk ke saluran napas.
  4. Perhatikan tanda-tanda dehidrasi. Dehidrasi adalah keadaan tubuh kekurangan cairan. Dehidrasi dapat terjadi apabila anak muntah terus-menerus. Dehidrasi yang berat dapat mengancam nyawa.
  5. Tetap berikan cairan. Pemberian cairan (minum) sangat penting untuk mencegah anak dehidrasi. Apabila anak menolak, tetap bujuk anak untuk minum. Untuk Bayi, bila anda masih menyusui, berikan ASI. Dokter mungkin akan menambahkan cairan elektrolit (oralit). Bila bayi anda mendapatkan susu formula, dokter mungkin akan menggantikan sementara susu formula dengan oralit selama 12-24 jam pertama, atau menganjurkan untuk memberikan susu formula yang 2 kali lebih encer dibandingkan susu formula yang biasa diberikan. Untuk anak yang lebih besar dapat diberikan air, air bercampur gula (1 sendok teh gula dalam 120 ml air), dan oralit. Berikan cairan dalam jumlah sedikit-sedikit tapi sering (1 sendok teh tiap 1-2 menit). Apabila toleransi anak baik (tidak muntah lagi), tingkatkan jumlah cairan secara bertahap. Apabila anak tetap muntah, tunggu 30-60 menit terhitung sejak muntah terakhir, lalu berikan 1 sendok teh cairan tiap 1-2 menit. Pemberian cairan dalam jumlah sedikit namun frekuensinya sering relatif lebih mudah ditoleransi anak dari pada pemberian dalam jumlah banyak sekaligus.
  6. Modifikasi pola makan. Hindari pemberian makanan yang padat/keras dan berlemak karena makanan tersebut relatif lebih lama dicerna dan dapat merangsang muntah.

Kapan Harus Ke Dokter?

Periksakan anak anda ke dokter apabila :
  1. Usia anak < 6 bulan Usia anak > 6 bulan dan suhu badan > 38,5°C
  2. Terdapat tanda dehidrasi
  3. Muntah berlangsung lebih dari 8 jam atau muntah menyembur
  4. Muntah bercampur darah
  5. Buang air besar bercampur darah
  6. Belum buang air kecil dalam 8 jam terakhir
  7. Anak menelan benda beracun/berbahaya
  8. Leher anak kaku
  9. Anak tampak lemah
  10. Muntah disertai nyeri perut
  11. Muntah disertai perut kembung dan tegang
Thank you for reading Tips Mengatasi Muntah Pada Anak

Mama, Kok Sibuk Terus, Sih?

Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.


Mama, kok sibuk terus, sih? Memangnya kerja enggak ada liburnya?” protes Cindy Fahira Pohan (4 tahun) kepada ibunya, Iramawati Tambunan (38). Ya, boleh-boleh saja Anda sibuk berkarir di luar rumah, karena tujuan bekerja pasti untuk anak juga. Namun, anak pun menginginkan Anda memiliki waktu luang baginya. Jadi, Anda harus pintar me-manage waktu untuk memberikan perhatian kepadanya.

Kisah wanita yang berdomisili di Jalan SM Raja ini banyak juga dialami ibu-ibu di era zaman sekarang. Kedua orangtua terpaksa harus bekerja demi pemenuhan masa depan anaknya. Ujung-ujungnya, anak terpaksa diasuh pembantu atau dititip ke keluarga. Namun tanpa disadari, kebutuhan anak tak hanya kebutuhan fisik. Hal ini seringkali tidak disadari para orangtua yang sibuk berkarier. Mereka berpikir, melimpahi anak dengan harta benda sudah cukup.

Padahal tidak, kasih sayang dan perhatian orangtua paling penting untuk anak. Bentuk perhatian tidak melulu harus hadiah, tetapi dengan menemaninya belajar ataupun bermain, sudah cukup membuat anak senang dan bahagia. 

Memang, demi tuntutan ekonomi, Iramawati Tambunan dan suaminya, Rifai Pohan (43), terpaksa harus bekerja. Anak mereka, Cindy Fahira Pohan, terpaksa diasuh kakak dari Iramawati, Suliarti Tambunan. Hampir tiap hari anaknya menghabiskan waktu bersama keluarga kakaknya. “Saya terpaksa harus bekerja untuk membantu ekonomi dan masa depan anak saya. Memang ada yang harus dikorbankan, anak saya jadi kurang perhatian orangtuanya. Saya hanya memiliki waktu di akhir pekan. Nak saya juga tidak rewel saat diasuh kakak saya,” ujar wanita yang akrab disapa Ira ini.

Begitu juga yang dikatakan Ali Torgis Pasaribu, suami kakaknya yang selama ini mengasuh anak Ira. Karena saban hari Cindy (anak Ira, Red) berada dalam asuhan mereka, Cindy pun sangat dekat dengan mereka. “Cindy memanggil saya dengan sebutan ayah. Padahal saya bukan ayahnya, tapi Om-nya. Mungkin ini karena Cindy tiap hari bersama kami kalau orangtuanya sibuk bekerja,” kata Ali. 

Kata Ali, Cindy bukanlah tipe anak yang mengesalkan meski kadang rewel. Rewel bukan berarti cengeng. “Cindy anak cerdas. Cindy selalu banyak bertanya karena keingintahuannya. Meski Cindy kami asuh siang hari, tapi Cindy tidak melupakan siapa orangtuanya. Cindy anak pengertian karena dia tahu kalau mama-papanya bekerja untuk cari duit,” ujar Ali.

Menurut Ali, Cindy bukan anak yang gampang untuk bersosialisasi dengan orang lain. Cindy tak gampang dekat dengan orang lain yang belum dikenalnya. Tapi kalau sudah kenal, Cindy akan menjadi anak yang ramah dengan selalu banyak pertanyaan,” tambahnya.

Apalagi saat ini, kata Ali, Cindy sudah memiliki kesibukan bersekolah. Cindy baru duduk di bangku sekolah Taman Kanan-kanan (TK) Harapan Mandiri, Jalan Brig Jend Katamso Medan. “Setiap hari Cindy saya antar ke sekolah pada pukul 07.30 WIB. Cindy merasa senang dengan kegiatan barunya ini,” bilang Ali. 

Dikatakan Ali, meski kedua orangtua Cindy tidak dapat sepenuhnya memberikan perhatian kepada Cindy, tapi dirinya tetap selalu mengingatkan kepada Cindy untuk mengerti keadaan orangtuanya, harus menyayangi orangtuanya dan tidak boleh menjadi anak yang manja. “Cindy justru sayang sama orangtuanya. Kalau lagi libur akhir pekan bersama orangtuanya, Cindy malah nyombong sama kami,” pungkas Ali sambil tersenyum. (del) 

Sediakan Waktu Luang Untuk Anak
----------------------------------------
Ternyata, anak pun punya harapan kepada orangtua. Anak menginginkan orangtua punya waktu luang untuknya, yang mau berbagi, dan sebagainya. Apa lagi keinginan anak yang perlu diketahui orangtua?

Waktu luang Anda sangat dibutuhkan anak. Anda harus sering menelepon anak sesibuk apapun. Pada akhir pekan, harus menetapkan hari libur yang tak boleh lagi diusik dengan pekerjaan. Kemudian, orangtua jangan cekcok di depan anak. Sebab, jiwanya akan tertekan dan ia akan bingung, siapa yang harus dibela dan disalahkan. Ayahnya-kah atau ibunya-kah?

Anak juga mengingkan agar orangtuanya ramah terhadap teman-teman anak yang berkunjung. Lalu, anak menginginkan agar orangtua tak ingkar janji. Sebaiknya, jangan pernah memberikan janji pada anak, bila tak mau dicap anak sebagai orangtua pembohong? 

Anak juga menginginkan orangtuanya pintar dan cekatan sehingga mampu menjawab setiap pertanyaan. Sebagai anak, mereka juga menginginkan orangtua tidak saja menjadi tempat berlindung, melainkan juga bisa diajak berbagi alias curhat. Inilah yang terkadang tidak disadari para orangtua terhadap keinginan anak.

Sulit membaur dalam kehidupan anak, membuat jarak, dan tidak mau tahu masalah yang dihadapi anak. Mulai sekarang, cobalah menata kembali hubungan Anda dan anak agar lebih akrab. Sehingga posisi Anda tak hanya sebagai orang tua, tetapi juga bisa sebagai teman.

Seringkali, orangtua tidak menyadari sikapnya, dan mengeluh di depan anak. Keluhan Anda pun bermacam-macam, dari masalah keluarga sampai urusan pekerjaan yang membuat bingung si kecil. Mau tidak mau, ini melibatkan anak untuk turut berpikir dalam persoalan yang Anda hadapi. Padahal, itu tidak perlu. Kenapa harus berbagi masalah dengan anak? Apa yang dapat Anda harapkan dari seorang anak yang masih kecil dan pola pikirnya belum luas? Kalaupun anak memberikan pendapat, pasti Anda tidak puas karena tidak sesuai dengan yang Anda harapkan. Jadi, bicarakan masalah Anda dengan pasangan ataupun orang yang lebih tua dan memahami masalah tersebut.

Thank you for reading Mama, Kok Sibuk Terus, Sih?

Wednesday, January 25, 2017

Dampak Negatif Mengancam Anak

Assalamaualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Mengancam supaya anak patuh adalah salah satu bentuk paksaan yang identik dengan sikap otoriter. Tentunya sikap ini sangat tidak dianjurkan dalam mendidik anak. Anak yang terdidik dengan pola asuh otoriter akan tumbuh dengan kepribadian hasil bentukan orang tua alias tidak natural. Akibatnya mungkin saja potensi anak yang lain, yang sebenarnya bisa menjadi besar, malah terpendam begitu saja.

Selain itu, kepatuhan anak ketika melakukan apa yang diminta pun bukan karena kesadaran melainkan karena ketakutan yang muncul dalam dirinya. Alhasil anak tidak memahami alasan dari segala sesuatu yang harus ia lakukan. Seperti anak mandi karena dia takut didatangi polisi.

Bentuk-bentuk ancaman seperti ini, kata Any Reputrawaty, Psi., dari RS Persahabatan, Jakarta Timur, menimbulkan banyak dampak negatif pada anak, antara lain:

* Tidak mencerdaskan
Ancaman tidak membuat anak mengerti tentang apa yang harus dia lakukan. Padahal mandi adalah aktivitas membersihkan tubuh dari kotoran dan keringat yang kalau dibiarkan membuat tubuhnya tidak nyaman. Dengan mandi anak bisa kembali bugar, sehat, sehingga bisa beraktivitas lebih baik. Nah, kalau perintah mandi dibarengi dengan ancaman tentu hal ini tidak akan mencerdaskan anak. Dia mematuhinya semata-mata karena takut bukan karena tahu alasan yang sebenarnya.

* Membangkang
Jika kepatuhan anak dilandasi rasa takut terhadap ancaman, maka di saat sumber ketakutan itu tidak ada, kepatuhannya sangat mungkin berganti dengan ketidakpatuhan. Saat ia
hanya didampingi pengasuh misalnya, sangat sulit memintanya melakukan aktivitas rutin, seperti mandi, makan, dan beristirahat. Berarti apa yang selama ini dilakukan tidak berjalan efektif.
Tak jarang anak mencari alternatif pelepasan emosinya di tempat lain. Bila di rumah tidak bisa, mungkin dia akan melakukannya di playgroup, di rumah tetangga, di rumah nenek, dan lainnya, dimana dia tidak menemukan sosok orang tuanya.

* Hubungan dengan orang tua tidak lekat
Ancaman seringkali sangat menakutkan buat anak. Apalagi bila mimik yang ditunjukkan orang tua tampak begitu mengerikan. Dampaknya, mungkin saja anak merasa orang tuanya sendiri yang menjadi ancaman. Bila ini terjadi tentu akan sangat merugikan anak. Orang tua sebagai pihak yang seharusnya paling dekat dengan anak, memberikan pengasuhan, pendidikan dan perlindungan justru menjadi sumber ketakutannya. Tentu saja, kondisi ini membuat hubungan anak dengan orang tua renggang.

Bisa juga terjadi sebaliknya, anak semakin lekat dengan orang tua karena ancaman membuat anak merasa lingkungannya sangat tidak aman, ada genderuwo, ondel-ondel, orang gila, anjing galak, dan sebagainya. Tak mustahil anak akan selalu mengekor ke mana pun orang tua pergi.
Jadi kelekatan yang tumbuh merupakan bentuk ketergantungan yang didasari perasaan tidak aman.

* Penakut
Ketakutan yang sering dialami anak, mungkin saja akan membentuk pribadi yang penakut. Anak selalu merasa tidak aman karena ada bayang-bayang ancaman yang selalu saja terngiang di telinganya. Ketakutan yang berlebihan ini tentu akan menghambat pertumbuhan kreativitas anak karena dia tidak bisa mengembangkan kemampuannya secara optimal.

* Berpikir negatif
Seharusnya, anak didorong untuk memiliki konsep yang positif terhadap hal-hal yang memang positif. Polisi misalnya, seharusnya tidak ditakuti karena tugas utamanya justru melayani masyarakat. Demikian juga dengan ondel-ondel dan badut, meskipun bentuknya mungkin terlihat aneh sebenarnya mereka diciptakan untuk menghibur, tidak layak untuk ditakuti. Namun karena pembentukan citra negatif lewat ancaman dilakukan terus-menerus maka konsep berpikir anak mengenainya pun akan negatif.
Thank you for reading Dampak Negatif Mengancam Anak

Tuesday, January 24, 2017

Pentingnya Membangun Mental Juara Pada Anak Sejak Dini


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Tiadanya semangat untuk ingin mendapatkan sesuatu yang lebih baik atau mematok standar yang tak rendah bagi diri sendiri seringkali menjadi kendala kesuksesan diri. Bermental juara tanpa perlu menjadi ambisius bukanlah sesuatu yang bisa gampang dipetik. Ada proses sosialisasi dan pembiasaan yang perlu dilakukan, terutama bila diterapkan sejak masa kanak-kanak.

”Anak bisa juga dikatakan juara saat dia berhasil melakukan apa yang seharusnya dia lakukan,” kata Ayu Dwi Nindyati, Msi, Psi (Ketua Jurusan Psikologi Universitas Paramadina). Seringkali makna juara yang seperti ini kurang disadari, baik oleh orangtua maupun anak. Jika orangtua sudah menyadari hal ini, maka hal selanjutnya adalah membentuk mental juara pada anak.

”Membentuk mental juara yang dimaksud adalah bagaimana orangtua membantu anak-anak untuk menang dalam setiap langkahnya,” papar Ayu. Caranya adalah dengan mengajari anak untuk menghargai sekecil apapun prestasi yang dia miliki. ” Dengan begitu, ia juga akan belajar untuk menghargai orang lain,” tambahnya.

Menurut Dra. Puji Lestari Prianto, M.Psi, dosen Psikologi Pendidikan dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia,"Cara tepat orangtua membentuk mental juara, adalah dengan tidak selalu membantu anak, tidak selalu menganggap anak masih kecil. Orangtua perlu menyadari kapan anak perlu dibantu dan kapan anak bisa dilepas untuk memecahkan masalahnya sendiri,”

Dengan demikian orangtua dapat membentuk anak menjadi tangguh. Selain itu orangtua juga perlu menanamkan motivasi dari dalam diri anak sendiri, sehingga anak tidak selalu harus disuruh dan ditentukan oleh lingkungannya, dalam melakukan segala sesuatu.

Aspirasi vs Ambisi

Orangtua kerap menyalahartikan konsep membentuk mental juara dengan menuntut anak untuk selalu menjadi juara. “Memotivasi memang penting, tapi jangan lupa bahwa antara memotivasi dengan memaksa itu cukup dekat. Orangtua harus hati-hati agar maksud baiknya untuk memotivasi tidak dilakukan dengan memaksa,” kata Ayu.

Ayu yang juga menjadi konsutan Psikologi untuk pengembangan Sumber Daya Manusia ini menyayangkan bahwa seringkali orangtua lebih termotivasi memiliki pride atau prestise saat anak memenangkan sesuatu, sehingga yang dikejar adalah hasilnya, bukan prosesnya.

“Inilah yang menciptakan anak ambisius, di mana anak hanya akan berorientasi pada pencapaian hasil,” ujarnya. Berbeda dengan anak yang memahami proses maka akan tercipta aspirasi di dalam dirinya. ”Anak yang memiliki aspirasi artinya terinspirasi dan termotivasi untuk senantiasa melakukan yang lebih baik lagi,” tambahnya.

Dengan demikian, aspirasi sifatnya lebih jangka panjang daripada ambisi. ”Pada anak yang ambisius, anak akan sangat keras berusaha mencapai sesuatu akan tetapi di lain pihak anak akan cepat puas dan bangga pada yang diperolehnya dan berhenti hanya sampai di situ,” terang Ayu. Oleh sebab itu, ajarlah anak untuk lebih menghargai proses daripada hasil.

Hal senada juga diungkapkan oleh Puji, yang penting bukanlah menjadi juaranya, tetapi bagaimana usaha anak untuk mencapainya. “Anak tidak harus selalu menjadi juara, tetapi menjadi lebih baik dari yang ia lakukan selama ini. Ia bisa lebih percaya diri, siap menghadapi berbagai tantangan,” paparnya.

Puji menambahkan, menghadapi kekalahan pun merupakan salah satu membentuk mental juara. Dalam hidup, seseorang tidak selalu menghadapi keberhasilan tetapi juga dalam saat-saat tertentu menghadapi kegagalan atau ketidakmulusan. “Dengan adanya hal-hal seperti ini, justru anak belajar bahwa diperlukan usaha untuk mengatasi sesuatu,” katanya.

Latih Mental Juara Sejak Dini

Baik Ayu maupun Puji mengatakan bahwa mental juara dapat dibentuk dan dilatih orangtua sejak kecil, terutama begitu anak mulai berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Puji menguatkan penjelasannya dengan teori Erickson yang banyak membahas perkembangan psikososial anak. Menurut teori Erickson, tahun-tahun pertama merupakan tahun pembentukan dasar kepribadiannya kelak, dan dalam hal ini lingkungan sosial amat berpengaruh.

Awal kehidupan anak ditandai dengan adanya trust dan mistrust. Trust atau rasa percaya menunjukkan adanya perasaan kenyamanan fisik dan sedikit rasa takut. Trust di masa kanak-kanak membentuk harapan dalam kehidupan bahwa dunia ini merupakan tempat yang nyaman.

“Jika anak tidak merasa nyaman dengan lingkungannya maka yang berkembang adalah rasa mistrust,” kata Puji. Ayu juga menekankan bahwa anak bukanlah bentuk mini orang dewasa. “Dalam membentuk mental juara dan memotivasi anak harus mementingkan kenyamanan dan kebahagiaan anak, dengan cara-cara yang fun, jangan sampai anak merasa terpaksa dan tidak enjoy terhadap apa yang diakukannya,” tegasnya.

Selanjutnya, pada usia 1-3 tahun ditandai dengan autonomy dan shame and doubt. Pada masa ini anak mulai menemukan dan mengembangkan tingkah lakunya. Jika anak diberi kesempatan untuk mencoba maka akan muncul autonomy, tetapi kalau anak banyak diarahkan, dilarang atau “jangan ini, jangan itu” maka akan menjadi anak yang pemalu atau ragu-ragu. Pada usia ini cukup ideal untuk melepas anak memecahkan masalahnya sendiri, yang merupakan salah satu cara membentuk mental juara.

Sementara pada masa anak-anak awal yaitu usia 3-5 tahun ditandai dengan initiative dan guilt. Masa ini muncul di usia prasekolah, di mana kehidupan sosial anak sudah lebih berkembang. “Saat anak mulai aktif, banyak perilaku perlu dikembangkan agar anak bisa mengatasi atau beradaptasi dengan lingkungannya,” jelas Puji.

Anak belajar untuk bertanggungjawab atas berbagai hal, misalnya menjaga milik mereka. Berkembangnya rasa tanggung jawab akan menanamkan rasa inisiatif pada diri anak. Sebaliknya akan muncul anak yang memiliki rasa bersalah dan cemas dikarenakan tidak memiliki rasa tanggung jawab dan tidak diberi kesempatan untuk mandiri.

Dengan adanya pengalaman dari lingkungan yag menjadikan anak memiliki rasa percaya pada dunianya, mandiri dan penuh inisiatif, diharapkan membuat anak akan lebih siap menghadapi dunianya. Hal-hal inilah yang merupakan esensi dari mental juara.

Thank you for reading Pentingnya Membangun Mental Juara Pada Anak Sejak Dini

Pentingnya Bermain di Ruang Terbuka Bagi Anak


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Bermain di dalam atau di luar ruangan sama pentingnya untuk perkembangan anak. Walaupun penelitian terkini menunjukkan menurunnya jumlah anak-anak yang terlibat dalam permainan aktif di ruang terbuka, bermain di ruang terbuka sangat penting untuk perkembangan yang sehat.

Area di luar ruangan adalah tempat yang ideal untuk anak terlibat dalam permainan yang kotor dengan pasir, air, cat dan kegiatan seni dan kerajinan lainnya. Taman bermain di ruang terbuka menyediakan lebih banyak ragam bahan alami untuk menstimulasi panca indera. Batita dan balita akan menikmati bermain dengan tanah, daun, batu bata, bebatuan, kulit kayu, air, tanaman dan bunga-bungaan.

Kolam air sangat baik untuk bermain di air; balita Anda akan menikmati bermain ciprat-cipratan dan menendang-nendang di air, menggunakan gelas dan wadah-wadah dengan berbagai bentuk untuk disusun, menciduk air dan menuang air.

Mesin pembuat gelembung sabun juga sangat baik untuk mengembangkan kesadaran spasial ketika anak Anda dengan riang berusaha menangkap gelembung yang melayang di udara.

Saat anak-anak memasuki usia prasekolah (2-5 tahun), mereka mulai terlibat dalam permainan yang lebih aktif, mereka belajar untuk menggunakan mainan-mainan berroda, dan senang memanjat alat-alat permainan di taman bermain. Anak Anda juga akan menyukai bermain dengan bola, peralatan bowling, lompat tali, dan permainan dengan raket.

Ruang terbuka memberikan kemungkinan-kemungkinan yang lebih banyak untuk bermain secara aktif, yang penting bagi perkembangan ketrampilan motoriknya seperti berlari, menyeimbangkan badan, saling mengejar, melempar dan menangkap. Bermain aktif di ruang terbuka banyak manfaatnya bagi kesehatan; dapat meningkatkan kebugaran anak Anda, mengurangi kemungkinan obesitas dan meningkatkan kesehatan secara umum.

Bermain di luar ruangan juga memberi kesempatan pada anak untuk menjelajahi lingkungannya dalam hubungannya dengan dirinya sendiri; menciptakan tempat bermain sendiri; dan terlibat dalam permainan imajinasi dengan alat bantu yang sebenarnya (contohnya, rumah-rumahan, tenda, tali jemuran, truk) dan simbolis (contohnya karton, batang kayu, bebatuan).

Area bermain di ruang terbuka sangat baik ketika anak-anak ingin bermain dengan ribut dan bergumul tanpa kekerasan. Gunakan kesempatan ini untuk menjelaskan pada anak Anda tentang suara untuk “di dalam” dan “di luar” dan perbedaan volume di antara keduanya.

Bermain dengan aktif di ruang terbuka bisa memberi stimulasi yang intens dan menciptakan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar tentang kontrol diri dan mengembangkannya. Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak yang populer lebih banyak terlibat dalam permainan fisik tingkat tinggi dengan teman-teman sebayanya. Sebaliknya, anak-anak yang kurang populer, tampak mengalami kesulitan menghadapi intensitas permainan fisik dan seringkali terstimulasi secara berlebihan dan menjadi “lepas kendali”.

Dengan bermain secara aktif dengan anak Anda, Anda tidak hanya meningkatkan kesehatan dan perkembangan fisiknya tapi juga memberinya kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan yang penting untuk membantunya dalam interaksi sosialnya dengan teman-teman sebayanya.

Ditulis oleh Dr Cathrine Neilsen-Hewett dan dipersembahkan kepada Huggies Indonesia melalui KiDS Central dan Early Learning Center.
Thank you for reading Pentingnya Bermain di Ruang Terbuka Bagi Anak

Monday, January 23, 2017

Mitos Seputar Bayi dan Balita


Assalamualaikum wr wb,salam cerdas kreatif

Inilah 10 mitos seputar bayi dan balita yang sering kita dengar di sekitar kita:

1. Jemur Bayi di Pagi Hari
Anggapan bahwa bayi harus dijemur setiap pagi tak sepenuhnya betul. Bayi memang perlu dijemur di pagi hari untuk menghangatkan tubuhnya, tetapi tak perlu setiap hari. Juga, tak perlu lama-lama, cukup 10 - 15 menit saja di bawah jam delapan pagi. Terutama bila bayi anda lahir berwarna kuning. Sinar matahari pagi hari dapat menguraikan bilirubin menjadi senyawa yang larut dalam air dan akan dikeluarkan sebagai urin.

2. Susu Botol Saat Tidur
Itu hanya untuk meringankan anda saja. Memberikan susu botol pada bayi yang bangun malam hari membuat anda lebih praktis dan bayi pun segera tidur lagi. Tapi, susu botol dapat mengganggu perkembangan bayi. Karena, endapan susu dapat berkumpul di bagian gusi. Selain itu, si kecil mudah terkena infeksi telinga karena susu yang diminum dapat masuk ke saluran eustachius, penghubung antara tenggorokan bagian belakang dan telinga bagian belakang. Jadi, bila harus memberikan susu botol, angkat bayi, pangku agar kepala lebih tinggi dari badannya. Setelah itu tidurkan tanpa botol.

3. Air Dingin Membuat Bayi Kuat
Anggapan memandikan bayi dengan air dingin dapat membuat bayi kuat sangat tidak benar. Bayi justru rentan terhadap suhu dingin. Itu sebabnya setelah lahir orangtua membedong bayinya. Air dingin dapat membuat pembakaran dan metabolisme tubuh bayi meningkat, sehingga makanan dalam tubuh bisa habis untuk mengatur suhu tubuh. Bayi bisa kehabisan tenaga dan akhirnya mudah sakit. Bayi harus dimandikan dengan air hangat. Angkat sebelum bayi kedinginan dan usahakan anak dalam keadaan hangat.

4. Wajar Bayi Berliur
Memang wajar, sebab bayi hingga usia 4 tahun aktif memproduksi air liur. Namun, bila liur bayi berlebihan, kemungkinan terjadi peradangan atau infeksi di rongga mulut. Air liur juga menjadi tanda tumbuh gigi. Jadi, bukan karena akibat ngidam tak terpenuhi.

5. Bayi Boleh Ngompol

Sampai usia dua tahunan, wajar saja bila masih ngompol. Karena, kontrol air seninya belum berfungsi sempurna. Meski demikian, mengajarkan bayi buang air lebih dini lebih baik, sehingga di usia dua tahunan ia sudah bisa mengontrol kandung kemihnya. Bila sampai di atas 2 tahunan masih ngompol, waspadai kemungkinan masalah psikologis atau biologis.

6. Harus Gumoh Sesudah Makan
Gumoh atau mengeluarkan cairan makanan atau minuman sesudah ia makan atau menyusu, dilakukan bayi bila ia kekenyangan atau bila banyak udara terikut masuk saat ia makan atau menyusu. Gumoh juga bisa terjadi bila gurita bayi terlalu kencang mengikat tubuhnya atau, salah memposisikan anak saat makan, misalnya makan dengan posisi telentang. Bila ia tak mengalami itu, bayi pun tak selalu gumoh.

7. Bayi Harus Digendong
Menggendong bayi merupakan kebiasaan keluarga Indonesia. Memang membuat bayi tenang, namun tak membuat bayi melatih emosinya.
Bila otot-otot lehernya mulai kuat, ia bisa mengontrol kepala dengan baik, anda boleh mengajaknya bermain dengan mengangkat bayi tinggi-tinggi, mengayun-ayunkan, dsb. Cara tersebut dapat melatih anak mengontrol emosinya.

8. Anak ngempeng, Wajar
Banyak yang menganggapnya demikian. Itu wajar dilakukan anak di bawah usia dua tahun. Di atas usia tersebut, anak yang kecanduan ngempeng, termasuk ngempeng dengan ibu jarinya, bisa tanda si kecil mengalami gangguan psikologis. Misalnya, anak merasa tidak aman, ketakutan, kurang perhatian, tidak percaya diri dan sebagainya. Bila anak demikian, alihkan pada kegiatan lain.

9. Sehat Anak yang Selalu Berkeringat
Keringat yang keluar berlebihan bukan pertanda sehat. Tapi tanda gangguan tertentu, misalnya stres, fungsi kelenjar gondok yang berlebihan, rendahanya kadar gula, berat badan berlebih. Jadi sebaiknya waspada jika keringat anak berlebihan.

10. Anak Harus Diberi Vitamin
Bila pola makan anak bagus, sebenarnya tak perlu tambahan vitamin. Jika ingin tetap memberi anak vitamin, berikan sesuai kebutuhan, karena vitamin sangat bermanfaat bila anak membutuhkannya. Seperti, vitamin untuk meningkatkan nafsu makan, untuk menambah zat besi dan sebagainya.

Thank you for reading Mitos Seputar Bayi dan Balita

Tips Agar Si Kecil Sayang Kakek Nenek




Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif

Bagi si Kecil yang tinggal dekat dengan rumah kakek-nenek, biasanya tak akan timbul masalah kurang dekat atau kurang akrab di antara mereka. Tidak demikian halnya jika rumah kakek-nenek jauh. Sering ada perasaan 'asing', kadang malah takut, jika balita dipertemukan dengan kakek-neneknya. Apalagi jika sejak awal kita tidak mengenalkan sosok kakek-nenek kepada anak.

Lalu bagaimana caranya?
Kunci utamanya adalah komunikasi.
"Kedekatan antara cucu dengan kakek-neneknya pasti akan terjalin jika ada komunikasi di antara mereka. Karena itu bangunlah komunikasi dengan mereka sedini mungkin."

Berikut ada beberapa tips yang bisa dilakukan:

1. Kenalkan sedini mungkin
Kenalkan anak sedini mungkin dengan kakek-neneknya, agar anak menyadari bahwa selain orangtuanya, masih ada anggota keluarga lain, kakek-nenek.

2. Seringlah berkunjung
Jika rumah kakek-nenek dekat, kunjungilah secara teratur bersama anak, agar mereka terbiasa berhubungan dengan kakek-neneknya. Jika cukup jauh, rencanakan dan sisihkan waktu untuk mengunjungi mereka, misal satu bulan sekali. Jadikan acara ini program tetap keluarga. Mintalah kakek-nenek untuk berkunjung ke rumah juga, jika memungkinkan.

3. Gunakan teknologi
Teknologi membuat balita lebih mudah berhubungan dengan kakek-nenek, meski dipisahkan oleh jarak. Gunakan telepon, atau jika ada, e-mail. Kirimkan foto atau VCD si kecil ketika ia sedang melakukan kegiatan yang disenanginya. Bisa juga, mainkan rekaman cerita ninabobo dari kakek atau nenek sebelum anak tidur.

4. Tulis surat
Kalau si kecil suka menerima surat atau kartupos, kirimilah sekotak kartupos dan perangko kepada kakek-nenek. Minta mereka mengirim surat atau kartupos itu secara teratur kepada anak. Dorong juga anak untuk menulis surat atau membuat gambar untuk dikirimkan secara teratur kepada kakek-nenek.

5. Letakkan foto kakek-nenek
Kenalkan anak pada kakek-neneknya dengan meletakkan foto kakek-nenek di ruang tamu atau keluarga, sehingga anak bisa melihatnya dengan jelas. Jika ada, letakkan juga album foto keluarga di tempat yang mudah dijangkau. Ceritakan tentang kakek-nenek kepada anak di waktu-waktu tertentu, misal mengenai kehidupan yang kini dijalani, hobi mereka, makanan kesenangan, atau film favorit.

6. Buat Silsilah
Anak biasanya suka belajar mengenai nenek moyang atau kerabat mereka. Mintalah kakek-nenek bercerita mengenai keluarga mereka waktu masih kanak-kanak. Minta juga untuk menggambarkan silsilah atau pohon keluarga kepada si kecil, agar anak tahu latar belakang keluarga dan perjalanan hidup atau sejarah keluarga.

7. Mengingat hari istimewa
Ajari anak mengingat hari istimewa kakek-neneknya. Misal kapan mereka berulang tahun, ulang tahun pernikahan, dsb. Dengan cara seperti ini anak belajar menghargai sebuah peristiwa bersejarah dalam keluarga.

8. Ajarkan ketrampilan
Biasanya kakek atau nenek punya ketrampilan khusus, misal membuat origami, ukiran kayu, membatik, membuat wadah ketupat, bordir, dsb. Mereka pasti mau mewariskan ketrampilan itu kepada cucunya. Berikan waktu dan alat-alat yang anak perlukan untuk belajar ketrampilan itu dari kakek-nenek.

9. Ajak ke pertemuan keluarga
Jika memungkinkan, ajak anak ikut serta dalam acara kumpul-kumpul atau arisan keluarga, supaya ia lebih dekat dengan kakek-nenek dan kerabat lainnya.

Dan tentunya masih banyak lagi ya, tetapi paling tidak lakukan bebrapa tips diatas, IsnyaAllah, si Kecil akan tidak akan erasa asing lagi dengan kakek-neneknya.
Thank you for reading Tips Agar Si Kecil Sayang Kakek Nenek

Sunday, January 22, 2017

Do And Don : Dalam Pembentukan Karakter Anak


Assalamualaikum wr wb, salam cerdas kreatif.

Karakter anak adalah pola dasar dan kunci keberhasilan anak. Seperti dalam pembahasan terdahulu tentang 'Bagaimana Membangun Dan Mendidik Karakter Anak', banyak hal yang harus diperhatikan dan dicermati oleh orang tua dalam pembentukan karakter anak.

Apa saja itu?

DO :
  1. Perlakukan anak sesuai dengan kataristik anak itu sendiri.
  2. Memahami bahwa setiap anak itu berbeda dan unik
  3. Berikan kebutuhan dasar anak, seperti:
    • cinta dan kasih sayang,
    • rasa aman dan nyaman,
    • makanan bergizi baik.
  4. Berikan dukungan dan penghargaan saat anak melakukan hal yang baik
  5. Perhatikan pola pendidikan dan dianjurkan senada pola orang tua dan guru
  6. Beri fasilitas lingkungan yang sesuai dengan perkembangan usia anak
  7. Bersikaplah tegas dan konsisten terhadap anak

DON'T :
  1. Jangan paksakan ambisi orang tua kepada anak
  2. Jangan bersikap kasar terhadap anak yang akhirnya hanya akan menimbulkan dampak traumatik
  3. Jangan suka membandingkan anak dengan anak yang lain
  4. Jangan sering berganti dalam penerapan p[ola asuh, yang berakibat pada kepribadian anak
  5. Jangan diam untuk berkomunikasi anak
Thank you for reading Do And Don : Dalam Pembentukan Karakter Anak